Belajar mengumpulkan intel tanpa menyentuh target: Google dorking Shodan Censys whois email dan username enumeration serta Have I Been Pwned, kemudian mengorganisir semua temuan dengan theHarvester dan Recon-ng untuk memetakan footprint target secara legal dan sistematis

Di episode 5 kita menguasai kriptografi. Sekarang kita mulai fase operasional pertama dari workflow pentest: reconnaissance. Semua pentest serius dimulai bukan dengan menembak server, melainkan dengan mengumpulkan informasi — dan sebagian besar tanpa menyentuh target sama sekali.
Inilah esensi OSINT (Open Source Intelligence): intel yang diambil dari sumber publik. Mengapa ini yang pertama? Karena informasi yang dikumpulkan menentukan semua langkah berikutnya: nama subdomain menentukan target scan, alamat email menentukan username untuk brute force, teknologi yang terdeteksi menentukan exploit yang relevan. Semakin baik recon, semakin kecil kemungkinan menembak kosong.
Ada dua pendekatan yang wajib kalian bedakan:
Episode 6-7 ini fokus ke passive; episode 8-9 akan masuk ke active.
Google (dan search engine lain) bisa dipakai sebagai database informasi target. Google dorking memakai operator pencarian khusus:
| Operator | Fungsi | Contoh |
|---|---|---|
site: | Batasi ke domain | site:example.com |
intitle: | Kata di judul | intitle:"index of" |
filetype: | Tipe file | filetype:env |
inurl: | Kata di URL | inurl:admin |
Beberapa dork paling berharga untuk pentester:
site:example.com filetype:env
site:example.com inurl:phpinfo.php
site:example.com intitle:"index of" /backup
site:example.com "password" filetype:xlsxPola filetype:env atau intitle:"index of" sering membocorkan file konfigurasi dan direktori yang seharusnya privat. Catatan etika: dorking itu legal sebagai teknik pencarian, tapi mengakses file yang terbuka tanpa izin untuk mengambil datanya tetap termasuk akses ilegal.
Shodan adalah search engine untuk perangkat yang terhubung internet — bukan halaman web, melainkan banner layanan, port, dan metadata teknis. Censys adalah alternatifnya. Contoh query Shodan yang umum:
country:ID port:3389
apache country:US
proftpd product:"vsftpd 2.3.4"
"ETag" + "MikroTik"Query-query ini memungkinkan kalian menemukan perangkat dengan service/versi tertentu di internet — termasuk yang rentan. Untuk lab, cek apakah target lab kalian muncul di Shodan (biasanya tidak, karena host-only).
Warning
Shodan/Censys menampilkan data publik, tapi meng-eksploitasi perangkat yang kalian temukan di sana tetap ilegal tanpa izin. Untuk praktik, batasi diri pada target yang kalian miliki sendiri atau platform yang memberi izin (TryHackMe/HackTheBox) — jangan tergoda menguji perangkat acak di internet.
whois membuka data registrasi domain: nama organisasi, email kontak, nameserver, dan tanggal kadaluarsa. Informasi ini berguna untuk menemukan asset lain milik organisasi yang sama.
whois example.comPerhatikan bahwa GDPR membatasi data pribadi pada whois, tapi data organisasi dan nameserver biasanya tetap terlihat.
Setelah punya nama domain, kita cari alamat email yang terasosiasi. Ini memberi bahan untuk username, target phishing (episode 24), dan bruteforce (episode 9).
theHarvester -d example.com -b alltheHarvester menarik email dari search engine, PGP keyserver, dan sumber lain. Pola umum email seperti nama@example.com juga bisa ditebak dari nama karyawan yang ditemukan lewat LinkedIn — ini disebut footprinting persona, bahan utama social engineering.
Ketika database sebuah layanan bocor, alamat email dan password ikut tersebar. Have I Been Pwned (HIBP) melacak breach ini; cek apakah sebuah email pernah bocor:
curl -s "https://haveibeenpwned.com/api/v3/breachedaccount/test@example.com" \
-H "hibp-api-key: KEY_ANDA" | jqData dari breach menjadi bahan credential stuffing: password yang bocor di layanan A dicoba di layanan B. Ini juga alasan mengapa kalian harus cek apakah password lab kalian pernah bocor — kebiasaan kecil dengan dampak besar.
Intel yang tidak terorganisir tidak berguna. Kumpulkan semua temuan ke dalam satu struktur. Recon-ng adalah framework yang merapikan workflow OSINT dalam modul-modul:
recon-ng
marketplace install recon/domains-hosts/brute_hosts
workspaces create lab-target├── 01-domain.txt (domain & subdomain)
├── 02-emails.txt (email & username)
├── 03-tech.txt (teknologi & versi dari banner)
├── 04-hosts.txt (IP & CIDR milik organisasi)
└── 05-notes.md (catatan asumsi & hipotesis)Tip
Biasakan mencatat setiap asumsi dan sumbernya selama OSINT. Di akhir pentest, laporan harus bisa ditelusuri balik: "subdomain X ditemukan lewat crt.sh" jauh lebih berharga daripada "subdomain X ada". Laporan seperti inilah yang dipakai audit dan episode 25 akan membahas caranya menulis.
Pada episode 6 ini, kalian telah belajar mengumpulkan intel pasif tanpa menyentuh target.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 7 selanjutnya kita akan membahas DNS & subdomain enumeration — zone transfer dengan dig AXFR, brute subdomain dengan subfinder dan amass, serta certificate transparency lewat crt.sh untuk menemukan attack surface tersembunyi. Sampai jumpa di episode 7!