Sebelum menyentuh Flutter, kalian perlu menguasai dasar programming, konsep object-oriented programming, reactive UI, serta kebiasaan menggunakan command line, IDE, dan package manager. Di episode ini kalian juga menyiapkan Flutter SDK, tools pendukung, dan hardware yang memenuhi syarat minimum.

Selamat datang di series Belajar Flutter! Series ini akan membawa kalian menguasai Flutter — framework open-source dari Google untuk membangun aplikasi lintas platform dari satu codebase — dari fondasi konsep sampai production readiness. Total ada 23 episode yang tersusun dari enam fase.
Tapi sebelum menjalankan flutter create pertama, ada beberapa skill dasar, perangkat lunak, dan syarat hardware yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Flutter bukan sekadar bahasa baru. Dia adalah toolkit yang memadukan pemrograman, reactive UI, toolchain build, dan integrasi platform — kalau salah satu fondasinya belum kuat, debugging di episode berikutnya akan terasa jauh lebih berat.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar, menyiapkan Flutter SDK dan IDE, mengecek persyaratan hardware, serta melakukan verifikasi pertama lewat flutter doctor. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
Flutter memakai Dart, jadi kalian wajib nyaman dengan variabel, kondisi, loop, dan fungsi. Konsep object-oriented programming (OOP) juga penting: Flutter memperlakukan hampir semua hal sebagai object — widget adalah object, dan setiap tampilan dibangun dari class yang kalian instantiate dan komposisikan.
Pahami juga konsep reactive UI: tampilan adalah fungsi dari state. Saat data berubah, widget di-build ulang secara otomatis. Pola pikir ini berbeda dari programming imperatif tradisional dan akan menjadi inti dari episode 4 dan 6.
Flutter dikelola lewat CLI, jadi kebiasaan dengan terminal sangat membantu. Kalian juga perlu memilih IDE — VS Code, Android Studio, atau IntelliJ IDEA — lengkap dengan plugin Flutter. Terakhir, pahami konsep package manager: di ekosistem Dart, package dikelola lewat pub dan file pubspec.yaml.
which git
which flutterJika perintah di atas belum ditemukan, jangan khawatir — bagian selanjutnya akan menginstall keduanya.
Install Flutter SDK terbaru dari situs resmi flutter.dev. Flutter SDK sudah membundel Dart SDK, jadi kalian tidak perlu menginstall Dart secara terpisah. Versi stabil saat penulisan series ini adalah Flutter 3.x dengan Dart 3.x, dan seluruh contoh kode memakai API yang tersedia pada rilis tersebut.
Pilih salah satu kombinasi berikut:
Siapkan juga device simulator/emulator atau physical device yang sudah mengaktifkan USB debugging. Untuk web dan desktop, tidak diperlukan emulator.
Flutter CLI memerlukan Git untuk mengelola upgrade dan beberapa operasi build. Pastikan Git terinstall:
git --versionOutput menampilkan versi Git yang aktif. Git juga dipakai untuk version control project — kebiasaan yang akan sangat berguna di episode 14 saat membahas release management.
Flutter build dan emulator cukup menuntut. Pastikan mesin kalian memenuhi syarat minimum berikut:
free -h
nprocPerintah free -h menampilkan total RAM dan penggunaan, sedangkan nproc menampilkan jumlah core CPU. Pastikan hasilnya memenuhi syarat minimum di atas.
Install Flutter SDK dengan mengunduh archive dari situs resmi, lalu tambahkan direktori bin ke PATH. Pada Linux, skema instalasinya kira-kira seperti ini:
export PATH="$PATH:$HOME/flutter/bin"Setelah PATH tersedia, verifikasi versi:
flutter --versionOutput menampilkan versi Flutter, versi Dart, dan channel rilis. Flutter juga menyertakan tool dart di direktori bin yang sama.
Jalankan perintah yang menjadi pintu gerbang setiap Flutter developer:
flutter doctor -vflutter doctor -v memeriksa semua komponen: Flutter SDK, Android toolchain, Xcode (untuk iOS), Chrome (untuk web), dan VS Code. Bagian yang bermasalah ditandai dan ditampilkan bersama perbaikan yang disarankan. Pastikan tidak ada item kritis yang belum terpenuhi sebelum lanjut ke episode 3.
Rangkuman prasyarat yang sudah kalian siapkan di episode 0:
Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi sebelum melanjutkan. Fondasi yang kuat akan membuat 22 episode berikutnya terasa jauh lebih ringan.
Inti yang harus dibawa pulang:
flutter doctor -v untuk memastikan semua toolchain siap.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa memilih Flutter — dari kelahiran proyek di Google, arsitektur rendering Skia dan Impeller, keunggulan single codebase untuk mobile, web, dan desktop, hingga perbandingannya dengan native, React Native, dan Xamarin. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Flutter baru saja dimulai!