Belajar Cloud Engineer - Backup & Disaster Recovery Cloud
Episode 20 of 28

Belajar Cloud Engineer - Backup & Disaster Recovery Cloud

Bencana bukan "jika" tapi "kapan": region mati, data terhapus, atau kesalahan konfigurasi bisa melumpuhkan bisnis. Kalian mempelajari RPO/RTO sebagai bahasa kesepakatan, cross-region replication, backup berlapis, dan DR strategies, lalu melakukan simulasi DR untuk membuktikan infrastruktur kalian benar-benar bisa bangkit kembali.

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Di episode 17 kita memigrasi aplikasi ke cloud, dan di episode 19 mengamankan aksesnya. Tapi ada satu pertanyaan yang belum terjawab: apa yang terjadi jika region cloud kalian mati? Ini bukan teori — outage region pernah terjadi di semua provider besar, dan perusahaan yang tidak siap kehilangan data serta reputasi dalam hitungan jam.

Episode 20 membahas backup & disaster recovery (DR): dua konsep yang sering dicampur tapi beda. Backup melindungi dari kesalahan manusia dan korupsi data. DR melindungi dari kegagalan infrastruktur skala besar. Kalian akan belajar RPO/RTO, cross-region replication, pola DR yang berbeda, lalu melakukan simulasi DR — latihan membuktikan bahwa infrastruktur bisa bangkit kembali.

Backup vs Disaster Recovery

Keduanya punya tujuan berbeda, dan mencampurnya adalah kesalahan umum:

BackupDisaster Recovery
Melindungi dariKesalahan manusia, data korup, malwareKegagalan skala besar (region, datacenter)
SkalaSebagian kecil sistemSeluruh environment
SasaranMemulihkan dataMemulihkan sistem berjalan
Pertanyaan"Bisa kembalikan datanya?""Bisa hidup lagi kapan?"

Backup tanpa DR = data aman, tapi aplikasi tidak kembali. DR tanpa backup = sistem kembali, tapi datanya sudah lama. Keduanya wajib.

Bahasa Kesepakatan: RPO dan RTO

Dua angka inilah bahasa yang dipakai seluruh industri untuk menyepakati target:

  • RPO (Recovery Point Objective) — seberapa banyak data yang boleh hilang (diukur mundur dari saat bencana). RPO 1 jam = maksimal kehilangan data 1 jam terakhir. Menentukan frekuensi backup/replikasi.
  • RTO (Recovery Time Objective) — seberapa cepat sistem harus pulih. RTO 4 jam = sistem harus hidup dalam 4 jam. Menentukan otomasi recovery yang dibutuhkan.
100%

Aturan praktis: semakin kecil RPO/RTO, semakin mahal. RPO 0 (nol detik kehilangan data) butuh sinkronous replication — mahal dan latensinya berpengaruh. RPO 1 hari (backup harian) murah. Cloud engineer tidak menuntut "nol semua", melainkan memilih angka yang sepadan dengan nilai bisnis.

Cross-Region Replication

Langkah pertama DR: data tidak boleh tinggal di satu lokasi fisik. Cross-region replication menyalin data ke region kedua secara otomatis:

ProviderObject storageDatabase
AWSS3 cross-region replicationRDS cross-region read replica
GCPCloud Storage regional → dual-region/multi-regionCloud SQL replica lintas region
AzureBlob GRS (geo-redundant)SQL Database geo-replication
Aktifkan cross-region replication S3
aws s3api put-bucket-replication \
  --bucket lab-static-assets \
  --replication-configuration file://replication.json

replication.json berisi bucket target di region kedua dan role IAM yang boleh menyalin. Setelah aktif, setiap objek baru otomatis disalin — kalian tidak perlu ingat melakukannya manual (episode 8: automasi adalah kebiasaan).

Untuk database, read replica lintas region tidak hanya untuk DR — ia juga melayani trafik baca region lain. Upgrade ke full DR membutuhkan promote replica menjadi primary saat bencana (proses yang harus didokumentasikan dan dilatih).

Pola Disaster Recovery

Ada beberapa pola DR dengan biaya dan kecepatan berbeda:

PolaRTOCaraBiaya
Backup & RestoreJam–hariBackup ke region lain, restore saat bencanaTerendah
Pilot LightMenit–jamKomponen inti selalu hidup di region kedua, lainnya nyala saat DRRendah–sedang
Warm StandbyMenitEnvironment region kedua selalu hidup dengan kapasitas minimalSedang
Multi-Site Active-ActiveDetikKedua region melayani trafik nyataTertinggi

Tidak ada pola terbaik — hanya pola yang sesuai RPO/RTO dan budget. Aplikasi lab kalian mungkin cukup backup & restore; aplikasi bank butuh multi-site.

