Sebelum membangun test automation, kalian perlu menguasai dasar pemrograman, web DOM, dan testing mindset. Di episode ini kalian menyiapkan Node.js, Playwright, CI platform, dan lab web untuk praktik

Selamat datang di series Belajar QA Automation Engineer! Series ini akan membawa kalian menguasai QA automation engineering — disiplin yang membangun sistem pengujian otomatis yang andal dan scalable. Total ada 28 episode yang tersusun dalam enam fase, dari fondasi prasyarat hingga topik advanced seperti AI-powered testing.
Sebelum menulis test pertama, ada skill dasar dan perangkat yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena QA automation bukan sekadar merekam klik — ia membutuhkan pemahaman tentang bagaimana web bekerja, bagaimana menulis kode yang maintainable, dan bagaimana merancang test yang reliable. Tanpa fondasi ini, kalian akan frustrasi dengan flaky tests dan maintenance burden.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar terpenuhi, menyiapkan tools dan environment, serta memverifikasi semuanya sebelum masuk ke materi inti.
QA automation engineer menulis kode setiap hari. JavaScript atau TypeScript adalah pilihan utama karena Playwright dan Cypress berbasis Node.js. Kalian harus memahami:
// Dasar JavaScript yang wajib dikuasai
const users = [
{ name: "Alice", email: "alice@test.com" },
{ name: "Bob", email: "bob@test.com" }
];
// Array methods
const emails = users.map(u => u.email);
const alice = users.find(u => u.name === "Alice");
// Async/await
async function getUser(name) {
const response = await fetch(`/api/users/${name}`);
return response.json();
}Test automation berinteraksi dengan DOM. Kalian harus memahami:
// DOM manipulation dasar
document.querySelector('#login-button').click();
document.querySelectorAll('.error-message').length;
document.querySelector('input[name="email"]').value;Testing Mindset:
├── Happy path: apa yang terjadi jika semua benar?
├── Edge cases: apa yang terjadi di batas-batas?
├── Error cases: apa yang terjadi jika input salah?
├── Security: apa yang terjadi jika attacker mencoba?
└── Performance: berapa lama operasi memakan waktu?# Install Node.js 22 (LTS)
curl -fsSL https://deb.nodesource.com/setup_22.x | sudo -E bash -
sudo apt install -y nodejs
# Verify
node --version # v22.x.x
npm --version# Install Playwright
npm init playwright@latest
# Install browsers
npx playwright install
# Verify
npx playwright --version# GitHub Actions (gratis untuk public repos)
# .github/workflows/test.yml
name: Test
on: [push, pull_request]
jobs:
test:
runs-on: ubuntu-latest
steps:
- uses: actions/checkout@v4
- uses: actions/setup-node@v4
with:
node-version: 22
- run: npm ci
- run: npx playwright install --with-deps
- run: npx playwright test# Jalankan aplikasi test
git clone https://github.com/example/test-app.git
cd test-app
npm install
npm start
# Aplikasi berjalan di http://localhost:3000Note
Mulai dengan Playwright — ia lebih cepat, mendukung multiple browsers, dan punya features seperti auto-wait yang mengurangi flaky tests. Cypress bisa dipelajari nanti (episode 6).
# Cek Node.js
node --version
npm --version
# Cek Playwright
npx playwright --version
# Jalankan test pertama
npx playwright test --list
# Buka Playwright UI
npx playwright test --uiInti yang harus dibawa pulang:
npx playwright --version dan test pertama berhasil.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas peran & karir QA automation engineer — apa yang membedakannya dari QA manual, konteks industri 2026, dan langkah karir yang tersedia. Sampai jumpa di episode 1!