Meninjau rilis terbaru FFmpeg: 8.0 Huffman dengan perbaikan AV1 dan FATE, 8.1 Hoare dengan Vulkan dan D3D12, hingga 9.0 Lei yang menjadi rilis major berikutnya, plus arah roadmap VVC, AV1, dan pemanfaatan GPU.

Di episode 20 kalian melihat FFmpeg dari sisi pemrograman — bagaimana library dan wrapper menyatu dengan aplikasi. Sekarang kita berpindah perspektif: dari cara pakai ke ke mana arahnya. FFmpeg bukan proyek statis; ia merilis versi baru setiap beberapa bulan dengan fitur yang mengubah cara kita bekerja.
Episode ini meninjau tiga rilis terbaru — 8.0 "Huffman", 8.1 "Hoare", dan 9.0 "Lei" — lalu membaca arah roadmap-nya. Memahami rilis ini tidak hanya berguna untuk update binary, tapi juga untuk menilai fitur mana yang layak ditunggu dan mana yang siap dipakai di produksi.
FFmpeg mengikuti pola rilis yang bisa ditebak: major release baru setiap tahunnya, biasanya dengan nama kode berurutan (alfabetis dan bertema ilmuwan). Di sela-selanya ada rilis point yang berisi backport perbaikan bug. Sejak 2023 ritme dipercepat menjadi kira-kira satu major release per tahun, dengan nomor versi yang kini naik cepat — dari 6.x, 7.x, hingga 9.0.
| Rilis | Tanggal | Sorotan utama |
|---|---|---|
| 8.0 "Huffman" | Agustus 2025 | Perbaikan encoding AV1, pengujian FATE, update libavcodec |
| 8.1 "Hoare" | Maret 2026 | Vulkan compute, D3D12 encode, metadata EXIF & LCEVC |
| 9.0 "Lei" | Agustus 2026 | Rilis major: libavcodec 63, libavformat 63, libavfilter 12 |
Kalau kalian mengikuti seri ini, kalian sudah memakai sebagian besar fitur ini di episode-episode sebelumnya — sekarang waktunya melihatnya secara utuh.
Nama "Huffman" merujuk pada David Huffman, penemu pengkodean Huffman yang menjadi fondasi kompresi data. Tema ini pas: rilis 8.0 berfokus pada penyempurnaan di balik layar. Kalian bisa memverifikasi apakah instalasi lokal sudah mencapai rilis ini dengan apt-cache policy ffmpeg.
Kita sudah membahas AV1 di episode 18 — dan rilis 8.0 memperkuatnya. Encoder SVT-AV1 yang dibundel diperbarui ke versi yang lebih cepat dan lebih efisien, dan decoder AV1 bawaan mendapat optimasi. Dampak praktisnya bagi kalian: preset yang sama menghasilkan file lebih kecil, atau encoding selesai lebih cepat untuk bitrate yang sama. Ini contoh nyata kenapa versi FFmpeg yang dipakai memengaruhi hasil produksi — saran mencatat versi encode di episode 18 bukan sekadar teori.
FATE (FFmpeg Automatic Test Environment) adalah rangkaian pengujian otomatis yang menjalankan ratusan kasus decode/encode di berbagai arsitektur dan membandingkan checksum hasil. Rilis 8.0 memperluas cakupan FATE — artinya regresi (fitur yang rusak diam-diam) lebih cepat tertangkap sebelum sampai ke pengguna. Bagi pengguna, ini berarti upgrade dengan risiko lebih rendah.
Puluhan codec mendapat perbaikan — dari bugfix decoder niche hingga optimasi DSP untuk arsitektur ARM (menarik bagi kalian yang mengembangkan untuk device berbasis ARM seperti Raspberry Pi dan perangkat embedded). Titik pentingnya: rilis ini menegaskan bahwa perawatan codec adalah pekerjaan yang terus-menerus, bukan satu kali jadi.
Nama "Hoare" menghormati Sir Tony Hoare, pionir ilmu komputer (penemu quicksort dan nota null reference). Rilis 8.1 membawa fitur yang lebih berorientasi hardware dan metadata.
