Belajar Telecom Engineer - Satellite & Non-Terrestrial Networks
Episode 16 of 28

Belajar Telecom Engineer - Satellite & Non-Terrestrial Networks

Meninggalkan menara seluler dan naik ke orbit: membandingkan orbit LEO, MEO, dan GEO beserta trade-off latency-nya, memahami integrasi NTN ke dalam 5G sejak Release 17, arsitektur payload transparan vs regeneratif, serta praktik menghitung link budget satelit dan desain konektivitas area terpencil

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 15 kita mengotomasi ribuan perangkat darat dengan NETCONF/YANG dan ZTP, ada bagian bumi yang tetap tidak ekonomis dicapai tower: lautan, pegunungan, hutan tropis, kepulauan — persis geografi Indonesia. Di sanalah jaringan berbasis satelit masuk, dan sejak 5G Release 17, satelit resmi menjadi bagian standar 3GPP bernama NTN (Non-Terrestrial Networks).

Mengapa topik ini mendadak panas? Karena konstelasi LEO (Starlink, OneWeb, dan proyek-proyek baru) mengubah persepsi lama: satelit bukan lagi "latency ratusan ms untuk daerah terpencil", melainkan layanan broadband 20-50 ms yang bersaing di pasar urban sekaligus jadi backbone darurat saat bencana — skenario yang sangat relevan di negara rawan gempa dan tsunami.

Tiga Orbit, Tiga Karakter

OrbitKetinggianLatency RTTContohTrade-off
LEO300-2000 km~20-50 msStarlink, OneWebBanyak satelit; handover sering
MEO8000-20000 km~130-180 msGPS/Galileo, O3bKompros coverage/konstelasi
GEO35786 km~500-600 msVSAT tradisionalSatu titik tiga satelit global

Logika fisiknya sederhana: makin tinggi orbit, makin luas footprint tiap satelit (butuh unit lebih sedikit), tapi latency dan path loss naik drastis. LEO membalik persamaannya dengan jumlah: ribuan satelit kecil, masing-masing meliputi area sempit, sehingga beam tajam + loss rendah — harga yang dibayar adalah kompleksitas manajemen konstelasi dan handover antar-satelit yang cepat.

Angka penting untuk GEO yang wajib kalian hafal: ketinggian 35.786 km adalah orbit dimana periode orbital = rotasi bumi, sehingga satelit tampak diam. Keuntungannya antena darat statis; biayanya latency ~270 ms satu arah.

NTN dalam Standar 3GPP

Sejak Release 17 (dan diperluas di Rel-18/19), 3GPP mendefinisikan dua mode NTN:

IoT-NTN dan NR-NTN

  • IoT-NTN: NB-IoT/eMTC via satelit — untuk sensor maritim, pelacakan aset, smart metering di luar coverage.
  • NR-NTN: broadband 5G via satelit — direct-to-cell atau terminal VSAT modern.

Dua arsitektur payload:

Payload transparan vs regeneratif
Transparan : satelit = repeater pintar (bentuk frekuensi saja)
             semua cerdas di gateway darat → sederhana, tapi tiap hop lewat darat
Regeneratif: satelit membawa gNB (atau bagiannya) di atas
             inter-satellite link → coverage tanpa gateway lokal, kompleks

Tantangan unik yang diselesaikan standar: doppler shift besar (kecepatan LEO ~7,5 km/s), delay timing advance yang dinamis, dan cell yang bergerak relatif terhadap pengguna. UE harus dilengkapi GNSS agar bisa pre-compensasi doppler dan timing — itulah kenapa chip NTN modern selalu punya GNSS onboard.

Note

Layanan "direct-to-smartphone" via satelit (SMS/sos darurat) menggunakan spektrum operator darat pada satelit LEO — padanan cell dari langit. Kapasitasnya masih sangat kecil per-area, cukup untuk pesan darurat, belum untuk streaming.

