Belajar ML Engineer - AI Agents & Systems Engineering
Episode 25 of 28

Belajar ML Engineer - AI Agents & Systems Engineering

Membangun AI agent yang benar-benar berguna: arsitektur agent (loop, planning, memory), tool use yang aman dan terkontrol, serta integrasi agent dengan sistem perusahaan — termasuk observability, guardrail, dan pola human-in-the-loop untuk aksi berisiko

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 24 evaluasi menjadi mesin pengembangan, kita sampai pada tren paling besar di 2026: AI agents. RAG memberi model pengetahuan; agent memberi model tindakan. Alih-alih hanya menjawab, agent bisa memanggil tool, berinteraksi dengan API, dan menyelesaikan tugas multi-langkah — dari menjawab tiket support sampai mengeksekusi analisis data.

Sebagai MLE, peran kalian di sini bukan sekadar "membuat prompt jadi agent". Kalian harus membangun sistem di sekeliling agent: loop yang terkontrol, tool yang aman, memory, observability, dan guardrail yang mencegah agent melakukan hal merusak. Episode ini membedah arsitektur agent dan bagaimana mengintegrasikannya ke sistem perusahaan dengan aman.

Arsitektur Agent: Lebih dari Satu Prompt

Agent pada dasarnya adalah loop: model berpikir → memutuskan tindakan → memanggil tool → melihat hasil → berpikir lagi. Ini disebut agent loop (atau ReAct: Reason + Act):

100%

Tiga komponen inti:

KomponenFungsi
PlannerMemecah tugas, memutuskan langkah berikutnya
ToolsKemampuan terbatas yang bisa dipanggil (API, query DB, dsb)
MemoryMenyimpan konteks & hasil antar langkah

Framework yang umum 2026: LangGraph (stateful, loop eksplisit), LlamaIndex Agents, dan SDK agent (OpenAI Agents SDK, dsb). Pilih framework hanya setelah memahami pola arsitekturnya — bukan sebaliknya.

Tool Use: Menghubungkan Agent ke Dunia

Tool adalah jembatan agent ke sistem. Contoh tool yang umum:

  • Query database (dengan whitelist query)
  • Panggil API internal (dengan auth)
  • Eksekusi kode dalam sandbox
  • Ambil dokumen dari search/RAG
  • Kirim email / buat tiket (aksi)
Definisi tool (konsep)
TOOLS = [
    {
        "type": "function",
        "function": {
            "name": "query_analytics",
            "description": "Jalankan query analitik read-only pada warehouse",
            "parameters": {
                "type": "object",
                "properties": {
                    "sql": {"type": "string"},
                },
                "required": ["sql"],
            },
        },
    },
]

Disiplin keamanan tool (berlanjut dari episode 18):

  • Least privilege: setiap tool hanya punya izin minimal.
  • Read-only dulu: tool yang mengubah data butuh approval khusus.
  • Validasi input: jangan pernah langsung jalankan output tool tanpa validasi.
  • Whitelist eksekusi: sandbox terisolasi untuk tool yang mengeksekusi kode.

Memori dan State

Agent butuh memori untuk konteks antar langkah dan antar sesi:

  • Working memory: pesan dalam konteks saat ini (context window).
  • Long-term memory: riwayat user, preferensi, hasil tugas sebelumnya — sering diwujudkan lewat vector DB (episode 16).
  • State persistence: state loop (langkah mana, sudah apa) harus tersimpan agar agent bisa resume saat terputus.

Memori juga membawa risiko: data pribadi yang tersimpan di memori harus ditangani sesuai prinsip privasi (episode 20) dan minimasi (jangan simpan lebih dari yang dibutuhkan).

