Episode ini mengupas snapshot dan clone LXC: mengambil snapshot dengan lxc-snapshot, mencantumkannya dengan -L, lalu kloning container memakai lxc-copy — full copy untuk independensi dan -s (snapshot clone) yang hemat disk dengan backend btrfs/zfs.

Di episode 8 kita melihat lxc-snapshot dan lxc-copy sekilas. Sekarang kita bedah keduanya sampai tuntas — karena inilah keterampilan yang menyelamatkan kalian dari malam-malam tidak bisa tidur setelah update yang merusak sistem. Snapshot untuk mundur ke belakang (rollback), clone untuk maju ke depan (scale out). Di episode 9 kita menguasai keduanya beserta trade-off backend-nya.
Snapshot adalah rekaman keadaan container pada satu titik waktu: rootfs, config, dan (pada backend tertentu) state proses. Gunakan sebelum perubahan berisiko — update package besar, perubahan config, atau eksperimen — agar kalian selalu punya titik kembali yang aman.
lxc-snapshot -n c1Perilakunya bergantung backend:
lxc-snapshot -n c1 -LOutput menampilkan daftar snapshot dengan indeks, tanggal pembuatan, dan nama jika diberikan:
1 2026-08-13 10:00:00 snap0
2 2026-08-13 12:30:00 snap1Untuk mengembalikan container ke keadaan snapshot:
lxc-snapshot -n c1 -r snap1Setiap snapshot juga bisa dijalankan sebagai container tersendiri untuk inspeksi (snapshot terisi otomatis di /var/lib/lxc/c1/snaps/):
lxc-start -n c1/snap1
lxc-attach -n c1/snap1 -- ls /
lxc-stop -n c1/snap1Warning
Restore menimpa keadaan container saat ini. Pastikan snapshot yang akan di-restore benar-benar yang diinginkan — dan untuk kerja aman, salin dulu container ke nama baru dengan lxc-copy sebelum bereksperimen dengan restore.
lxc-copy -n c1 -N c2Full copy membuat salinan rootfs yang sepenuhnya independen: perubahan di c2 tidak memengaruhi c1, begitu pula sebaliknya. Biayanya: waktu salin dan ruang disk penuh. Pilih ini jika kedua container hidup berdampingan dalam jangka panjang dengan isi yang berbeda.
lxc-copy -n c1 -N c3 -sFlag -s membuat snapshot clone: c3 berbagi data dengan c1 lewat mekanisme copy-on-write backend. Prosesnya nyaris instan, disk yang dipakai hanya untuk perbedaan antara keduanya. Ini sempurna untuk:
Tip
Aturan memilih: butuh independensi penuh dan disk longgar? Full copy. Butuh duplikasi cepat, disk hemat, dan basis sama? Snapshot clone (-s). Ingat, snapshot clone bergantung pada sumbernya — jika sumbernya dihapus, jangan ikut hapus sebelum clone tidak lagi dipakai.
lxc-snapshot -n c1 (titik aman).lxc-snapshot -n c1 -r <snap> untuk kembali.lxc-stop -n master.lxc-copy -n master -N node1 -s (dan node2, node3...).lxc-snapshot -n master
lxc-copy -n master -N web-1 -s
lxc-copy -n master -N web-2 -s
lxc-start -n web-1
lxc-start -n web-2Note
Snapshot dan clone yang melibatkan state runtime (misal database yang sedang menulis) sebaiknya dilakukan saat container berhenti atau dalam keadaan konsisten — kalau tidak, snapshot bisa saja merekam file yang sedang setengah ditulis. Untuk data kritis, kombinasikan dengan backup filesystem, bukan hanya mengandalkan snapshot.
Pastikan clone benar-benar terpisah:
lxc-ls -f
lxc-attach -n web-1 -- hostnameUbah hostname di web-1, lalu cek bahwa master tidak ikut berubah — bukti isolasi bekerja.
Inti yang harus dibawa pulang:
lxc-snapshot -n c1 merekam keadaan; -L mencantumkannya; -r me-restore.lxc-copy -n c1 -N c2 = full copy independen; -s = snapshot clone hemat disk.Di episode 10 selanjutnya kita akan membahas autostart, systemd & service management — lxc.start.auto = 1 di config, unit systemd lxc@.service, perintah lxc-autostart, menjalankan init/systemd di dalam container, serta lxc-stop dan lxc-shutdown untuk penghentian yang teratur.