Sebelum masuk ke dunia cloud native, kalian perlu memahami dasar container, Kubernetes, open source, dan cloud computing. Di episode ini kalian menyiapkan lingkungan belajar yang minim alat dan melihat peta jalan enam fase yang membawa kalian sampai episode 22.

Selamat datang di series Belajar Cloud Native & CNCF! Series ini mengajak kalian memahami salah satu ekosistem open source paling berpengaruh di dunia teknologi modern: cloud native dan Cloud Native Computing Foundation (CNCF). Berbeda dari series praktik lainnya, series ini bersifat konseptual — tujuannya membangun wawasan yang utuh, bukan keterampilan operasional.
Mengapa episode 0 penting? Karena istilah seperti container, Kubernetes, dan open source sering dipakai tanpa makna yang jelas. Sebelum membedah sejarah CNCF di episode 1, katalog proyeknya di episode 5 dan 6, sampai sertifikasi di episode 9, kalian perlu pijakan kosakata yang sama supaya tidak tersesat.
Di episode ini kalian akan menyiapkan prasyarat konseptual, memastikan lingkungan belajar yang minim alat, dan melihat peta jalan enam fase series ini. Tidak ada yang perlu diinstall; yang paling penting adalah cara berpikir yang akan kita bangun bersama.
Mari kita mulai dari langkah pertama: memastikan kosakata dan lingkungan belajar kalian sudah siap sebelum perjalanan panjang ini dimulai.
Container adalah cara mempackaging aplikasi beserta seluruh dependensinya sehingga berjalan konsisten di mesin mana pun — dari laptop pengembang sampai production. Kubernetes adalah orkestrator yang mengelola container secara otomatis: penjadwalan, replikasi, scaling, hingga pemulihan dari kegagalan. Keduanya adalah jantung ekosistem CNCF dan akan menjadi rujukan di hampir semua episode.
Kalian tidak perlu bisa mengoperasikan keduanya untuk series ini, tetapi wajib paham perannya. Anggap saja kalian sedang membaca peta teknologi: tahu lokasi kota dan fungsinya lebih penting daripada hafal jalanan.
Satu konsep yang sering membingungkan pemula adalah perbedaan container dan virtual machine. Virtual machine membawa sistem operasi lengkap beserta kernelnya sendiri, sedangkan container berbagi kernel host dan hanya membungkus aplikasi beserta dependensinya. Karena lebih ringan, container bisa dimulai dalam hitungan detik dan diletakkan dengan kepadatan lebih tinggi di satu mesin.
Kubernetes lahir justru untuk mengelola ratusan hingga ribuan container ini secara otomatis. Memahami lapisan virtualisasi ini akan sangat membantu ketika nanti kita membedah empat lapisan cloud native di episode 2, terutama lapisan runtime dan orchestration.
Open source berarti kode dapat dilihat, dimodifikasi, dan didistribusikan oleh siapa saja sesuai lisensi. Namun proyek open source bisa mati jika tidak dikelola dengan baik. Di sinilah peran foundation: organisasi netral yang menaungi proyek agar tetap hidup, adil, dan berkelanjutan meskipun vendor tertentu tidak lagi terlibat.
Konsep vendor-neutral ini akan menjadi tema berulang sepanjang series. CNCF sendiri adalah salah satu foundation terbesar yang menaungi proyek-proyek seperti Kubernetes, Prometheus, dan OpenTelemetry.
Kalian juga perlu nyaman dengan istilah cloud computing seperti IaaS, PaaS, dan SaaS. Cloud native landscape yang akan dibahas di episode 2 membedah dunia ini ke dalam kategori yang mirip dengan model layanan cloud. Pahami juga perbedaan on-premises dan cloud, serta arti managed service.
Prasyarat ini bersifat luwes: jika ada istilah yang belum jelas, catat saja. Setiap istilah akan dijelaskan pada episode yang relevan.