Guardrail dan Human-in-the-Loop

Agent yang bebas memanggil tool tanpa pengawasan adalah risiko besar. Struktur guardrail berlapis:

LapisanContoh
InstruksiSistem prompt yang membatasi aksi
Tool-levelWhitelist, sandbox, read-only
ApprovalKonfirmasi manusia untuk aksi berisiko (transfer, hapus)
Output validationValidasi hasil sebelum dipakai
Timeout & budgetBatas langkah/langkah maksimum per tugas

Human-in-the-loop adalah pola kunci untuk aksi berisiko: agent menyusun tindakan, manusia menyetujui, agent mengeksekusi. Pola ini membuat kegagalan agent tidak menjadi kegagalan bisnis.

Approval gate (konsep)
def execute_with_approval(action: dict) -> None:
    if action["risk"] == "high":
        approval = ask_human(f"Agent ingin: {action['description']}. Setujui?")
        if not approval:
            return
    execute(action)

Menjaga Agent Tetap Terkontrol

Tiga disiplin engineering yang membedakan agent produksi dari demo:

  1. Budget langkah: batasi jumlah iterasi loop (misal maksimum 10 tool calls) — agent yang berputar tanpa selesai adalah bug yang mahal.
  2. Observability: log setiap langkah (thought, tool call, result, error) — ini bahan utama debugging dan evaluasi.
  3. Evaluasi: agent butuh eval suite seperti halnya model (episode 24): uji tugas end-to-end, tak hanya satu panggilan. Metrik: task success rate, langkah yang dipakai, biaya per tugas, dan error rate per tool.
text
# Log langkah agent (contoh)
[step 1] thought: perlu cek data churn Q2 → tool: query_analytics
[step 2] result: 1.2M baris, retensi turun 4%
[step 3] thought: cukup data → final answer

Integrasi dengan Sistem Perusahaan

Agent di dunia nyata terhubung ke SSO, API internal, dan alur kerja. Pertimbangan integrasi:

  • Identity: agent berjalan atas nama siapa? Setiap aksi harus tercatat dengan identitas dan konteks.
  • Rate limiting: agent yang agresif bisa menyerang API internal — batasi kecepatan tool calls.
  • Kanal & UX: titik masuk (chat web, Slack, email) memengaruhi desain loop dan timeout.
  • Retry & idempotency: panggilan tool bisa gagal atau terduplikasi — desain seperti sistem terdistribusi pada umumnya.

Warning

Agen paling berbahaya adalah yang berhasil di demo tapi tidak punya guardrail di produksi. Setiap tool yang bisa mengubah state (kirim, hapus, transfer) harus punya approval manusia atau kontrol dampak yang ketat. Latih mental: agent yang salah lebih berbahaya dari model yang salah, karena agent bisa melakukan tindakan nyata.

Common Pitfalls

PitfallDampakPencegahan
Loop tanpa budget langkahBiaya & waktu membengkakBatas langkah + timeout
Tool tanpa sandbox/whitelistEksekusi berbahayaIsolasi + least privilege
Tanpa approval untuk aksi berisikoKesalahan menjadi insidenHuman-in-the-loop
Log langkah tidak adaDebugging mustahilObservability penuh tiap langkah
Eval satu panggilan, bukan end-to-endAgent gagal di tugas nyataEval suite tugas end-to-end

Penutup

Pada episode 25 ini, kalian telah membangun sistem agent:

  • Arsitektur agent loop: planner, tools, memory — bukan sekadar satu prompt.
  • Tool use dengan least privilege, sandbox, dan whitelist.
  • Guardrail berlapis + human-in-the-loop untuk aksi berisiko.
  • Observability & evaluasi end-to-end; agent dikontrol dengan budget langkah.
  • Integrasi perusahaan: identitas, rate limit, idempotency.

Di episode 26 selanjutnya kita akan membahas Ekosistem & Tren Modern 2026 — bagaimana peran MLE berubah di era LLM & GenAI, eval-driven development, agentic pipeline, local models, dan mengapa demand MLE menembus peringkat teratas industri. Sampai jumpa di episode 26!

Belajar ML Engineer - AI Agents & Systems Engineering | Belajar ML Engineer