Menyelami strategi scaling blockchain: perbandingan rollups Optimistic dan ZK, sidechains, serta praktik men-deploy kontrak ke Layer 2 seperti Base dan Arbitrum

Setelah di episode 20 kalian mengenal ZK, pada episode ini kita menyelami fondasi ekosistem 2026: Layer 2 (L2) dan scaling. Ethereum mainnet saja tidak cukup menampung volume dunia — itulah mengapa hampir semua aplikasi production di 2026 berjalan di L2: Base, Arbitrum, Optimism, zkSync, dan lainnya. Gas yang 10-100x lebih murah dengan keamanan yang mewarisi layer 1.
Episode ini memetakan jenis L2, perbedaan arsitekturnya, dan memandu kalian men-deploy kontrak di L2.
Masalah utama blockchain: trilemma scalability. Meningkatkan ukuran block atau kecepatan di layer 1 akan mengurangi desentralisasi atau keamanan. L2 menyelesaikan ini dengan memindahkan eksekusi keluar dari layer 1, sementara keamanan tetap mewarisi layer 1.
Rollup memposting data dan bukti ke layer 1, yang menjamin keamanan — inilah alasan mengapa kalian mempercayai rollup, bukan operatornya.
Mengasumsikan transaksi valid secara default ("optimistic"), dengan periode challenge di mana siapa pun bisa membuktikan kecurangan (fraud proof):
Memverifikasi batch dengan bukti kriptografi (episode 20) — valid secara matematis, tanpa perlu trust:
| Aspek | Optimistic | ZK |
|---|---|---|
| Verifikasi | Fraud proof (ekonomi) | ZK proof (kriptografi) |
| Finality | Lambat (window 7 hari) | Cepat |
| EVM compatibility | Sangat tinggi | Sedang (berkembang) |
| Kompleksitas | Rendah | Tinggi |
Sidechain adalah chain independen dengan validators sendiri — tidak mewarisi keamanan layer 1. Ini perbedaan krusial:
| Aspek | Rollup | Sidechain |
|---|---|---|
| Keamanan | Mewarisi layer 1 | Validator sidechain sendiri |
| Bridge | Data + proof di L1 | Sering memakai trusted bridge |
| Trust | Minimal | Bergantung validator |
Rollup yang "hack" operatornya tidak bisa mencuri dana (state terverifikasi di L1); sidechain bisa. Inilah mengapa, untuk aplikasi yang memegang aset besar, rollup lebih disukai — dan mengapa episode 13 (bridge risk) tetap relevan.
Kabar baik: men-deploy di L2 EVM sama seperti di Ethereum mainnet — konfigurasi saja yang berbeda. Tambahkan Base dan Arbitrum di Hardhat:
require("@nomicfoundation/hardhat-toolbox");
module.exports = {
solidity: "0.8.24",
networks: {
sepolia: {
url: "https://ethereum-sepolia-rpc.publicnode.com",
accounts: [process.env.PRIVATE_KEY],
},
base: {
url: "https://mainnet.base.org",
accounts: [process.env.PRIVATE_KEY],
},
arbitrum: {
url: "https://arb1.arbitrum.io/rpc",
accounts: [process.env.PRIVATE_KEY],
},
},
};Deploy:
npx hardhat run scripts/deploy.js --network base
npx hardhat run scripts/deploy.js --network arbitrumVerifikasi di explorer masing-masing:
npx hardhat verify <alamat_kontrak> "argumen" --network basePerbedaan yang sering mengejutkan developer baru: token gas di L2. Kalian butuh ETH — bukan token lain — untuk membayar gas di Base, Arbitrum, dan Optimism, karena semua menerima ETH sebagai gas.
Note
Di 2026 ada tren menuju L3 dan app-chains — chain khusus untuk satu aplikasi di atas L2 (misal game atau exchange). Model ini muncul dari kebutuhan: biaya yang bisa diprediksi dan throughput yang terjamin. Konsep scaling yang kalian pelajari di sini berlaku persis di lapisan berikutnya.
Saat aplikasi kalian memilih L2, gunakan kerangka ini:
1. Gas & throughput → cukup untuk beban transaksi kalian?
2. EVM compatibility → semua dependency/plugin jalan?
3. Bridge & likuiditas → aset apa yang tersedia di L2 itu?
4. Finality → seberapa cepat pengguna butuh konfirmasi?
5. Ekosistem → apakah target pengguna berada di L2 itu?
6. Tooling → explorer, faucet, subgraph tersedia?Deploy test: deploy kontrak yang sama di Base, Arbitrum, dan zkSync, lalu bandingkan gas dan UX. Kontrak yang berjalan mulus di semua = portofolio kalian makin fleksibel.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 22 selanjutnya kita membangun pemerintahan terdesentralisasi — DAOs & Governance: governance tokens, on-chain voting, dan treasury. Mari lanjut ke episode 22!