Belajar Cloud Architect - Prinsip & Framework Arsitektur
Episode 2 of 28

Belajar Cloud Architect - Prinsip & Framework Arsitektur

AWS Well-Architected, Google Cloud Architecture Framework, dan Azure Well-Architected Framework menyediakan pillar yang hampir sama: reliability, security, cost, performance, dan operational excellence. Episode ini membandingkan ketiganya dan menerapkan pillars pada workload nyata melalui workload assessment

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 1 kita memahami peran arsitek, muncul pertanyaan besar: apa acuan untuk menilai sebuah arsitektur itu baik? Tanpa acuan, "bagus" hanya soal selera — dan selera tidak bisa diaudit.

Tiga provider cloud besar menjawabnya dengan framework arsitektur resmi: AWS Well-Architected Framework, Google Cloud Architecture Framework, dan Azure Well-Architected Framework. Ketiganya menyediakan pillar (pilar) yang hampir sama — karena praktik baik arsitektur cloud memang konvergen. Episode ini membandingkan ketiganya dan menunjukkan cara menerapkan pillars pada workload nyata.

Mengapa Framework Arsitektur Ada

Framework ada untuk dua alasan. Pertama, mengubah pengetahuan implisit menjadi eksplisit: alih-alih mengandalkan "insting" arsitek senior, organisasi punya daftar pertanyaan yang bisa diajukan ke setiap workload. Kedua, menyediakan bahasa bersama: tim bisa bilang "arsitektur ini gagal di pillar reliability" dan semua orang langsung mengerti.

Ini penting karena arsitektur bukan peristiwa satu kali — ia perlu ditinjau ulang seiring workload berubah. Framework memberi struktur untuk review berkala (episode 23).

Tiga Framework Utama

AWS Well-Architected Framework

Framework paling dikenal, dengan enam pillar:

PillarPertanyaan Kunci
Operational ExcellenceApakah sistem bisa dijalankan, dipantau, dan di-improve secara kontinu?
SecurityApakah data dan sistem terlindungi, dengan kontrol dan audit?
ReliabilityApakah sistem pulih dari kegagalan dan memenuhi permintaan?
Performance EfficiencyApakah sistem memakai resource secara efisien dan memenuhi kebutuhan?
Cost OptimizationApakah sistem menghindari biaya yang tidak perlu?
SustainabilityApakah dampak lingkungan diminimalkan?

AWS menyediakan Well-Architected Tool di konsol untuk melakukan review workload terhadap pillars ini — kita akan memakainya sebagai latihan di bagian praktik.

Google Cloud Architecture Framework

Google merancang framework dengan enam kategori yang orientasinya praktis:

  • System design — pilihan komponen, data, dan interaksinya.
  • Operational excellence — bisa dipantau, diuji, di-deploy dengan aman.
  • Security, privacy, compliance — identitas, data, dan kepatuhan.
  • Reliability — berkelanjutan beroperasi di tengah kegagalan.
  • Cost optimization — biaya efisien dan terkendali.
  • Performance optimization — latency dan throughput sesuai kebutuhan.

Perbedaan mencolok: Google memisahkan privacy & compliance sebagai bagian dari kategori keamanan, dan menempatkan system design sebagai kategori pertama yang menekankan pilihan komponen — relevan dengan banyaknya service managed di GCP.

Azure Well-Architected Framework

Azure memakai lima pillar, dan menambahkan Microsoft Cloud Adoption Framework sebagai pendampingnya:

PillarFokus
ReliabilityDesain yang bisa pulih dari kegagalan
SecurityLindungi data, aplikasi, dan infrastruktur
Cost OptimizationKelola dan optimasi biaya
Operational ExcellenceProses operasional yang baik dan otomatis
Performance EfficiencyResource efisien sesuai beban

Keunggulan Azure: dokumentasinya menekankan trade-off antar pillar — misalnya dokumen "tradeoffs" yang menjelaskan bahwa security yang ketat bisa menambah latency. Ini sejalan dengan tema series kita di episode 3.

Kesamaan: Pola yang Konvergen

Terlepas dari perbedaan nama, ada lima pola yang selalu muncul:

  • Reliability/Resilience — toleransi kegagalan, recovery, backup.
  • Security — defense in depth, least privilege, encryption.
  • Cost/FinOps — efisiensi biaya sebagai bagian desain.
  • Performance — latency, throughput, resource yang proporsional.
  • Operational Excellence/Ops — observability, automation, IaC.

Artinya: kalian tidak perlu menghafal tiga framework. Cukup kuasai lima domain di atas dengan baik, lalu pelajari perbedaan kecil tiap provider saat dibutuhkan. Tabel di episode 1 tentang level arsitek berlaku juga di sini — framework adalah bahasa yang sama untuk semua level.

Note

Sustainability adalah pembeda: AWS menjadikannya pillar keenam, sementara Azure dan Google menggabungkannya ke pillar lain (cost/ops). Ini bukan sekadar pemasaran — desain yang hemat energi biasanya juga hemat biaya, jadi pillar ini layak dipertimbangkan serius.

Praktik: Workload Assessment

Cara menerapkan pillars: lakukan assessment dengan pertanyaan tajam per pillar. Contoh untuk workload API sederhana:

Contoh pertanyaan assessment per pillar
Reliability : Apakah API punya multi-AZ? Ada retry & circuit breaker?
Security    : Apakah endpoint memakai TLS? IAM least privilege?
Cost        : Apakah idle resource ada? Serverless lebih murah?
Performance : Apakah response time & cache sudah diukur?
Ops         : Apakah ada logging, metrics, dan alerting otomatis?

Lakukan assessment tiap workload saat masih desain dan ulangi secara berkala. Hasilnya berupa daftar temuan (findings) yang bisa diurutkan berdasarkan risiko — inilah bahan utama architecture review di episode 23.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • AWS, Google, dan Azure punya framework arsitektur dengan pillar yang hampir sama.
  • Lima domain inti: reliability, security, cost, performance, dan operational excellence.
  • Framework memberi bahasa bersama dan struktur review — bukan aturan kaku.
  • Praktikkan dengan workload assessment: ajukan pertanyaan tajam per pillar.

Di episode 3 selanjutnya kita akan membahas design trade-offs & decision making — cost vs reliability vs performance, latency vs consistency, monolith vs microservices, serta cara mendokumentasikan keputusan dengan ADR (Architecture Decision Record). Sampai jumpa di episode 3!