Belajar Cloud Engineer - Migration to Cloud
Episode 17 of 28

Belajar Cloud Engineer - Migration to Cloud

Memindahkan aplikasi yang sudah berjalan ke cloud adalah proyek penuh risiko: salah strategi, downtime dan data hilang. Kalian mempelajari proses migrasi profesional — assessment, strategi 6R, lift-and-shift vs re-platform, dan data migration — lalu menyusun rencana migrasi untuk aplikasi nyata beserta rollback plan-nya.

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Sejauh ini kalian membangun aplikasi baru di cloud dari nol — menyenangkan karena tidak ada beban masa lalu. Di dunia kerja, tantangan sesungguhnya berbeda: memindahkan sistem yang sudah berjalan 10 tahun di datacenter sendiri ke cloud, tanpa menghentikan bisnis. Di sinilah reputasi seorang cloud engineer diuji.

Episode 17 membahas migration to cloud: cara menilai aplikasi (assessment), lima strategi besar yang dikenal sebagai 6R, perbedaan lift-and-shift vs re-platform, dan data migration yang aman. Kalian akan menyusun rencana migrasi untuk satu aplikasi nyata — lengkap dengan jadwal, kriteria sukses, dan rollback plan.

Assessment: Kenali Dulu Sebelum Memindah

Kesalahan terbesar tim migrasi pemula: langsung memindahkan semuanya. Migrasi yang baik dimulai dengan assessment — memetakan aplikasi sebelum menyentuh apa pun. Data yang dikumpulkan per aplikasi:

AspekPertanyaan kunci
ArsitekturBerapa komponen? Bagaimana komunikasinya?
DependensiDatabase apa? External API? File system bersama?
BebanTrafik puncak kapan? Utilisasi normal berapa?
DataBerapa ukurannya? Seberapa sensitif? (episode 15)
SLABerapa downtime maksimal yang diterima?
KepatuhanAda regulasi yang membatasi lokasi data?

Hasilnya adalah inventarisasi aplikasi + skor kesiapan. Aplikasi yang siap (architecturanya sederhana) masuk batch pertama; yang kompleks ditunda. Aturan penting: jangan memigrasi aplikasi yang masih berubah-ubah — migrasikan versi yang stabil, lalu lanjutkan pengembangan di cloud.

Strategi 6R

Pilihan strategi migrasi bukan satu, melainkan enam — dan memilih dengan tepat adalah kompetensi inti:

StrategiDeskripsiKapan dipakai
Rehost (lift-and-shift)Pindah apa adanya ke VM cloudPaling cepat, lisensi/mainframe
ReplatformPindah + optimasi ringan (pakai managed DB)Ingin manfaat cloud cepat
RepurchaseGanti dengan SaaS (contoh: ERP → Salesforce)Fitur standar sudah cukup
Refactor (re-architect)Tulis ulang jadi cloud-nativeButuh skala/serveless (episode 11)
RetainBiarkan tetap on-premRegulasi, biaya, atau prioritas
RetireHapus — ternyata tidak dipakaiHemat paling besar, sering terlupakan

Urutan hemat vs usaha: Retire dan Retain paling murah (mungkin bahkan tidak perlu migrasi); Refactor paling mahal tapi memberi hasil paling besar untuk aplikasi yang sedang berkembang.

Note

Pemula sering menganggap "migrasi = lift-and-shift". Padahal lift-and-shift justru memindahkan masalah: arsitektur lama yang rapuh hanya berpindah alamat. Gunakan lift-and-shift sebagai langkah cepat awal, lalu ikuti dengan re-platform bertahap — pola "migrasi berlapis" ini paling banyak dipakai di industri.

Lift-and-Shift vs Re-platform

Dua strategi yang paling sering dibandingkan:

Lift-and-shift (rehost) — VM on-prem menjadi VM cloud dengan konfigurasi serupa. Cepat (minggu), risiko kecil, tapi belum memanfaatkan apa pun dari cloud: tidak ada auto-scaling, tidak ada managed service, biaya bisa lebih tinggi daripada on-prem.

Re-platform — pindah sambil mengganti beberapa komponen:

Sebelum (on-prem)Sesudah (re-platform)
PostgreSQL sendiri di VMRDS / Cloud SQL (managed)
Nginx + VM untuk statisObject storage + CDN
Cron di serverFunction + scheduler

Re-platform memberi manfaat nyata (managed backup, scaling, patching otomatis) dengan usaha sedang. Untuk aplikasi yang diharapkan bertahan 3-5 tahun, re-platform hampir selalu lebih baik daripada lift-and-shift murni.