Series ini memang tidak butuh instalasi, tapi beberapa alat kecil akan memperkaya pengalaman kalian. Buka terminal dan periksa apakah alat berikut sudah tersedia:
# pastikan ketiga alat menampilkan versinya masing-masing
git --version
curl --version
kubectl version --clientPerintah kubectl version --client hanya menampilkan versi client dan tidak membutuhkan cluster. Jika kubectl belum ada, jangan panik — perintah kubectl dan helm di series ini hanya ilustrasi nyata, bukan latihan wajib. Siapkan pula browser untuk membuka landscape.cncf.io dan cncf.io/projects, karena keduanya adalah sumber data utama sepanjang series.
Tip
Tidak perlu memiliki cluster Kubernetes untuk mengikuti series ini. Semua perintah ditampilkan agar kalian terbiasa dengan bentuk nyata tooling cloud native, bukan untuk dijalankan wajib. Jika kalian ingin mencoba, minikube atau kind adalah jalan termudah nantinya di series hands-on.
Selain terminal, pastikan koneksi internet stabil dan akun GitHub siap digunakan. Banyak referensi resmi CNCF berada di GitHub, dan di episode 21 kalian akan melihat bagaimana akun tersebut bisa digunakan untuk berkontribusi pada proyek nyata.
Series ini tersusun dari enam fase yang saling membangun:
Ikuti fase secara berurutan. Setiap episode mengasumsikan kalian sudah memahami episode sebelumnya, karena masing-masing membangun pemahaman dari pondasi yang sudah diletakkan.
Untuk hasil terbaik, sediakan waktu 15-20 menit per episode. Catat istilah baru dan kata kunci berbahasa Inggris seperti graduated, incubating, sandbox, steering committee, dan TAG karena akan dipakai konsisten di seluruh series. Buat catatan kecil berisi istilah-istilah tersebut beserta definisinya.
Gunakan sumber resmi yang disebutkan sebagai bacaan lanjutan, dan jangan ragu membuka kembali episode sebelumnya ketika menemukan istilah yang terasa familier tapi belum jelas. Membaca peta teknologi seperti membaca peta kota: sering membuka kembali lokasi membuat keseluruhan wilayah terasa masuk akal.
Ada empat sumber yang akan kalian temui berulang kali di series ini:
Ingat keempat domainnya: landscape untuk peta, projects untuk katalog, kubernetes.io untuk orkestrasi, dan opentelemetry.io untuk observability.
Kebiasaan membuka sumber resmi ini akan membuat kalian tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya. Sebagai latihan pertama, buka landscape.cncf.io dan amati keragaman kategori yang ada — kita akan membedahnya secara detail di episode 2.
Satu catatan lagi: series ini tidak mengajarkan cara mengoperasikan Kubernetes, melainkan cara memahami ekosistem tempat Kubernetes berada. Jika nanti kalian merasa ingin praktik, bagian akhir episode 22 akan menunjuk series hands-on yang cocok, seperti belajar Kubernetes, Argo, Prometheus, dan OpenTelemetry.
Terakhir, jangan khawatir jika ada istilah yang terasa asing di awal. Setiap episode berdiri sendiri namun saling menyambung, sehingga pemahaman yang belum lengkap di satu episode hampir selalu terlengkapi di episode berikutnya. Konsistensi mengikuti lebih berharga daripada kecepatan.
Episode 0 sudah membangun pijakan kalian: prasyarat konseptual tentang container, Kubernetes, open source, dan cloud computing, lingkungan belajar yang minim alat, serta peta jalan enam fase yang akan menuntun sampai episode 22.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 1 kita akan mundur ke awal mula: sejarah, latar belakang, dan mengapa dunia ini membutuhkan CNCF — dari ledakan container pada 2013, lahirnya Kubernetes di Google, didirikannya CNCF pada 21 Desember 2015, sampai definisi resmi cloud native dari TOC. Dengan memahami dari mana ekosistem ini berasal, kalian akan lebih mudah mencerna katalog proyek dan program-program yang dibahas di episode-episode berikutnya.