Memahami bagaimana hyperscaler membangun infrastruktur global: region, availability zone, dan edge location, serta mengapa struktur fisik ini menentukan desain aplikasi yang ha-high availability. Juga membandingkan AWS, GCP, dan Azure — peta layanan, perbedaan konsep, dan cara menerjemahkan service antar-provider.

Setelah di episode 1 kita memahami peran Cloud Engineer, model layanan (IaaS/PaaS/SaaS), dan sejarah evolusi cloud, pada episode ini kita masuk ke peta fisik dan logis dari dunia cloud: region, availability zone, dan edge location. Ini adalah fondasi yang akan kalian pakai di hampir setiap keputusan arsitektur — dari memilih VM (episode 3) sampai desain disaster recovery (episode 20).
Mengapa struktur fisik penting? Karena cloud adalah ilusi yang dibuat dari datacenter nyata. Ketika kalian memilih region atau availability zone, kalian sedang memilih di mana hardware fisik berada, seberapa jauh dari pengguna, dan seberapa tahan kalian terhadap bencana. Cloud engineer yang memahami lapisan ini tidak akan membuat kesalahan klasik: "aplikasi saya down karena seluruh AZ-nya ikut down".
Region adalah wilayah geografis yang berisi satu atau lebih datacenter, contoh: us-east-1 (AWS Virginia), asia-southeast1 (GCP Jakarta), eastus (Azure Virginia). Setiap region itu independen: data tidak berpindah antar-region kecuali kalian menyalinnya secara eksplisit.
Pemilihan region ditentukan oleh tiga hal:
Di dalam satu region, terdapat 2-6 availability zone. Satu AZ adalah satu atau lebih datacenter dengan listrik, jaringan, dan pendinginan independen, yang saling terhubung dengan kabel latency rendah. AZ dibuat untuk menjawab satu pertanyaan: "apakah aplikasi saya masih hidup jika satu datacenter terbakar?"
Jawabannya: ya, jika aplikasi tersebar di beberapa AZ. Inilah konsep multi-AZ high availability yang akan menjadi tema episode 21.
Selain region, provider punya edge location — titik cache di ratusan kota yang mempercepat konten statis (CDN) dan fungsi komputasi edge. AWS menyebutnya CloudFront PoP, GCP Cloud CDN, Azure Front Door/CDN. Di sinilah episode 24 (edge computing) akan bermain.
Tiga hyperscaler utama memiliki model bisnis dan nama layanan berbeda, tapi konsep dasarnya identik. Hal pertama yang harus kalian biasakan adalah memetakan layanan antar-provider:
| Konsep | AWS | GCP | Azure |
|---|---|---|---|
| VM | EC2 | Compute Engine | Virtual Machines |
| Object storage | S3 | Cloud Storage | Blob Storage |
| Managed database | RDS | Cloud SQL | Azure SQL |
| Serverless function | Lambda | Cloud Functions | Functions |
| Kubernetes managed | EKS | GKE | AKS |
| VPC/jaringan | VPC | VPC | Virtual Network |
| Message queue | SQS | Pub/Sub | Service Bus |
| Object/NoSQL DB | DynamoDB | Firestore/Bigtable | Cosmos DB |
| Identity | IAM | IAM/Cloud IAM | Entra ID (Azure AD) |
Perbedaan yang perlu dipahami, bukan sekadar nama:
Tip
Jangan terpaku pada "mana yang terbaik" — ketiganya setara secara kemampuan inti. Belajarlah konsep di satu provider (direkomendasikan AWS karena dokumentasi dan katalognya terlengkap), lalu terjemahkan ke provider lain pakai tabel pemetaan di atas. Setiap episode series ini akan selalu menampilkan ketiganya.
Kalian akan terus bertemu string region seperti ap-southeast-1, asia-southeast2, atau southeastasia. Struktur penamaannya:
| Provider | Contoh | Format |
|---|---|---|
| AWS | ap-southeast-1 | area-area-nomor (ap = Asia Pacific) |
| GCP | asia-southeast2 | region-kota-nomor |
| Azure | southeastasia | nama kota/geografi |
Identitas resource juga berbeda: AWS memakai ARN (arn:aws:ec2:ap-southeast-1:123456789012:instance/i-0abc), GCP memakai project id + resource path, Azure memakai resource id (/subscriptions/{sub}/resourceGroups/{rg}/providers/Microsoft.Compute/virtualMachines/{vm}). Cek project aktif dan region default kalian:
aws configure list
aws ec2 describe-regions --query "Regions[].RegionName"gcloud config get-value project
gcloud compute zones list --limit 5az account show --output table
az account list-locations -o tableLatihan praktis pertama kalian sebagai calon Cloud Engineer: buat peta layanan yang dibutuhkan untuk aplikasi web sederhana (frontend + API + database + upload file), lalu carikan padanannya di AWS, GCP, dan Azure. Contoh minimal:
Kerjakan di tabel sendiri, lalu verifikasi dengan membaca halaman pricing masing-masing service di region terdekat kalian (untuk Indonesia: ap-southeast-1 atau asia-southeast2). Latihan ini melatih kemampuan pemetaan konsep lintas-provider yang akan sangat berguna di episode 22 (multi-cloud).
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 3 selanjutnya kita akan masuk ke praktik pertama yang sesungguhnya: compute — membuat VM (EC2/Compute Engine/Azure VM), memahami instance type dan lifecycle, lalu men-deploy function serverless pertama kalian. Sampai jumpa di episode 3!