Menyiapkan platform untuk gelombang AI: GPU scheduling dan node pool, LLM serving yang efisien, MLOps sebagai bagian dari golden path, dan bagaimana AI menjadi fitur platform itu sendiri

Dari episode 14 hingga 20 platform sudah melayani aplikasi konvensional: workload stateless, data, dan jaringan yang aman. Tapi 2026 membawa pertanyaan baru: bagaimana platform melayani AI? Episode ini membahas platform engineering AI — infrastruktur untuk AI workloads: GPU scheduling, LLM serving, dan MLOps — plus bagaimana AI menjadi fitur platform itu sendiri, dari auto-remediation sampai golden path yang dibantu AI.
Mengapa ini penting? AI workloads mengubah asumsi dasar platform: resource tidak lagi "CPU + memory" saja, tapi GPU; traffic tidak lagi "request kecil merata", tapi inference dengan pola burst dan request panjang; dan lifecycle tidak lagi "build → deploy", tapi train → evaluate → serve → iterate. Platform yang mengabaikan ini akan ditinggalkan, sementara tim AI membangun sendiri infra yang tidak terkelola.
GPU adalah resource yang tidak bisa dibagi sembarangan — ia dijadwalkan sebagai unit utuh. Langkah dasar:
nvidia.com/gpu).apiVersion: apps/v1
kind: Deployment
metadata:
name: llm-serving
namespace: ai-services
spec:
replicas: 2
template:
spec:
nodeSelector:
node-group: gpu
containers:
- name: vllm
image: registry.example.com/vllm:latest
resources:
limits:
nvidia.com/gpu: "1"
requests:
cpu: "4"
memory: 32GiPolicy platform harus memastikan: GPU hanya di node GPU (nodeSelector dipaksakan), tidak ada request GPU dari workload non-AI, dan GPU selalu punya limit (bukan hanya request).
Menjalankan model besar (LLM) butuh runtime khusus — vLLM, TGI, atau TensorRT-LLM — yang mengoptimalkan memori GPU (KV cache) dan throughput. Serving inference punya pola unik:
LLM Gateway (routing + policy)
└─ vLLM instances (model ter-cache di GPU)
└─ Model Registry (artefak model + metadata)Platform menyediakan ini sebagai layer self-service (episode 12): developer cukup menyatakan "saya ingin serve model X versi Y", platform mengatur GPU, autoscaling, dan observability.
Di atas serving ada siklus hidup model: MLOps. Platform engineering menyeragamkannya seperti IaC — supaya tidak ada tim yang membangun pipeline training sendiri-sendiri:
| Tahap | Layanan platform | Contoh tooling |
|---|---|---|
| Experiment | Tracking experiment terpusat | MLflow, Weights & Biases |
| Training | Job training di cluster (CPU/GPU) | Kubeflow, Kueue |
| Model registry | Artefak model + metadata + approval | Model registry (MLflow) |
| Serving | LLM serving + autoscaling | vLLM, TGI |
| Monitoring | Drift, latency, cost per inference | Prometheus + custom metrics |
Pola yang paling penting: model adalah artefak yang diregulasi seperti image — lewat registry, approval, dan deployment gate. Model yang tidak melalui jalur ini sama berbahayanya dengan image yang tidak ter-sign.
Dua arah: platform untuk AI (di atas) dan AI untuk platform. Yang kedua adalah diferensiator 2026:
Aturan emasnya: AI boleh mengusulkan, manusia atau policy yang menyetujui dampak besar. AI mempercepat, policy memastikan tidak ada yang melanggar batas.
Note
Platform engineering AI bukan berarti kalian harus menjadi data scientist. Tugas kalian adalah menyediakan jalur yang benar — GPU yang terkelola, serving yang terautomasi, model yang diregulasi — supaya tim AI bisa fokus pada model, dan platform tetap memegang kendali resource dan policy.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 22 selanjutnya kita mengelola platform dari sisi produk: platform-as-a-product advanced — roadmap, user research developer, dan KPI platform berbasis DORA yang mengubah tim platform dari cost center menjadi tim produk sungguhan!