Data Migration

Memindahkan data adalah bagian paling berisiko — ukuran besar, downtime, dan risiko kehilangan. Pola yang benar:

  1. Baseline — salin data awal (full copy).
  2. Sync berkelanjutan — replikasi perubahan selama transisi (CDC / log shipping).
  3. Cutover — hentikan aplikasi lama sesaat, sinkronkan perubahan terakhir, alihkan trafik.
  4. Verifikasi — cek jumlah baris, checksum, dan sample query sebelum menyatakan sukses.
Contoh alur migrasi database (konseptual)
# 1. Full baseline ke target (DMS / Data Transfer Service)
# 2. Replikasi perubahan berkelanjutan
# 3. Cutover: hentikan app, flush sisa perubahan
# 4. Verifikasi jumlah record kedua sisi
SELECT count(*) FROM orders;   -- on-prem
SELECT count(*) FROM orders;   -- cloud (harus sama)

Untuk dataset raksasa (petabyte), ada opsi fisik: AWS Snowball / Azure Data Box / GCP Transfer Appliance — kirim hard disk berisi data ke datacenter provider, jauh lebih cepat daripada transfer internet. "Cloud" tidak selalu berarti "lewat internet".

Praktik: Rencana Migrasi Aplikasi

Mari susun rencana migrasi untuk aplikasi lab-ecommerce (yang kita bangun sejak episode 3-5): web server di VM, PostgreSQL di server sendiri, dan cron job harian.

  1. Assessment: arsitektur 3 komponen, beban trafik menengah, SLA downtime maksimal 4 jam, data 50 GB.
  2. Pilih strategi: re-platform — web di VM dengan auto-scaling nanti (episode 21), database ke managed DB, cron ke function + scheduler.
  3. Susun jadwal (cutover di luar jam puncak, misal Minggu 02:00):
    • Minggu 1: siapkan target (VPC, DB managed, VM, IAM).
    • Minggu 2: data migration baseline + sync.
    • Minggu 3: uji aplikasi terhadap DB baru; buat rollback plan.
    • Minggu 4: cutover, verifikasi, lalu retire VM lama.
  4. Kriteria sukses: response time setara atau lebih baik, data 100% sama, tidak ada fungsi yang hilang.
  5. Rollback plan: snapshot dan DNS cutover ganda — jika satu jam pertama bermasalah, kembalikan DNS ke infrastruktur lama.
Checklist cutover (fragmen)
cutover:
  persiapan:
    - snapshot DB sumber
    - pause cron & writer pada app lama
    - pastikan sync replication lag = 0
  eksekusi:
    - switch DNS/web ke target cloud
    - resume writer
  verifikasi:
    - healthcheck: 200 OK
    - perbandingan jumlah record DB
    - review log error 1 jam pertama
  rollback:
    - jika gagal: switch DNS kembali ke sumber
    - target ditahan (bukan dihapus) sampai stabil 48 jam

Aturan emas migrasi: rollback plan bukan opsional — jika tidak bisa dikembalikan, jangan mulai. "Tidak perlu rollback" adalah kalimat yang tidak pernah boleh diucapkan di depan cutover.

Kesalahan Umum (Common Pitfalls)

  1. Migrasi tanpa assessment — memindahkan aplikasi yang seharusnya di-retire atau di-refactor.
  2. Lift-and-shift sebagai satu-satunya strategi — masalah lama hanya pindah alamat.
  3. Cutover di jam sibuk — downtime bisnis maksimal; selalu pilih jendela paling sepi.
  4. Tanpa rollback plan — satu kegagalan menjadi bencana; DNS ganda + snapshot adalah jaring pengaman.
  5. Migrasi data tanpa verifikasi — beda satu baris pun bisa merusak laporan; selisihkan dua sisi sebelum sukses.
  6. Memindahkan aplikasi yang masih aktif dikembangkan — versi bergerak yang tidak pernah stabil untuk cutover.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Migrasi dimulai dari assessment, bukan dari memindahkan.
  • Pilih dari 6R: Rehost, Replatform, Repurchase, Refactor, Retain, Retire — beda konteks, beda pilihan.
  • Re-platform hampir selalu lebih baik daripada lift-and-shift murni untuk aplikasi jangka panjang.
  • Data migration pakai pola baseline → sync → cutover → verifikasi.
  • Rollback plan adalah syarat mutlak sebelum cutover apa pun.

Di episode 18 selanjutnya kita akan naik ke lapisan konektivitas antar-datacenter: cloud networking lanjutan — Transit Gateway, VPN & Direct Connect, PrivateLink, dan CDN, lalu membangun konektivitas hybrid antara cloud dan jaringan on-prem. Sampai jumpa di episode 18!

Belajar Cloud Engineer - Migration to Cloud | Belajar Cloud Engineer