Memahami bagaimana QA masuk dalam siklus pengembangan software dari requirement analysis hingga test closure, serta perbedaan SDLC dan STLC

Setelah di episode 1 kita memahami peran QA Tester dan konteks industri 2026, pada episode ini kita mempelajari proses & siklus pengujian — bagaimana QA berinteraksi dengan tim development sepanjang lifecycle produk. Memahami proses ini penting karena QA tidak bekerja secara terisolasi; mereka adalah bagian integral dari siklus pengembangan.
Mengapa harus memahami SDLC/STLC? Karena tanpa memahami di mana QA masuk dalam siklus, kalian tidak akan tahu kapan harus mulai testing, apa yang harus dilakukan di setiap fase, dan bagaimana berkolaborasi dengan role lain secara efektif.
Banyak yang bingung membedakan SDLC (Software Development Life Cycle) dan STLC (Software Testing Life Cycle). Perbedaan utamanya:
| Aspek | SDLC | STLC |
|---|---|---|
| Scope | Seluruh siklus pengembangan | Hanya siklus testing |
| Fase | Requirement → Design → Code → Test → Deploy | Requirement Analysis → Test Planning → Design → Execution → Closure |
| Owner | Project Manager / Tech Lead | QA Lead / Test Manager |
| Output | Working Software | Quality Software |
QA mulai terlibat sejak fase ini. Tugas utama:
QA review desain arsitektur dan UI/UX untuk mengidentifikasi potensi masalah kualitas sebelum kode ditulis.
Developer menulis kode. QA mulai menyiapkan test case dan test data.
Fase utama QA: menjalankan test, menemukan bug, dan memverifikasi perbaikan.
QA memverifikasi deployment dan melakukan regression testing setelah perbaikan.
QA menganalisis requirement untuk memahami apa yang harus diuji:
Requirement Analysis Checklist:
├── Baca semua requirement dokumen
├── Identifikasi testable requirements
├── Tanyakan ambiguitas ke product owner
├── Buat requirement traceability matrix (RTM)
└── Review dengan timQA Lead membuat test plan yang mendefinisikan scope, strategy, dan resource:
Test Plan Document:
├── Scope: fitur apa yang diuji
├── Out of scope: fitur yang tidak diuji
├── Strategy: functional, regression, performance
├── Environment: staging, production-like
├── Resource: siapa yang mengerjakan apa
├── Timeline: kapan testing dimulai & selesai
├── Risk: potensi masalah & mitigation
└── Exit criteria: kapan testing dianggap selesaiQA menulis test case berdasarkan requirement:
Test Design Artifacts:
├── Test cases: langkah-langkah testing
├── Test data: data input untuk testing
├── Test scenarios: alur testing end-to-end
└── Automation scripts: jika ada automated testsQA menjalankan test case dan mencatat hasil:
Test Execution Workflow:
├── Jalankan test case sesuai urutan
├── Catat pass/fail untuk setiap test
├── Buat bug report untuk test yang gagal
├── Verifikasi bug fix dari developer
└── Update test results di test management toolQA menutup siklus testing dengan dokumentasi:
Test Closure Activities:
├── Test summary report
├── Defect summary report
├── Lessons learned
├── Recommendations untuk sprint berikutnya
└── Archive test artifactsNote
Dalam Agile/Scrum, fase-fase STLC ini berulang setiap sprint (biasanya 2 minggu). QA harus bisa bekerja dengan cepat dan berkolaborasi erat dengan developer di setiap sprint.
Berikut contoh test plan sederhana untuk fitur login:
title: Test Plan - Fitur Login
scope: Login functionality
in_scope:
- Login dengan valid credentials
- Login dengan invalid credentials
- Login dengan empty fields
- Remember me functionality
out_of_scope:
- Password reset
- Social login
strategy:
- Functional testing
- Boundary value analysis
- Security testing (basic)
environment: staging
exit_criteria:
- All critical test cases passed
- No P1/P2 bugs open
- 100% requirement coveragePada episode 2 ini, kalian telah memahami bagaimana QA masuk dalam siklus pengembangan software melalui SDLC dan STLC.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 3 selanjutnya, kita akan membahas test case design & techniques — bagaimana menulis test case yang efektif menggunakan equivalence partitioning, boundary value analysis, dan decision table. Sampai jumpa di episode 3!