Vulkan, API grafis lintas-platform, kini dipakai FFmpeg untuk compute — bukan sekadar rendering. Di 8.1, filter scale_vulkan dan path encoding ProRes/DPX bisa memanfaatkan GPU lewat Vulkan compute. Bagi pengguna, ini menambah opsi akselerasi di luar CUDA dan VAAPI yang sudah dibahas di episode 14. Nilainya terbesar untuk pipeline yang ingin memakai GPU yang tidak terjebak vendor tertentu.
Di Windows, rilis 8.1 menambahkan encoding H.264 dan H.265 melalui Direct3D 12 — API modern Microsoft. Ini melengkapi jalur akselerasi hardware yang sebelumnya banyak bergantung pada QuickSync atau NVENC. Konsekuensinya: aplikasi Windows modern bisa memakai GPU yang sama untuk rendering dan encoding tanpa jalan memutar.
EXIF (metadata foto) kini ditangani lebih lengkap di sisi video. Pengguna yang menyerap frame dari kamera digital bisa membaca dan menyalin data EXIF — misalnya tanggal pengambilan dan parameter kamera — tanpa kehilangan informasi saat frame diolah atau di-mux ke video. Detail seperti ini yang membuat FFmpeg tetap menjadi jembatan antara dunia foto dan video.
Kita menyinggung keduanya di episode 18 — dan inilah rilisnya: FFmpeg 8.1 mulai membaca metadata LCEVC (enhancement layer) dan menambahkan decoder xHE-AAC (MPEG-H USAC dengan Mps212) dalam status eksperimental. Dua hal ini adalah bukti bahwa FFmpeg menjemput standar baru lebih awal — bukan menunggu sampai matang. Eksperimental berarti: gunakan untuk eksplorasi, tapi jangan untuk produksi kritis.
Rilis major berikutnya, 9.0 "Lei", membawa peningkatan nomor versi library utama: libavcodec 63, libavformat 63, libavfilter 12. Inilah yang disebut major version bump — dan ia datang dengan aturan penting yang wajib dipahami kalian.
Setiap library FFmpeg punya nomor versi sendiri yang menandakan kompatibilitas API. Jika nomor minor berubah, API lama tetap jalan; jika nomor major berubah, ada perubahan yang bisa memutuskan program yang menautkan library tersebut. Inilah mengapa episode 20 yang membahas API tidak lepas dari episode ini: aplikasi yang memakai libav* harus diuji ulang saat major release — kode yang berjalan di 8.x belum tentu kompilasi di 9.x.
Bagi kalian yang memakai CLI, dampaknya jauh lebih kecil — perintah yang dipelajari sepanjang series ini tetap berjalan. Bagi kalian yang mengembangkan aplikasi berbasis libav, ini pengingat untuk mencatat versi library saat build dan menyiapkan siklus upgrade.
Dari trajectory rilis di atas, beberapa arah terlihat jelas:
ffmpeg -version
ffmpeg -buildconfffmpeg -version memberi nomor versi; ffmpeg -buildconf menampilkan konfigurasi build lengkap — termasuk codec mana yang diaktifkan. Kedua perintah ini adalah titik awal yang benar saat mengecek apakah fitur tertentu tersedia di instalasi kalian, sebelum menyalahkan FFmpeg atas error yang ternyata disebabkan binary yang sudah basi.
Tip
Bagaimana cara mengikuti perkembangan? Dua sumber utama: halaman rilis di situs resmi FFmpeg dan changelog Changelog yang ikut terdistribusi di source tree. Untuk kalian yang aktif menulis aplikasi, subscribe ke rilis tersebut dan coba fitur baru di lingkungan pengembangan sebelum produksi. Seperti mencicipi menu di food court: cicil dulu porsi kecil, baru pesan porsi besar.
Episode 21 menempatkan kalian di garis waktu proyek:
Kalian kini paham dari mana FFmpeg berasal dan ke mana ia menuju. Tapi sebuah alat tidak berdiri sendiri — ia hidup di dalam ekosistem. Di episode 22, episode final series ini, kita akan melihat ekosistem, alternatif & refleksi akhir: yt-dlp, HandBrake, OBS, dan VLC yang dibangun di atas FFmpeg, perbandingan dengan avconv dan GUI, plus rekap lengkap episode 0–21 dan checklist produksi. Sampai jumpa di episode pamungkas.