Menjembatani deep learning dengan keputusan berurutan: DQN dan PPO dalam reinforcement learning, RLHF dan GRPO di balik reasoning model, serta agentic AI dengan tool use dan model sebagai otak agent.

Semua model yang kita bangun sejauh ini menghasilkan satu prediksi dari satu input. Namun banyak masalah nyata adalah rangkaian keputusan: bermain game, mengendalikan robot, atau — yang paling relevan di 2026 — model AI yang berpikir beberapa langkah sebelum menjawab dan menggunakan tool untuk menyelesaikan tugas.
Episode ini memperkenalkan dua dunia yang kini bertemu: reinforcement learning (belajar dari reward, bukan label) dan agentic AI (model sebagai otak yang bertindak). Konsep GRPO yang melatih reasoning model seperti R1 berasal dari persimpangan ini. Kalian tidak perlu mengimplementasikan RL penuh, tetapi memahami kerangka pikirnya adalah kunci memahami model AI generasi berikutnya.
Di supervised learning ada label; di RL tidak ada. Ada agent yang mengambil aksi, menerima state baru dan reward — dan harus memaksimalkan total reward jangka panjang. Tantangannya: reward bisa tertunda (mengorbankan poin kecil untuk menang besar di akhir).
DQN (Deep Q-Network) memakai jaringan saraf untuk memperkirakan Q-value: "berapa nilai mengambil aksi ini di state ini?" Agent memilih aksi dengan Q-value tertinggi. Kemenangan DQN di game Atari (2013-2015) membuktikan deep learning bisa belajar dari layar piksel dan skor, tanpa tahu aturan game.
Kunci kestabilannya: experience replay (mempelajari ulang transisi acak dari memori) dan target network (prediksi yang tidak berubah terlalu cepat).
PPO (Proximal Policy Optimization) mengoptimalkan kebijakan (policy) secara langsung dan menstabilkan training dengan membatasi seberapa besar perubahan kebijakan per update. PPO adalah algoritma default di RL modern — kuat, mudah dituning, dan dipakai untuk robotika serta game.
Dari episode 16 kita tahu RLHF menyelaraskan LLM dengan preferensi manusia: SFT → reward model → optimasi dengan PPO. Langkah RL inilah yang membuat ChatGPT terasa "sopan dan membantu" dibanding model base-nya. Namun PPO untuk LLM itu kompleks: butuh reward model terpisah, dan training tidak stabil.
GRPO (Group Relative Policy Optimization), dipopulerkan oleh DeepSeek-R1, menyederhanakan: alih-alih reward model terpisah, sekelompok output untuk satu prompt dinilai relatif satu sama lain (misal dengan rule: jawaban benar/format benar). Tidak perlu critic network — lebih murah dan lebih stabil.
Hasilnya terlihat jelas di model reasoning 2025-2026: model belajar menghasilkan chain-of-thought yang panjang sebelum menjawab, karena reward diberikan pada proses berpikir yang benar. GRPO adalah alasan utama model reasoning seperti R1 ada — dan teknik ini kini diadopsi luas di industri.
prompt: "Hitung 17 * 23"
output A: "391" → benar (reward tinggi)
output B: "Saya tidak tahu" → salah (reward rendah)
output C: "Hmm, 17*20=340, 17*3=51, 340+51=391" → benar (reward tinggi)
→ model belajar menghasilkan jalur berpikir ala CTip
Untuk mengerti GRPO tanpa rumus: bayangkan beberapa siswa menjawab soal yang sama, jawaban dinilai hanya benar/salah tanpa skor terperinci, lalu semua siswa belajar dari perbandingan. Inilah kenapa reasoning model dilatih lebih murah daripada model dengan reward model terpisah.
Tren terbesar 2025-2026: model tidak hanya menjawab, tetapi bertindak — memanggil fungsi, mengkueri database, membuka browser, mengeksekusi kode. Ini agent: sistem di mana LLM mengatur langkah, memanggil tool, melihat hasil, lalu melanjutkan sampai tujuan tercapai.
tool_call terstruktur (nama fungsi + argumen); aplikasi mengeksekusi dan mengembalikan hasil ke model. Contoh: mencari web untuk menjawab pertanyaan terkini.Arsitektur agent menentukan kualitas: pemilihan tool, format prompt, handling error, dan batas iterasi adalah keputusan engineering yang menentukan — bukan hanya kekuatan model.
Semua yang dipelajari di episode 17 menjadi kritis di sini: agent yang bisa memanggil fungsi punya permukaan serangan lebih besar. Prompt injection lewat tool output (hasil web, hasil kode) bisa membajak agent. Prinsip-prinsipnya: privilege minimal, validasi tool call dengan kode, dan manusia dalam loop untuk aksi berisiko.
Warning
Jangan berikan agent akses tool yang tidak dibutuhkan. Agent yang bisa menghapus file, mengirim email, atau transfer dana — dengan satu prompt injection yang berhasil — adalah liability. Tambahkan konfirmasi manusia untuk aksi irreversibel dan mahal, apa pun tingkat kepercayaan kalian pada model.
Framework agent (LangChain, OpenAI function calling, dll.) merangkum loopnya. Inti polanya sederhana:
def run_agent(prompt, tools):
messages = [{"role": "user", "content": prompt}]
for _ in range(10): # batas iterasi
reply = llm.chat(messages, tools=tools)
call = reply.tool_calls[0] if reply.tool_calls else None
if call is None:
return reply.content # jawaban akhir
result = execute_tool(call) # aplikasi mengeksekusi
messages.append(reply)
messages.append({"role": "tool", "content": str(result)})
return "Maksimum iterasi tercapai"Perhatikan detail engineering yang membedakan agent aman dari agent berbahaya: batas iterasi (mencegah loop tak berujung), eksekusi tool oleh aplikasi (model tidak mengeksekusi sendiri), dan batas akses tool. Menjalankan kode dari tool output tanpa sandbox adalah salah satu kecelakaan terbesar di agentic AI.
Pada episode 22 ini, kalian telah mengenal RL dan agentic AI.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 23 selanjutnya kita akan melihat peta keseluruhan: ekosistem & tren modern 2026 — PyTorch 2.11 vs TensorFlow 2.21/Keras 3, JAX, Hugging Face, vLLM, dan perangkat keras Hopper/Blackwell/NPU, plus panduan memilih framework. Sampai jumpa di episode 23!