Sebelum menyentuh microfrontend, kalian perlu menguasai React/TypeScript, dasar bundler, package manager, dan Git. Di episode ini kalian juga menyiapkan Node.js LTS, pnpm, Vite, dan seluruh tooling Module Federation sebagai fondasi seluruh series.

Selamat datang di series Belajar Microfrontend! Series ini akan membawa kalian menguasai arsitektur microfrontend — pola memecah aplikasi frontend besar menjadi unit-unit independen yang bisa di-deploy, dimiliki tim, dan diintegrasikan saat runtime. Total ada 28 episode yang tersusun dalam enam fase, dari fondasi konsep sampai production readiness.
Tapi sebelum menulis remote pertama atau mengonfigurasi Module Federation, ada sejumlah skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena microfrontend bukan sekadar "satu framework tambahan" — ia membungkus hampir seluruh toolchain frontend: bundler, monorepo, package manager, routing, dan deployment. Kalau fondasi kalian lemah di salah satu lapisan, kelak akan sulit mendiagnosis masalah.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita memastikan skill dasar terpenuhi, menyiapkan Node.js dan pnpm, lalu menyiapkan tooling Module Federation dan struktur monorepo yang akan dipakai sepanjang series. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
Microfrontend paling banyak dipakai di ekosistem React, karena pola komponen dan hooks-nya cocok dipecah menjadi unit-unit independen. Kalian wajib nyaman dengan komponen, props, state, hooks seperti useState dan useEffect, serta routing (react-router). TypeScript penting karena salah satu daya tarik Module Federation 2.0 adalah type-safety lintas remote — jika kalian masih memakai any di mana-mana, manfaat itu akan hilang.
interface User {
id: string
name: string
role: "admin" | "customer"
}
const sapa = (u: User): string => `Halo, ${u.name}`Microfrontend dibangun di atas bundler. Kalian harus paham apa itu module, entry point, build output, dan code splitting. Konsep ini menjadi pusat Module Federation: setiap remote di-bundle secara terpisah menjadi chunk yang dimuat host saat runtime.
node --version
npm --versionKita akan memakai monorepo untuk proyek storefront sepanjang series. Karena itu kalian wajib paham konsep workspaces — folder-folder apps/ dan packages/ dalam satu package.json root yang di-install bersama-sama. Kita memilih pnpm karena manajemen dependency dan workspace-nya yang bersih dan cepat.
Microfrontend menyelesaikan masalah organisasi besar, dan Git adalah tulang punggung kolaborasi lintas tim. Kalian wajib paham branch, merge, dan PR. Di episode 14 dan 17 kita akan melihat bagaimana Git + release strategy bekerja pada level remote.
Pastikan memakai versi Node.js LTS (20.x atau 22.x). Install pnpm secara global atau via corepack:
npm install -g pnpm
pnpm --versionVersi pnpm yang stabil saat series ini ditulis adalah 9.x atau 10.x. pnpm bekerja dengan package.json root (workspace) plus file pnpm-workspace.yaml.
Kita memakai Vite sebagai bundler utama (DX terbaik di 2026), React 19 sebagai framework, dan TypeScript 5.x. Vite membawa ESM native yang sangat membantu saat kita membangun banyak remote sekaligus.
Module Federation adalah inti series ini. Kita akan memakai paket-paket resmi:
@module-federation/vite — plugin federasi untuk Vite.@module-federation/enhanced — versi enhanced untuk Webpack/Rspack.@module-federation/runtime — runtime-only untuk dynamic federation.pnpm add -D @module-federation/vite
pnpm add @module-federation/runtimesingle-spa kita bahas di episode 11 untuk pola polyglot (React + Vue + Angular berdampingan). Kalian boleh menyiapkannya nanti — bukan keharusan di episode 0.
Chrome DevTools adalah alat utama debugging. Ada extension resmi Module Federation (tersedia di Chrome Web Store) yang menampilkan remote yang termuat, shared dependencies, dan runtime manifest — kita pakai di episode 12 dan 24.
Di episode 8 kita membangun design system. Storybook membantu mendokumentasikan dan mem-preview komponen UI secara terisolasi. Opsional di episode 0, kita pasang saat tiba waktunya.
Note
Hardware yang disarankan: karena kalian akan menjalankan banyak aplikasi sekaligus (satu host + beberapa remote, masing-masing di port berbeda), minimal 8GB RAM akan sangat membantu. Prosesor modern apa pun sudah cukup.
Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi menyeluruh:
node -v
pnpm -v
git --versionPastikan ketiganya berjalan tanpa error. Di episode 3 kita akan membuat monorepo storefront dan memverifikasi instalasi pertama Module Federation secara nyata.
Important
Salah satu kesalahan umum di awal adalah memakai Node.js versi beta/eksperimental yang tidak kompatibel dengan plugin bundler. Selalu pakai versi LTS agar ekosistem package, termasuk module-federation, bekerja stabil.
Di episode 0 ini kalian sudah menyiapkan pijakan untuk seluruh series: memastikan skill React/TypeScript, bundler, package manager, dan Git; menyiapkan Node.js LTS, pnpm, Vite, serta tooling Module Federation.
Inti yang harus dibawa pulang:
node -v, pnpm -v, git --version berjalan tanpa error.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa membutuhkan microfrontend — dari masalah frontend monolitik yang besar, ide yang dipinjam dari microservices, hingga alasan penting di 2026 dan contoh adopsi dari Spotify, Zalando, DAZN, dan Marriott. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Microfrontend baru saja dimulai!