Belajar Site Reliability Engineer (SRE) dari dasar hingga production-grade: pre-requisites skill & setup environment, peran sejarah & filosofi, prinsip & arsitektur SRE, SLO SLI & SLA, error budget & trade-offs, observability metrics logs & traces, alerting & on-call, incident management, capacity planning, toil reduction & automation, kubernetes reliability, release reliability, data reliability, chaos engineering, reliability-as-code, performance engineering, multi-region & disaster recovery, cost-aware reliability, network reliability, security & compliance ops, DDoS & traffic protection, distributed systems reliability, AI-assisted operations, reliability of ML/AI systems, platform reliability, SRE culture & team, ekosistem & tren modern 2026, hingga roadmap karir & refleksi akhir dengan total 28 episode.
Sebelum menyentuh SLO, alerting, dan incident management, kalian perlu menguasai Linux & scripting, dasar networking, serta pemahaman sistem terdistribusi. Di episode ini kalian juga menyiapkan VM + container, stack Prometheus/Grafana, akun cloud, dan tools chaos engineering untuk memverifikasi environment siap dipakai sepanjang series

Menelusuri lahirnya istilah SRE di Google pada 2003 oleh Ben Treynor Sloss dengan definisi "what happens when a software engineer is tasked with operations", serta memahami filosofi intinya: mengotomasi toil, mengukur reliability secara objektif, dan menjaga keseimbangan kecepatan vs stabilitas

Merangkai prinsip SRE menjadi satu arsitektur: hierarki SLI/SLO/error budget sebagai sistem pengukuran, toil budget untuk kapasitas engineering, blameless postmortem sebagai siklus perbaikan, serta service level engineering, capacity planning, dan reliability-as-code sebagai tulang punggung operasional

Membedah hierarki SLI, SLO, dan SLA: cara mendefinisikan indikator availability, latency, dan error rate, menentukan target SLO yang rasional dan terukur, memahami perbedaan SLO vs SLA, lalu mempraktikkan SLO untuk satu service dengan Prometheus

Mengubah error budget dari konsep menjadi alat keputusan: cara menghitung dan melacaknya, memakainya untuk policy rilis yang sehat, serta mengelola trade-off velocity vs reliability — lengkap dengan praktik gate rilis berbasis error budget

Membedah tiga pilar observability — metrics, logs, traces — peran OpenTelemetry sebagai standar vendor-neutral, dan cara mengkorelasikan ketiganya untuk menjawab apa yang terjadi, kenapa, dan di mana, lalu menginstrumentasi satu service dengan OTel

Merancang alert yang akurat, relevan, dan actionable — mengatasi alert fatigue, memakai threshold berbasis SLO dan burn rate, serta menyusun on-call rotation yang sehat dengan escalation policy dan playbook yang benar-benar dibaca saat insiden

Membangun alur incident management yang lengkap: detection & response, struktur peran (incident commander, communicator, deputy), komunikasi internal & eksternal, hingga blameless postmortem yang menutup siklus — lengkap dengan panduan simulasi incident drill untuk tim

Merencanakan kapasitas secara ilmiah, bukan menebak: load forecasting dari metrik, strategi headroom yang sehat, perbedaan vertical vs horizontal scaling, dan auto-scaling sebagai pengaman bukan pengganti perencanaan — lengkap dengan rencana kapasitas dan scaling untuk satu service

Mengidentifikasi dan mengukur toil — pekerjaan manual berulang yang menggerogoti tim — lalu menguranginya lewat otomasi bertahap: membuat bot, self-service, dan golden paths, dengan aturan 50% toil budget serta pelajaran dari praktik ITIL untuk change dan service management
