Merancang arsitektur data yang siap untuk AI: feature store untuk model machine learning, vector database untuk LLM dan RAG, serta pola arsitektur data untuk kebutuhan AI yang bertumbuh

Setelah di episode 20 kita membangun lineage dan audit, sekarang kita menghadapi arah baru yang mengubah peran arsitek: AI-Ready Data Architecture. Di 2026, organisasi tidak lagi bertanya "apakah kita perlu AI?" — mereka bertanya "apakah data kita siap untuk AI?". Dan jawabannya hampir selalu ditentukan oleh arsitektur data.
Mengapa episode ini penting? Karena AI mengubah pola konsumsi data secara fundamental: model machine learning butuh fitur yang konsisten antara training dan inference, sementara LLM dan RAG butuh data tidak terstruktur yang bisa dicari secara vektor. Keduanya adalah beban kerja baru yang tidak dilayani warehouse tradisional — dan arsiteklah yang merancang jalannya.
BI dan AI mengonsumsi data secara berbeda:
| Aspek | Data untuk BI | Data untuk AI |
|---|---|---|
| Bentuk | Tabel agregat | Feature per entitas, dokumen, embeddings |
| Freshness | Harian cukup | Bisa real-time (online serving) |
| Training/inference | Tidak ada | Butuh konsistensi antara keduanya |
| Data tidak terstruktur | Jarang | Sangat penting (LLM/RAG) |
| Titik butuh | Gold layer | Feature store + vector DB |
Masalah klasik yang harus dicegah arsitek: model dilatih dengan data yang berbeda dari data yang dilihat saat inference — karena training memakai batch offline, sementara inference memakai data real-time yang transformasinya beda. Ini disebut training-serving skew, dan feature store ada untuk menyelesaikannya.
Feature store adalah lapisan yang menyediakan fitur (kolom yang dihitung dari data mentah) secara konsisten untuk training dan inference. Dua fungsi utama:
data mentah → transformasi (dbt/Spark) → feature definitions
├→ offline store (training)
└→ online store (inference, low latency)Konsistensi terjamin karena definisi fitur ditulis sekali dan dijalankan oleh mekanisme yang sama untuk kedua store. Contoh tool: Feast, Tecton, atau fitur bawaan Databricks/Snowflake.
# feature: total orders 30 hari per customer
Feature(
name="orders_30d",
owner="tim-data",
source="SELECT customer_id, SUM(amount) AS orders_30d
FROM gold.fact_orders
WHERE order_date >= DATE_SUB(CURRENT_DATE(), 30)
GROUP BY customer_id",
entities=["customer"],
online=True,
)LLM tidak "mengingat" data perusahaan. RAG (Retrieval-Augmented Generation) menjembataninya: dokumen perusahaan dipecah, di-embedding, disimpan di vector database, dan saat user bertanya, dokumen relevan diambil dan disertakan ke LLM sebagai konteks.
Poin arsitektural yang harus dipahami:
Warning
RAG yang tidak dikontrol aksesnya adalah pintu bocor: user bertanya pertanyaan yang jawabannya ada di dokumen internal yang seharusnya tidak boleh ia lihat. Sebelum menghubungkan dokumen ke RAG, terapkan access control pada retrieval (episode 18) — bukan hanya pada chat UI.
DATA SOURCES (structured + unstructured)
→ lakehouse (bronze/silver/gold) → gold tables (BI & feature source)
→ feature store (offline + online) → model ML → serving
→ embedding pipeline → vector DB → RAG/LLM
→ semantic layer (episode 11) → konsistensi metrik lintas AI & BIPrinsip desain:
- ML tradisional (prediksi churn, forecast) → butuh feature store
- LLM chat internal (tanya dokumen) → butuh embedding pipeline + vector DB
- AI agent yang akses database → butuh access control + audit (episode 18)Pastikan semua fitur dan embedding dihitung dari sumber yang sama (gold layer) — tidak ada definisi ganda untuk AI.
Pilih feature store, vector DB, dan embedding pipeline yang sesuai ekosistem yang sudah ada (Databricks/Snowflake punya fitur bawaan; Feast untuk stack open).
Kualitas data untuk AI diukur seperti BI: freshness fitur, akurasi embedding, keberadaan lineage sumber training. Masukkan ke SLO data yang sudah ada (episode 9).
Tip
Mulai dari satu use case AI yang jelas nilainya (misal chat dokumen SOP internal atau prediksi churn). Bangun end-to-end yang benar: sumber → feature/embedding → serving → monitoring. Satu jalur yang lengkap dan terukur lebih berharga daripada lima PoC yang setengah jadi.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 22 selanjutnya kita akan membahas Vector & Unstructured Data — vector database, embedding pipeline, dan knowledge graph untuk data yang selama ini di luar jangkauan warehouse. Sampai jumpa di episode 22!