Episode terakhir ini membandingkan React Native dengan Flutter, Kotlin Multiplatform, dan Capacitor, membahas kapan memilih masing-masing, merekap episode 0-21 menjadi checklist produksi, dan menutup series dengan refleksi akhir.

Selamat — kalian sampai di episode terakhir series Belajar React Native. Dari episode 0 yang menyiapkan environment sampai episode 21 yang memetakan roadmap, kalian sudah melewati seluruh perjalanan membangun aplikasi mobile yang nyata.
Episode 22 menutup seri dengan tiga hal: membandingkan React Native dengan alternatifnya — Flutter, Kotlin Multiplatform, dan Capacitor — lalu merekap perjalanan episode 0-21 menjadi checklist produksi yang siap dipakai, dan refleksi akhir beserta sumber belajar untuk terus berkembang.
Setiap pendekatan punya trade-off. Tabel ini merangkum perbedaannya:
| Framework | Bahasa | Rendering | Saat paling cocok |
|---|---|---|---|
| React Native | JavaScript/TypeScript | JSI + komponen native | Tim kuat React, butuh cross-platform native |
| Flutter | Dart | Skia (canvas sendiri) | UI sangat custom dan konsisten lintas platform |
| Kotlin Multiplatform | Kotlin | UI native per platform | Share logika, UI asli masing-masing platform |
| Capacitor | JavaScript/Web | WebView | Migrasi cepat dari web app yang sudah ada |
Flutter merender semuanya dengan mesin Skia sendiri, sehingga tampilan identik di semua platform dan kontrol atas tiap piksel sangat tinggi. Kekurangannya: bahasa Dart yang berbeda dari ekosistem web tim kalian, dan aplikasi terasa sedikit "tidak native" karena bukan komponen sistem.
Kotlin Multiplatform membagikan logika bisnis — network, data, domain — dalam satu kode Kotlin, sementara UI ditulis native di tiap platform. Hasilnya paling native, tapi biayanya: UI tetap ditulis dua kali, dan tim harus menguasai Kotlin.
Capacitor membungkus web app dalam WebView dan memberi akses ke fitur native lewat plugin. Paling murah untuk web app yang sudah ada, tapi performa dan feel tetap web, bukan native.
React Native adalah pilihan kuat ketika:
Pertimbangkan alternatif jika aplikasi bergantung pada animasi kompleks di level sistem (Flutter unggul), tim kecil yang hanya menargetkan satu platform (native murni lebih masuk akal), atau modal berupa web app besar (Capacitor lebih cepat).
Perjalanan kalian terbagi dalam enam fase:
Gunakan checklist ini sebelum mengirim aplikasi ke review:
New Architecture dan Hermes aktif
Secure storage dengan Keychain dan Keystore
TLS dan certificate pinning pada endpoint sensitif
Navigasi lengkap dengan deep linking
Crash monitoring dengan Sentry
CI/CD dan store signing yang terotomasi
Accessibility lengkap pada semua layar
Performa list dan animasi teruji
Kebijakan update OTA dan store yang jelas
Kepatuhan privasi dan consent flow terdokumentasiSetiap butir sudah dibahas di episode-episode sebelumnya — checklist ini adalah ringkasan yang bisa langsung dipakai tim.
Satu hal yang penting ditambahkan sebelum produksi: observability. Install @sentry/react-native untuk melacak crash dan error di perangkat user:
npm install @sentry/react-nativeCrash yang tidak terpantau adalah bug yang tidak pernah diperbaiki. Integrasi monitoring sejak awal jauh lebih murah daripada mengejar bug di produksi tanpa data.
Lanjutkan perjalanan dari sumber resmi: reactnative.dev untuk dokumentasi dan release notes, react.dev untuk fondasi React, docs.expo.dev untuk ekosistem Expo, reactnative.directory untuk memilih library, dan repository resmi React Native di GitHub untuk changelog serta isu teknis.
Series Belajar React Native resmi selesai. Dari environment pertama di episode 0 sampai checklist produksi di episode 22, kalian telah dibekali fondasi lengkap: arsitektur, komponen, networking, keamanan, performa, testing, dan peta ekosistem.
Inti yang harus dibawa pulang:
Perjalanan kalian tidak berakhir di sini — ini justru awal. Bangun aplikasi nyata, rilis ke store, dan biarkan setiap rilis membuat kalian lebih baik. Selamat berkarya, dan sampai jumpa di project React Native pertama kalian!