Memasuki Fase 3 dengan strategi migrasi dan solusi hybrid: kerangka 6R untuk menentukan nasib tiap aplikasi legacy, koneksi data center ke cloud via VPN dan dedicated line, perencanaan migrasi berbasis gelombang, serta pola modernization yang realistis

Setelah di episode 11 kalian menguasai komunikasi stakeholder — dari pemetaan audiens sampai negosiasi trade-off — kita masuk Fase 3 dengan topik yang mendominasi agenda enterprise tahun-tahun ini: migrasi dan solusi hybrid. Hampir tidak ada perusahaan besar yang berada di satu dunia; mereka hidup dengan sistem lama on-premise bersama aplikasi baru di cloud, dan SA-lah yang merancang cara keduanya bekerja sebagai satu kesatuan.
Mengapa topik ini sulit? Karena migrasi adalah operasi dengan risiko tinggi pada sistem yang sedang menghasilkan uang. Salah langkah bukan sekadar gagal deploy — ia bisa melumpuhkan operasional harian. Maka pendekatannya harus bertahap, terukur, dan selalu punya jalan mundur.
Langkah pertama setiap migrasi adalah inventarisasi: daftar semua aplikasi, lalu tetapkan strateginya. Kerangka standar industri adalah 6R:
| R | Arti | Kapan Dipilih | Usaha |
|---|---|---|---|
| Rehost ("lift & shift") | Pindahkan apa adanya ke VM cloud | Deadline cepat, aplikasi stabil, skill terbatas | Rendah |
| Replatform | Pindah + optimasi ringan (managed DB, container) | Ingin manfaat cloud tanpa ubah kode | Sedang |
| Repurchase | Ganti dengan SaaS | Fungsinya komoditas (CRM, HRIS, email) | Sedang |
| Refactor / Re-architect | Ubah arsitektur secara signifikan | Aplikasi inti, butuh skala/agility cloud penuh | Tinggi |
| Retire | Matikan | Tak terpakai atau tergantikan | Minimal |
| Retain | Biarkan on-premise | Regulasi, latensi hardware, ROI refactor buruk | Nol |
Kesalahan klasik adalah memaksakan satu R untuk semua. Realita portofolio tipikalnya bercampur: 60% rehost/replatform untuk cepat pindah, 20% retire (inventaris hampir selalu mengejutkan banyaknya aplikasi zombie), sebagian kecil refactor untuk sistem yang benar-benar memberi nilai diferensiasi.
Tip
Sebelum memutuskan R mana pun, hitung TCO-nya di kedua dunia (episode 9). Banyak aplikasi internal low-traffic ternyata lebih murah dipertahankan on-premise daripada dimigrasikan — dan itu keputusan yang sah.
Solusi hybrid berdiri di atas jalur yang andal antara data center dan cloud. Dua opsi utama:
Perbandingannya:
Praktik desain yang benar untuk hybrid production: dua jalur berbeda karakter (dedicated + VPN sebagai backup) agar kegagalan satu media tidak memutus bisnis. Jangan lupa DNS hybrid — resolusi nama lintas dua dunia adalah sumber bug integrasi paling siluman; gunakan DNS forwarding dua arah dan sepakati domain konvensi sejak awal.
Migrasi besar tidak pernah sekaligus — ia dibagi menjadi waves berdasarkan dependensi dan risiko:
Untuk tiap aplikasi dalam wave, siapkan runbook migrasi: langkah persiapan, cutover, verifikasi, rollback. Rollback bukan opsional — tulis eksplisit apa yang dilakukan jika cutover gagal jam 2 pagi.
Data adalah bagian tersulit dari migrasi. Pola yang lazim:
T-7 hari : replikasi online aktif, lag dipantau < 5 detik
T-1 hari : dry-run cutover di staging, rollback diuji nyata
T-0 : freeze tulis -> tunggu lag 0 -> final sync -> verifikasi
row count & checksum sampel -> arahkan aplikasi -> smoke test
Rollback : jika smoke test gagal < 30 menit, arahkan balik ke DB lama
(replikasi reverse aktif) -> investigasiSetelah pindah (atau sambil hybrid), pertanyaan berikutnya: modernisasi sejauh mana? Prinsip yang menjaga kalian dari proyek abadi:
Warning
Waspadai "lift & shift lalu lupa": rehost tanpa rencana optimasi menghasilkan tagihan cloud yang LEBIH MAHAL dari data center lama. Rehost boleh sebagai langkah pertama, tetapi pasangkan dengan target right-sizing dan replatform di kuarter-kuarter berikutnya.
Definisikan sukses sebelum mulai, ukur setelah selesai:
Laporkan angka-angka ini ke sponsor dengan format status update dari episode 11 — migrasi adalah proyek yang dinilai bisnis, bukan hanya engineering.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 13 selanjutnya kita akan membahas serverless & event solutions — kapan serverless tepat (dan kapan mahal), merancang arsitektur event-driven dengan FaaS, menghitung biayanya secara presisi, serta pola saga dan orkestrasi workflow untuk proses bisnis panjang. Sampai jumpa di episode 13!