Belajar Hermes JavaScript Engine dari dasar hingga production-grade: pre-requisites & setup environment, sejarah & latar belakang, konsep dasar & arsitektur utama, parser & AST, bytecode compiler, Hades garbage collector, interpreter & execution, runtime intrinsics, ECMAScript conformance, Hermes di React Native, Hermes di Node.js & edge, snapshot & precompiled bytecode, debugging & inspector, performance profiling & optimization, memory management & tuning, JS bundles & modularity, interoperability dengan native, fitur modern & roadmap, hingga ekosistem alternatif & refleksi akhir dengan total 23 episode.
Episode pembuka: skill dasar yang wajib dikuasai sebelum menyentuh Hermes — JavaScript modern, dasar React Native atau Node.js, build tooling, dan command line. Sekaligus menyiapkan Node.js, React Native environment, Hermes binary, dan editor VS Code yang siap debugging.

Mengupas kelahiran Hermes dari Meta: masalah startup lambat dan memori boros pada perangkat mobile low-end yang memaksa lahirnya engine khusus. Membandingkan Hermes dengan V8, JavaScriptCore, dan SpiderMonkey, serta tiga keunggulan utamanya: startup time, memory footprint, dan bytecode precompilation.

Membedah arsitektur internal Hermes: parser yang mengubah source menjadi AST, bytecode compiler yang menghasilkan HBC, Hades garbage collector generational, dan interpreter yang mengeksekusinya. Plus konsep bytecode serialization dan tiga runtime mode: full AOT, lazy compilation, dan inline caching.

Praktik pertama: menambahkan Hermes ke project React Native, baik lewat opsi default, konfigurasi Android di gradle.properties, maupun iOS di Podfile. Termasuk menyiapkan build environment Android/iOS, membangun hermesc dari source, dan memverifikasi Hermes benar-benar berjalan di perangkat atau emulator.

Membedah pipeline build Hermes di React Native: bagaimana Metro bundler mengubah source menjadi bundle, peran HermesBytecodePlugin yang mengkompilasi bundle menjadi bytecode HBC, opsi bundle-command dan hermesc untuk kendali penuh, hingga produksi artifact output, source maps, dan debugging symbol.

Episode optimisasi: mengurangi overhead startup dengan prepackaging bytecode di build time, memakai flag optimizer -O dan -output-source-map untuk bytecode yang lebih kecil dan cepat, serta menganalisis bagaimana ukuran bundle memengaruhi cold start di perangkat nyata.

Mengupas cara kerja garbage collector Hermes: generational GC dengan nursery dan old generation, mark-compact untuk memerangi fragmentasi, alokasi berbasis arena, cara benchmarking memory di aplikasi React Native, serta praktik terbaik meminimalkan memory churn.

Belajar debugging dan profiling Hermes: menghubungkan ke Chrome DevTools dan Flipper, memprofil eksekusi JavaScript, mengambil heap snapshot, serta mengenali performance pitfall seperti re-renders, large objects, dan sync loops.

Mempelajari Hermes di production: alur release build dengan kompilasi bytecode, mengaktifkan Hermes lewat konfigurasi build, runtime configuration, serta cara menganalisis metrik startup, ukuran bundle, dan memori pada build yang benar-benar dirilis.

Membahas Hermes sebagai embeddable engine di luar mobile: status dukungan Node.js, use case serverless dan edge yang diuntungkan cold start, cara embedding Hermes secara custom, serta perbedaan strategi optimasi antara runtime mobile dan server.
