Dari agent yang tidak bisa saling bicara hingga lahirnya protokol bersama: timeline A2A dari Google (Apr 2025) ke Linux Foundation, iterasi v0.1 sampai v1.0, serta alasan agent berinteraksi sebagai peer opaque, bukan sebagai tool.

Di episode 0 kita menyiapkan runtime, SDK, dan environment untuk dua agent lokal. Sekarang waktunya menjawab pertanyaan paling mendasar sebelum menulis satu baris kode: kenapa kita butuh protokol seperti A2A sama sekali?
Setiap framework agent modern — LangChain, CrewAI, Google ADK, OpenAI Agents SDK — mampu membangun agent yang pintar. Masalahnya: agent yang dibangun di framework berbeda tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Episode ini mengajak kalian memahami rasa sakit itu, lalu menelusuri bagaimana A2A lahir, berevolusi, dan menjadi standar industri untuk kolaborasi antar agent.
Bayangkan sebuah perusahaan yang sudah memiliki dua sistem: agent penjualan dibangun dengan CrewAI, agent dukungan dibangun dengan Google ADK. Keduanya tidak berbagi kode, tidak berbagi runtime, bahkan tidak berbagi cara mendeskripsikan kemampuan masing-masing.
{
"agent_penjualan": {
"framework": "CrewAI",
"interface": "function call internal",
"state": "memory tersembunyi",
"tools": ["CRM", "email"]
},
"agent_dukungan": {
"framework": "Google ADK",
"interface": "sub-agent ADK",
"state": "memory tersembunyi",
"tools": ["tiket", "base pengetahuan"]
}
}Keduanya sama-sama agent, tetapi tidak ada jembatan. Untuk menghubungkan keduanya, tim harus menulis kustomisasi integrasi untuk setiap pasangan framework — dan kombinasi itu tumbuh secara faktorial seiring bertambahnya agent. Ini persis masalah yang sudah pernah dipecahkan dunia API: kita butuh satu bahasa umum.
A2A pertama kali diumumkan oleh Google pada April 2025 lewat blog developer resmi. Bersama puluhan mitra awal, Google memperkenalkan protokol terbuka agar agent dari vendor mana pun bisa berkolaborasi — analogi yang sering dipakai: jika MCP adalah "USB-C untuk tools", maka A2A adalah "USB-C untuk agent".
Dukungan yang tumbuh cepat membuat proyek ini dilimpahkan ke Linux Foundation pada Juni 2025 — langkah yang sama pernah diambil untuk Kubernetes. Dengan fondasi netral ini, A2A tidak lagi menjadi inisiatif satu vendor, dan governance-nya dipegang komunitas, bukan Google semata.
Setelah pindah ke Linux Foundation, ekosistemnya membengkak. Lebih dari 150 organisasi bergabung, termasuk Google, Microsoft, AWS, Salesforce, SAP, Atlassian, LangChain, dan CrewAI — sinyal kuat bahwa kebutuhan akan protokol bersama memang nyata di pasar. Kategorinya beragam:
cloud & platform : Google, Microsoft, AWS
framework agent : LangChain, CrewAI, Google ADK
enterprise & SaaS : Salesforce, SAP, AtlassianKombinasi vendor cloud, framework, dan enterprise inilah yang membuat A2A tidak sekadar protokol "buatan satu vendor" — ia benar-benar menjadi jembatan lintas produk.
A2A berevolusi cepat. Pahami garis waktunya karena banyak istilah yang akan kita pakai di episode-episode berikutnya:
| Versi | Waktu | Sorotan |
|---|---|---|
| v0.1 | awal 2025 | Fondasi: Agent Card, Task, Message, JSON-RPC |
| v0.2 | 2025 | Penyempurnaan model Task & streaming |
| v0.3 | Jul 2025 | Binding gRPC, security card yang bisa ditandatangani |
| v1.0 | Mar 2026 | Stable: signed agent cards, multi-tenancy, version negotiation |
| v1.0.1 | Mei 2026 | Patch perbaikan minor |
git clone https://github.com/a2aproject/A2A
git tag
v0.1.x
v0.2.x
v0.3.x
v1.0.0
v1.0.1Perhatikan loncatannya: dari v0.3 (Jul 2025) langsung ke v1.0 (Mar 2026) yang dinyatakan stable. Fitur kunci yang hadir di v1.0 — signed agent cards, multi-tenancy, dan version negotiation — akan kita bedah detail di episode 10. Untuk mengecek rilis terbaru secara cepat, jalankan git tag --sort=-creatordate dari folder hasil clone.
Perbedaan filosofis inilah yang paling sering disalahpahami. Ada dua cara menghubungkan entitas AI:
A2A memilih model peer (opaque service). Sebuah remote agent menampilkan dirinya sebagai layanan hitam — yang terlihat hanya interface-nya, bukan isinya. Konsekuensinya penting:
Warning
Jangan mencampurkan peran A2A dan MCP. MCP menghubungkan agent ke tools/data; A2A menghubungkan agent ke agent. Keduanya komplementer — kita akan membandingkan secara utuh di episode terakhir series.
Pemilihan interaksi opaque bukan karena keterbatasan teknis, melainkan kesadaran desain. Di dunia nyata, tim yang membangun agent penjualan tidak akan membuka seluruh logic bisnisnya ke agent pihak ketiga — itu risiko kompetitif sekaligus keamanan.
Dengan opaque, cukup dua hal yang dibutuhkan agar dua agent bekerja sama: kemampuan yang dideskripsikan (Agent Card) dan kontrak komunikasi yang disepakati (Task lifecycle). Semua hal lain boleh tetap rahasia. Inilah yang membuat A2A aman untuk kolaborasi lintas perusahaan, bukan sekadar lintas framework.
Success
Cara terbaik menguji pemahaman episode ini: tulis dua daftar — apa yang boleh agent lain "lihat" dan apa yang tetap privat. A2A dirancang agar daftar kedua selalu lebih panjang.
Inilah inti dari episode 1:
Di episode 2 kita masuk ke jantung arsitektur: peran client agent dan remote agent, konsep Agent Card untuk discovery, lifecycle Task, serta bagaimana JSON-RPC, HTTP, gRPC, dan SSE menjadi binding protokol. Di sanalah semua istilah yang tadi kita singgung mulai terangkai menjadi satu gambar utuh. Sampai jumpa!