Sebelum menyentuh Selenium WebDriver, kalian perlu menguasai dasar web, bahasa pemrograman, dan konsep automated testing. Di episode ini kalian juga menyiapkan environment Python, menginstall selenium, dan memverifikasi browser otomatis pertama kali.

Selamat datang di series Belajar Selenium! Series ini akan membawa kalian menguasai Selenium — tool otomatisasi browser paling populer untuk web testing — dari fondasi konsep sampai production readiness. Total ada 23 episode yang tersusun dari enam fase.
Tapi sebelum menulis find_element pertama, ada beberapa skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian miliki. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Selenium WebDriver adalah remote control untuk browser nyata: kalian harus memahami apa itu elemen, DOM, dan HTTP, kalau tidak seluruh script test akan terasa seperti menebak-nebak.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar, menyiapkan environment Python, menginstall selenium, dan melakukan verifikasi pertama dengan membuka browser otomatis. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
Selenium berinteraksi dengan halaman web yang dibangun dari HTML, dirapikan oleh CSS, dan hidup di dalam DOM (Document Object Model). Kalian wajib paham bagaimana sebuah tombol, form input, dan link direpresentasikan sebagai tag seperti button, input, dan a — karena semua locator di episode 4 berangkat dari struktur ini.
Pahami juga HTTP sebagai protokol yang membawa halaman dari server ke browser: method seperti GET dan POST, status code seperti 200 dan 404, serta alur request dan response. Browser developer tools yang dibuka dengan tombol F12 akan menjadi sahabat kalian sepanjang series.
Selenium bukan bahasa pemrograman — dia adalah library yang dipanggil dari bahasa lain. Series ini memakai Python karena sintaksnya paling ringkas untuk test automation, tapi prinsip yang sama berlaku untuk Java, C#, dan JavaScript yang akan kita singgung di episode 1.
Kalian juga perlu memahami test automation pyramid: unit test di dasar, integration test di tengah, dan end-to-end (E2E) test di puncak. Selenium hidup di lapisan puncak — jumlahnya paling sedikit karena paling mahal, tapi nilainya paling besar untuk memvalidasi alur pengguna nyata.
E2E (Selenium) <- sedikit, mahal, berharga
Integration <- sedang
Unit test <- banyak, murah, cepatUntuk mengendalikan browser, kalian butuh dua hal: Selenium WebDriver sebagai library dan browser driver sebagai program kecil yang menjadi jembatan antara WebDriver dan browser. Browser driver mengikuti penamaan browser: ChromeDriver untuk Chrome, GeckoDriver untuk Firefox, dan Edge WebDriver untuk Edge.
Kabar baiknya, sejak Selenium Manager diperkenalkan di Selenium 4.6, driver diunduh otomatis — kalian tidak perlu lagi mengunduh dan mengatur PATH secara manual. Detailnya akan dibahas di episode 3.
Siapkan VS Code atau PyCharm sebagai editor, browser Chrome, Firefox, atau Edge sebagai target testing, dan Git untuk version control seluruh script test:
python3 --version
git --versionPastikan output python3 --version menampilkan 3.9 atau lebih baru dan git --version berjalan normal. Keduanya adalah tulang punggung development test di series ini.
Automasi browser menambah beban pada mesin karena browser dan driver berjalan bersamaan. Spesifikasi minimal yang disarankan:
Jika mesin kalian jauh di bawah spesifikasi ini, beberapa eksperimen dengan banyak browser akan terasa lambat. Untuk jangka pendek, Chrome saja sudah cukup.
Mulai dengan membuat direktori project dan virtual environment:
mkdir belajar-selenium
cd belajar-selenium
python3 -m venv .venv
source .venv/bin/activateSetelah teraktivasi, prompt terminal menampilkan (.venv). Semua instalasi berikutnya berjalan di dalam environment ini.
Dengan environment aktif, install library utama:
pip install seleniumProses ini menarik dependency seperti urllib3 dan trio. Tunggu sampai selesai, lalu verifikasi versi:
pip show selenium | grep -i versionPastikan Version menunjukkan 4.x — Selenium 4 membawa standard W3C WebDriver, relative locators, dan Selenium Manager yang akan kita pakai di sepanjang series ini.
Verifikasi paling meyakinkan: buka browser, arahkan ke halaman demo, dan baca judulnya:
from selenium import webdriver
driver = webdriver.Chrome()
driver.get("https://www.selenium.dev/selenium/web/web-form.html")
print(driver.title)
driver.quit()Jika tidak ada error dan judul halaman tercetak, environment kalian sudah siap. Perintah webdriver.Chrome() di atas meminta Selenium Manager mengunduh ChromeDriver yang cocok, dan driver.get(...) memuat halaman — detail keduanya akan kita bedah di episode 3.
Info
Selenium Manager bekerja otomatis untuk Chrome, Firefox, dan Edge versi terbaru. Pastikan browser tersebut terinstall di mesin kalian, karena driver hanya menyalakan browser yang sudah ada.
Di episode 0 ini kalian sudah menyiapkan pijakan untuk seluruh series: memahami dasar web dan konsep automated testing, menyiapkan tool dan hardware minimum, membuat environment Python dengan venv, menginstall selenium versi 4.x, dan memverifikasi browser otomatis pertama kali.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa memilih Selenium — dari kelahiran Selenium RC di tahun 2004, merger dengan WebDriver, hingga perbandingannya dengan Cypress, Playwright, dan Puppeteer. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Selenium baru saja dimulai!