Sebelum merancang arsitektur apa pun, kalian wajib menguasai cloud hands-on, networking, security, dan trade-off reasoning. Di episode ini kalian menyiapkan akun cloud & sandbox, diagram tools seperti draw.io, dan lab environment dengan Terraform, Docker, serta Kubernetes untuk praktik sepanjang series

Selamat datang di series Belajar Cloud Architect! Series ini akan membawa kalian dari Cloud/DevOps engineer menjadi arsitek yang mampu merancang arsitektur cloud yang scalable, aman, cost-efficient, dan reliable — dengan total 28 episode yang tersusun dalam enam fase, dari prinsip arsitektur sampai ekosistem modern 2026.
Seorang cloud architect berbeda dari engineer: engineer membuat sistem bekerja, arsitek membuat sistem memenuhi tujuan bisnis dengan menyeimbangkan trade-offs. Karena itu, sebelum menyentuh diagram atau Terraform, ada empat fondasi yang wajib kalian miliki. Episode 0 ini adalah peta jalan: kita pastikan skill dasar terpenuhi, siapkan akun cloud dan sandbox, pasang diagram tools, lalu verifikasi lab environment untuk pertama kali.
Kalian tidak bisa merancang arsitektur tanpa pernah membangun dan mengoperasikannya. Wajib nyaman dengan minimal satu provider cloud (AWS, GCP, atau Azure): membuat resource lewat CLI dan dashboard, memahami VPC, instance, storage, dan IAM, serta membangun ulang semuanya dari kode. Seri Belajar Cloud Engineer adalah prasyarat paling dekat — jika belum, selesaikan dulu atau gunakan episode-episodenya sebagai rujukan.
Arsitektur cloud berdiri di atas jaringan virtual: VPC, CIDR, subnet publik/privat, route table, NAT, peering, load balancer, dan DNS. Kalian wajib memahami CIDR notation (10.0.0.0/16), perbedaan subnet publik vs privat, serta bagaimana traffic mengalir antar lapisan. Episode 6 akan menguji semua ini.
Kalian tidak bisa menyerahkan desain keamanan ke orang lain. Wajib paham model IAM, prinsip least privilege, encryption at rest & in transit, dan cara membaca threat model. Bukan berarti kalian harus jadi pentester — tapi wajib bisa menjawab pertanyaan "siapa boleh mengakses apa, dari mana, dan kenapa?"
Ini pembeda utama arsitek. Setiap keputusan arsitektur adalah pengorbanan: murah tapi lambat, cepat tapi mahal, aman tapi kompleks. Kalian wajib nyaman menganalisis pilihan dengan parameter yang jelas — cost, latency, reliability, operational overhead — dan mampu mendokumentasikan alasannya. Kita akan melatih ini hampir di setiap episode, dimulai dari episode 3.
Tip
Empat skill di atas tidak harus sempurna di episode 0 — tapi wajib ada dan terus diasah. Jika networking atau security masih terasa asing, luangkan waktu untuk mempraktikkan di lab sebelum lanjut ke fase 2. Series ini mengasumsikan kalian nyaman, bukan pemula total.
Setiap provider menawarkan free tier yang cukup untuk eksperimen arsitektur:
| Provider | Free Tier Utama | Cocok Untuk |
|---|---|---|
| AWS | 750 jam EC2/bulan, 5 GB S3, Lambda gratis | Referensi utama series ini |
| GCP | VM e2-micro, Cloud Storage, Cloud Functions | Multi-provider & AI (episode 16-17) |
| Azure | 750 jam B-series VM, Functions | Integrasi Microsoft ecosystem |
Untuk eksperimen yang berisiko menghabiskan biaya, gunakan sandbox seperti lab latihan resmi provider atau environment yang bisa di-reset. Aktifkan billing alert sejak hari pertama — eksperimen arsitektur sering kali menciptakan resource yang terlupakan.
Arsitek menghabiskan waktu menggambar arsitektur. Siapkan draw.io (diagrams.net) untuk diagram resmi, dan jangan lupa Mermaid — karena semua episode series ini menggambar diagram langsung dalam kode MDX yang bisa dirender. Latih menggambar tiga komponen dasar: kotak (service), garis (traffic), dan cluster (boundary).
Agar praktik episode 11 (IaC), episode 13 (serverless), dan episode 14 (Kubernetes) berjalan mulus, install tooling berikut:
sudo apt install terraform # dari repo HashiCorp
# atau alternatif open source:
# opentofucurl -fsSL https://get.docker.com | sh
docker versioncurl "https://awscli.amazonaws.com/awscli-exe-linux-x86_64.zip" -o "awscliv2.zip"
unzip awscliv2.zip && sudo ./aws/install
aws --versionJalankan verifikasi menyeluruh sebelum lanjut:
aws sts get-caller-identity
docker info --format '{{.ServerVersion}}'
terraform versionJika perintah di atas berhasil tanpa error, environment kalian siap. aws sts get-caller-identity memastikan kredensial dan akun aktif; docker info memastikan daemon berjalan; terraform version memastikan IaC siap dipakai.
Rangkuman yang sudah kalian siapkan di episode 0:
Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi. Perjalanan 27 episode ke depan akan jauh lebih lancar dengan pijakan yang kuat ini.
Inti yang harus dibawa pulang:
aws sts get-caller-identity, docker info, dan terraform version.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas peran, tanggung jawab, dan level — mengapa cloud architect kini praktik berkelanjutan, perbedaan Solutions Architect vs Cloud Architect vs Enterprise Architect, dan keterampilan lintas-fungsi yang wajib dimiliki. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Cloud Architect baru saja dimulai!