Episode ini menutup sisi operasional agent: playbook untuk merespons insiden, rollback dan safe mode saat agent berulah, kebijakan governance untuk penggunaan dan deployment agent, serta dokumentasi praktik responsible AI yang membuat seluruh proses bisa dipertanggungjawabkan.

Episode 20 memberi kalian semua sinyal untuk melihat apa yang terjadi di sistem agent. Sekarang tibalah pertanyaan yang lebih sulit: apa yang kalian lakukan ketika sinyal itu menunjukkan masalah, dan siapa yang berhak mengambil keputusan? Di episode 21 kita berpindah dari "memantau" ke "mengoperasikan" — urusan sehari-hari tim yang bertanggung jawab atas agent yang sudah berproduksi.
Topik kali ini bukan tentang kode yang lebih pintar, melainkan tentang proses yang lebih disiplin: playbook insiden, mekanisme rollback dan safe mode, kebijakan governance, serta dokumentasi responsible AI. Peta jalan episode ini:
Observability di episode 20 memberitahu kalian bahwa ada yang salah. Yang membedakan tim profesional dari tim amatir adalah apa yang terjadi setelah itu. Insiden agent biasanya jatuh ke tiga kategori, dan masing-masing punya respons pertamanya sendiri:
| Gejala | Kemungkinan akar masalah | Respons pertama |
|---|---|---|
| Error rate naik mendadak | Model provider menurun, tool berubah, prompt regresi | Cek rilis terakhir, aktifkan rollback |
| Jawaban salah tapi lancar | Prompt terlalu longgar, confidence rendah diabaikan | Aktifkan safe mode, paksa human-in-the-loop |
| Tool dipakai tidak semestinya | Toolset terlalu luas, izin salah | Cabut izin tool, audit jejak percakapan |
Kunci playbook yang baik adalah urutan tindakan yang pasti di tengah kepanikan. Saat alarm berbunyi di tengah malam, pikiran tidak bekerja optimal — maka tuliskan langkahnya sebelumnya. Contoh playbook singkat untuk insiden agent:
Info
Urutan yang paling sering dilanggar adalah langkah 1. Godaan untuk "melihat-lihat dulu" sangat kuat, padahal setiap detik sistem tidak stabil adalah kerugian. Stabilkan dulu, debugging belakangan.
Dua mekanisme di episode 19 dan 20 sekarang menjadi alat operasional resmi: rollback mengembalikan perilaku ke rilis sehat, dan safe mode menurunkan risiko tanpa benar-benar mematikan layanan. Safe mode adalah mode darurat yang mengubah agen menjadi konservatif: hanya tool read-only yang diizinkan, semua keputusan berisiko di-escalate ke manusia, dan jawaban pasti diutamakan daripada jawaban kreatif.
mode: safe
tools:
allowed:
- search-readonly
- db-readonly
- escalate-human
denied:
- execute-command
- send-email
- delete-record
behavior:
allow_creative: false
escalate_on_low_confidence: true
max_attempts: 1Aktifkan safe mode secepat mungkin saat insiden terjadi, selagi tim memutuskan rollback penuh atau perbaikan bertahap:
hermes mode set --env production --safePerlu diingat bahwa safe mode adalah jaring pengaman, bukan tempat tinggal permanen. Pasang aturan waktu: safe mode harus ditinjau maksimal dalam beberapa jam, dan tim harus punya jalur jelas untuk keluar — entah rollback, fix, atau keputusan resmi untuk menurunkan layanan.
Governance adalah seperangkat aturan tentang siapa boleh melakukan apa. Tanpa governance, siapapun bisa mengubah prompt produksi, menambah tool berbahaya, atau men-deploy model yang belum diuji. Hermes menyediakan policy layer yang memeriksa setiap operasi — dari deployment sampai pemanggilan tool — terhadap aturan yang telah disepakati tim.
apiVersion: policy.hermes.dev/v1
kind: DeployPolicy
spec:
allowedRoles:
- deploy-engineer
- release-manager
requireEvalScore: 0.85
requireApprover: true
environments:
production:
requireCanary: true
minCanaryPercent: 10
staging:
requireCanary: falseAturan di atas mewajibkan tiga hal untuk deploy ke production: peran yang berwenang, skor evaluasi minimal, dan persetujuan manusia. Catatan penting: governance harus dicatat dan diaudit. Setiap operasi yang ditolak atau disetujui meninggalkan jejak — siapa, kapan, dan kenapa. Jejak ini yang nantinya menjadi bukti kalau ada perselisihan atau investigasi.
Pilar terakhir governance adalah dokumentasi. Kode yang baik tanpa dokumentasi keputusan membuat tim berikutnya menebak-nebak; begitu juga agent. Dokumentasi responsible AI untuk project agent sebaiknya menjawab lima pertanyaan:
# Responsible AI - Agent Support
1. Agent dilarang menampilkan informasi pribadi pengguna lain.
2. Semua keputusan yang memengaruhi keuangan harus di-escalate ke manusia.
3. Output agent yang dilaporkan pengguna akan direview bulanan.
4. Perubahan prompt utama wajib mendapat persetujuan product owner.
5. Daftar tool dan izinnya direview setiap kali ada rilis baru.Dokumentasi ini bukan pajangan — ia adalah kontrak perilaku antara tim teknis, pemilik produk, dan pemangku kepentingan. Saat ada keraguan tentang perilaku agent, dokumen ini yang menjadi acuan. Pastikan ia selalu diperbarui setiap kali ada perubahan kebijakan, bukan dibiarkan usang di dalam repository.
Governance dan playbook tidak akan berjalan tanpa budaya on-call yang sehat. Beberapa praktik yang kami pelajari dari menjalankan agent di production: jangan pernah menaruh tanggung jawab insiden di satu orang tanpa dukungan; putuskan dengan jelas apakah alert memerlukan respons malam atau bisa ditunda pagi; dan rutin melakukan game day — simulasi insiden — supaya playbook teruji sebelum dipakai sungguhan. Sebuah insiden yang bisa di-handle dengan tenang adalah hasil latihan, bukan keberuntungan.
Episode 21 melengkapi sisi operasional agent: playbook insiden yang berurutan dari stabilkan sampai belajar, rollback dan safe mode sebagai jaring pengaman saat perilaku menyimpang, governance policies yang mengatur siapa boleh deploy dan tool apa yang boleh dipakai, serta dokumentasi responsible AI yang menjadi kontrak perilaku bagi seluruh tim.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 22 — episode penutup seri ini — kita akan merangkum semuanya menjadi satu paket produksi: checklist final keamanan, reliabilitas, monitoring, dan etika; perawatan sehari-hari untuk model config, plugin, dan umpan balik pengguna; serta cara membuat arsitektur agent yang siap menghadapi masa depan. Sampai jumpa!