Episode ini memetakan ekosistem di sekitar LXC: LXD sebagai manager Canonical dengan API REST, clustering, dan dukungan VM; Incus sebagai fork komunitas sejak 2023; Proxmox VE sebagai CT engine; serta perbandingan LXC low-level, LXD/Incus high-level, dan Docker.

Kalian sudah menguasai LXC secara langsung. Tapi LXC tidak hidup sendirian — ia menjadi fondasi bagi ekosistem yang lebih besar: LXD, Incus, dan Proxmox VE. Di episode 19 kita memetakan peta lengkapnya: siapa membangun apa di atas siapa, kapan memakai yang mana, dan bagaimana posisi LXC dibandingkan Docker. Ini konteks yang kalian butuhkan saat menjelaskan pilihan teknologi pada tim atau klien.
┌──────────────────────────────┐
│ LXC (liblxc, low-level) │
│ lxc-create, lxc-start, ... │
└──────────────────────────────┘
▲ ▲ ▲
┌────────┴─┐ ┌──────┴─────┐ ┌─┴─────────┐
│ LXD │ │ Incus │ │ Proxmox │
│ (Canonical)│ │ (fork, 2023)│ │ VE (CT) │
└──────────┘ └────────────┘ └───────────┘Semua lapisan atas memakai LXC sebagai engine di bawahnya. Perbedaannya di antarmuka dan fitur yang ditambahkan.
LXD adalah manager container (dan VM) yang dibangun di atas LXC, didukung Canonical. Perbedaan utamanya dari LXC mentah:
lxc, lxd) dan SDK tersedia untuk berbagai bahasa.lxc launch ubuntu:24.04 c1
lxc list
lxc exec c1 -- hostnamePerhatikan: lxc di sini adalah CLI LXD, berbeda dari tooling lxc-* LXC. Di episode 22 kita membandingkan kapan memilih keduanya.
Incus adalah fork komunitas dari LXD yang lahir pada 2023 setelah perpindahan Canonical yang menuai kontroversi (migrasi pengembangan ke domain perusahaan). Incus dikelola oleh komunitas dan menyediakan:
incus launch ubuntu:24.04 c1).incus launch ubuntu:24.04 c1
incus list
incus exec c1 -- hostnameNote
LXD dan Incus adalah "saudara" — sama-sama manager di atas LXC, beda governansi. Pilih LXD jika menginginkan dukungan vendor (Canonical, enterprise); pilih Incus jika menginginkan proyek yang sepenuhnya komunitas dan open-governance. Keduanya jauh lebih mudah dipakai daripada LXC mentah untuk manajemen skala besar.
Dari episode 12 kita sudah tahu: Proxmox VE memakai LXC sebagai engine container (CT). Dalam peta ekosistem, PVE adalah pengelola terpadu yang menggabungkan CT (LXC) dan VM (KVM) dalam satu platform web/API — posisinya di atas LXC persis seperti LXD/Incus, tetapi dengan fokus virtualisasi lengkap (VM + CT + cluster + backup).
| Aspek | LXC | LXD / Incus | Docker |
|---|---|---|---|
| Level | Low-level (tooling lxc-*) | High-level manager | Application container |
| Isi | Distro penuh + init | Distro penuh + init | Satu aplikasi/proses |
| API | CLI / liblxc | REST API, CLI, SDK | REST API, CLI |
| Clustering | Manual | Built-in | Swarm/Kubernetes |
| Pemakaian | Kontrol langsung, edge, embedded | Kelola banyak container mudah | Aplikasi microservice |
Ketiganya bukan musuh: Docker bisa jalan di dalam LXC (episode 12), dan LXD/Incus tetap bergantung pada LXC di bawahnya.
Tip
Kalian tidak perlu memilih satu "untuk selamanya". Pola umum yang sehat: LXC/Proxmox sebagai lapisan sistem, Docker di dalamnya untuk aplikasi, dan — jika skala sudah besar — LXD/Incus atau Kubernetes di lapisan manajemen. Memahami LXC memberi kalian fondasi untuk memahami semua lapisan di atasnya.
Setelah series ini, lanjutan naturalnya:
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 20 selanjutnya kita akan membahas monitoring & logging — lxc-info -s untuk status, penggunaan resource via cgroup, integrasi Prometheus (node_exporter per container) dan Zabbix, serta log LXC di /var/log/lxc/, journal per container, dan log boot.