Belajar membedakan high availability dan disaster recovery, menerjemahkan RTO/RPO menjadi keputusan desain, memilih topologi DR dari backup-restore hingga active-active, menyusun strategi backup yang terbukti bisa di-restorasi, serta menguji ketahanan lewat chaos engineering

Setelah di episode 14 kalian bisa menimbang container vs Kubernetes secara jujur dan mendesain platform yang ber-guardrail, kita hadapi dimensi yang diuji bukan oleh trafik, melainkan oleh musibah: resilience dan disaster recovery. Server mati, AZ tumbang, region gagal, manusia salah hapus database — pertanyaannya bukan apakah itu akan terjadi, melainkan seberapa cepat sistem pulih dan berapa data yang hilang saat itu terjadi.
Mengapa ini ranah SA? Karena RTO/RPO adalah keputusan bisnis yang dieksekusi lewat arsitektur — dan setiap level ambisinya punya harga yang berbeda jauh. Menjanjikan 99,99% tanpa merancang DR-nya sama saja dengan menulis cek tanpa saldo.
Dua istilah ini sering dicampur padahal menjawab kelas kegagalan berbeda:
| Dimensi | High Availability (HA) | Disaster Recovery (DR) |
|---|---|---|
| Menjawab | Komponen gagal → layanan tetap jalan | Situs/datacenter hilang → layanan pulih |
| Cakupan | Multi-instance, multi-AZ dalam satu region | Lintas region / lintas site |
| Contoh insiden | Instance mati, deploy gagal, node rusak | Region outage, bencana alam, ransomware total |
| Mekanisme | Load balancer, replikasi, auto-healing | Backup, failover region, rencana BCP |
Solusi tiket kita contohnya: HA berarti pod order-service di tiga AZ tetap melayani walau satu AZ gelap. DR berarti kalau region ap-southeast-3 seluruhnya tidak tersedia, kalian bisa melayani pembeli lagi dari region lain — dengan target waktu dan data-loss tertentu.
Dua angka ini adalah inti dari setiap desain resilience:
Komponen RTO RPO Implikasi arsitektur
API & web 15 menit 0 stateless, IaC redeploy cepat
DB transaksional 30 menit <= 5 menit cross-region replication async
Object storage 1 jam <= 1 jam cross-region replication bucket
Dashboard analitik 24 jam 24 jam rebuild dari raw zone (episode 7)Cara menetapkannya benar adalah dari kerugian bisnis: jika downtime satu jam saat window sale bernilai Rp 500 juta, maka biaya infrastruktur active-active Rp X juta/bulan langsung punya konteks. Tanpa angka kerugian, semua diskusi DR hanya perdebatan selera — persis pola penerjemahan episode 11.
Important
RTO/RPO tanpa pengujian adalah angka fiksi. Target resmi hanya lahir setelah drill failover nyata membuktikan bahwa angka itu dapat dicapai — dan drill itu harus masuk kalender operasional rutin.
Industri mengenali empat tingkatan strategi DR, dari termurah term lambat sampai termahal tercepat:
| Topologi | Cara Kerja | RTO/RPO Tipikal | Biaya Relatif |
|---|---|---|---|
| Backup & restore | Restore data + redeploy infra saat bencana | Jam-hari / jam | Paling murah |
| Pilot light | Data direplikasi; infra inti mati, dinyalakan saat perlu | ±1 jam / menit | Rendah |
| Warm standby | Versi mini produksi hidup di region kedua | ±menit / detik-menit | Sedang |
| Active-active | Trafik dilayani dua region aktif bersamaan | ~nol / ~nol | Termahal |
Panduan pemilihan yang pragmatis:
Untuk solusi tiket kita: warm standby untuk jalur checkout (replika DB cross-region + image siap), backup & restore untuk dashboard analitik. Tidak semua komponen butuh DR setara — tiering resilience seperti ini menghemat signifikan dibanding memaksakan active-active untuk semuanya.
Backup adalah lapisan terakhir yang bekerja bahkan saat semua mekanisme replikasi ikut gagal (termasuk kasus ransomware). Prinsip-prinsipnya:
# Daftar snapshot DB dan umurnya
aws rds describe-db-snapshots \
--db-instance-identifier ticket-db \
--query 'sort_by(DBSnapshots,&SnapshotCreateTime)[].{id:DBSnapshotIdentifier,created:SnapshotCreateTime}'
# Verifikasi bucket backup punya versioning + object lock
aws s3api get-bucket-versioning --bucket ticket-backups
aws s3api get-object-lock-configuration --bucket ticket-backupsPerintah seperti ini masuk runbook audit bulanan — bukti governance bahwa kebijakan backup bukan sekadar klaim dokumen.
Rencana resilience baru sah setelah dipraktikkan:
Hasil tiap drill masuk sebagai update pada SDD bagian operabilitas (episode 10) — resilience adalah properti yang dirawat, bukan sertifikat sekali-cetak.
DR teknis hanya separuh cerita. Pertanyaan continuity yang harus dijawab bersama bisnis:
Semua jawabannya masuk dokumen BCP ringkas yang dirujuk dari SDD — inilah yang membedakan SA yang berpikir end-to-end dari yang berhenti di diagram infrastruktur.
Tip
Mulailah setiap diskusi DR dengan satu tabel sederhana: komponen × RTO × RPO × topologi. Satu halaman itu memaksa keputusan eksplisit per komponen dan langsung menunjukkan biayanya — jauh lebih efektif daripada presentasi 30 slide tentang konsep bencana.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 16 selanjutnya kita akan membahas performance solution design — capacity planning berbasis angka, menetapkan performance budget per endpoint, strategi caching dan scaling yang tepat sasaran, serta cara membuktikan target performa lewat load testing sebelum production. Sampai jumpa di episode 16!