Note

Perhatikan benang merah dengan episode 7 dan 14: DR yang baik adalah DR yang bisa diotomasi. Infrastruktur-as-code memungkinkan membangun kembali environment di region kedua dalam hitungan menit (terraform apply), dan pipeline memastikan aplikasi ter-deploy konsisten. Tanpa IaC, DR selalu bergantung pada manusia yang hafal cara membuat semuanya dari nol — berisiko tinggi saat panik.

Backup Berlapis dan Retensi

Backup yang baik memakai prinsip 3-2-1: tiga salinan data, di dua media berbeda, satu di lokasi off-site. Di cloud, pola ini berarti:

  1. Snapshot berkala (VM, database) — cadangan konsisten.
  2. Replikasi ke region lain — lapisan off-site.
  3. Immutability / WORM — backup yang tidak bisa diubah atau dihapus (bahkan oleh admin), untuk melindungi dari ransomware dan kesalahan.
Snapshot VM dengan jadwal dan retensi (konsep)
# Snapshot EBS harian, simpan 7 hari, replikasi ke region kedua
# diotomasi lewat lifecycle policy (AWS DLM / GCP snapshots / Azure)
aws dlm create-lifecycle-policy --policy-details file://dlm.json

Retensi juga butuh keputusan: berapa lama backup disimpan? Aturan umum — jangka pendek (hari) murah dan sering; jangka panjang (bulan/tahun) mahal. Backup bulanan yang disimpan 1 tahun cukup untuk audit; backup per-15-menit tidak perlu disimpan setahun.

Praktik: Simulasi DR Cloud

DR yang tidak pernah diuji adalah DR yang tidak ada. Simulasi DR (DR drill) untuk aplikasi lab-ecommerce:

  1. Tetapkan target: RPO 1 jam, RTO 4 jam.
  2. Siapkan region kedua: bucket dengan replikasi, snapshot VM yang di-replikasi, dan Terraform (episode 7) untuk environment cadangan.
  3. Dokumentasikan runbook — langkah demi langkah: promote database, deploy aplikasi, alihkan DNS.
  4. Jalankan simulasi: bayangkan region utama mati, ikuti runbook dari awal, ukur waktunya.
  5. Verifikasi hasil: bandingkan data terakhir (RPO), catat waktu pemulihan (RTO), dan temukan langkah yang gagal.
  6. Perbaiki dan ulangi — simulasi pertama pasti menemukan kelemahan; itulah gunanya.
Runbook DR (fragmen)
dr-runbook:
  target: rpo 1 jam / rto 4 jam
  langkah:
    - promote read replica jadi primary  # RTO: +10 menit
    - terraform apply environment-cadangan # RTO: +40 menit
    - deploy aplikasi lewat pipeline       # RTO: +15 menit
    - switch DNS ke region kedua           # RTO: +5 menit
    - verifikasi healthcheck & data        # RTO: +15 menit
  catatan:
    - semua perintah dijalankan pipeline, bukan manual
    - rollback = kembalikan DNS ke region utama

Aturan emas: DR drill harus sering (minimal kuartalan), dan setiap drill menghasilkan perbaikan runbook. Kalian akan menyadari bahwa kegagalan DR hampir selalu karena hal sepele yang tidak pernah diuji: DNS cache, permission IAM di region kedua, atau endpoint yang hardcode region.

Kesalahan Umum (Common Pitfalls)

  1. Menganggap backup sebagai DR — data aman tapi sistem tidak pernah kembali (RTO tak terdefinisi).
  2. RPO/RTO tidak disepakati — target samar = arsitektur DR tidak pernah selesai.
  3. Backup satu lokasi — menghapus snapshot lama di region yang sama dengan sumber; off-site replication wajib.
  4. DR tanpa IaC — membangun ulang environment manual saat panik = recipe bencana (episode 7, 14).
  5. Runbook tidak diuji — pertama kali runbook dijalankan adalah saat bencana nyata; latih dulu.
  6. Backup tanpa retensi policy — biaya storage backup membengkak (episode 16); tetapkan retensi sejak awal.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Backup melindungi data, DR melindungi sistem berjalan — dua hal berbeda, dua-duanya wajib.
  • RPO/RTO adalah bahasa kesepakatan; target menentukan arsitektur dan biaya.
  • Cross-region replication membuat data tidak bergantung pada satu lokasi fisik.
  • Pola DR: backup-restore → pilot light → warm standby → active-active, pilih sesuai budget.
  • DR drill adalah satu-satunya cara membuktikan DR bekerja — dan IaC adalah fondasinya.

Di episode 21 selanjutnya kita akan membuat infrastruktur yang tidak cuma selamat dari bencana, tapi juga menyesuaikan diri: auto-scaling & reliability — auto-scaling groups, target tracking, dan arsitektur multi-AZ high availability, lalu menerapkan auto-scaling untuk produksi. Sampai jumpa di episode 21!

Belajar Cloud Engineer - Backup & Disaster Recovery Cloud | Belajar Cloud Engineer