Prinsip sama dengan episode 3, tapi parameternya ekstrem:

satellite_link_budget.py
import math
 
def fspl_db(freq_ghz: float, dist_km: float) -> float:
    return 92.45 + 20 * math.log10(freq_ghz) + 20 * math.log10(dist_km)
 
# Downlink LEO: satelit 550 km, Ka-band 20 GHz, beam edge
freq_ghz   = 20.0
slant_km   = 965.0            # elevasi rendah 30 derajat → slant range
eirp_dbw   = 42.0             # EIRP satelit (dBW!)
gt_dbi     = 18.0             # G/T terminal user
atmo_loss  = 1.5              # hujan/atmosfer margin
 
rx = eirp_dbw - fspl_db(freq_ghz, slant_km) + gt_dbi - atmo_loss
print(f"FSPL      : {fspl_db(freq_ghz, slant_km):.1f} dB")
print(f"C/N0      : {rx:.1f} dB-Hz")
print(f"Eb/N0     : {rx - 10*math.log10(50e6):.1f} dB @50 Msps")   # kasar

Perhatikan dua perbedaan dari link budget terrestrial: satelit memakai EIRP dalam dBW (bukan dBm) dan metrik penerima adalah G/T (gain dibagi noise temperature). Hasil tipikal downlink LEO Ku-band memberi C/N0 puluhan dB-Hz — cukup untuk modulasi tinggi dengan coding modern.

Untuk GEO C-band klasik (VSAT), FSPL mencapai ~195 dB — inilah kenapa dish besar dan amplifier kuat dulu wajib; LEO memangkas jarak 40× sehingga terminal bisa sekecil pizza box.

Praktik: Desain Konektivitas Area Terpencil

Latihan episode: desain solusi untuk 12 titik pos pantau hutan di Kalimantan, tiap titik butuh telemetri 1 Mbps + video on-demand.

  1. Klasifikasi kebutuhan: data kecil kontinu + video burst → IoT-NTN kurang (bandwidth video); GEO VSAT cukup tapi latensinya mengganggu video live; LEO broadband paling pas.
  2. Ketersediaan: hitung elevasi minimal — terminal LEO butuh view langit bebas ≥ 25°; survey kanopi hutan menentukan penempatan.
  3. Backhaul hybrid: titik-titik dekat kota pakai LTE biasa dengan fallback satelit (routing policy: default LTE, failover satelit).
  4. Biaya: model capex/opex bandingkan VSAT bulanan vs LEO flat-rate.

Konfigurasi router failover (contoh generik):

Failover LTE utama, satelit cadangan
track 1 interface cellular0 line-protocol
!
ip route 0.0.0.0/0 cellular0 track 1
ip route 0.0.0.0/0 <gw_satelit> 250        # AD lebih tinggi
!
event manager applet FAILOVER-SAT
 event track 1 state down
 action 1.0 cli command "enable"
 action 2.0 syslog msg "LTE down - trafik ke satelit"

Uji dengan mencabut antena LTE: trafik harus berpindah ke jalur satelit tanpa intervensi — dan kembali otomatis saat LTE pulih.

Integrasi Dengan Jaringan Operator

Bagi telecom engineer, pertanyaan praktisnya: bagaimana satelit menyatu dengan jaringan kita?

  • Roaming model: satelit diperlakukan sebagai PLMN terpisah / partner roaming (model awal direct-to-cell).
  • NTN native: gNB regeneratif di satelit terhubung core 5G operator — slice khusus NTN (SST custom) untuk layanan maritim/aviasi.
  • Backhaul: satelit GEO sebagai backhaul microwave alternatif site terpencil — trade-off bandwidth vs biaya fiber.

Common Pitfalls

  • Menyamakan semua "satelit": pitch deck yang menyebut "latency rendah" tanpa menyebut orbit biasanya GEO yang direbranding. Selalu tanyakan: orbit apa, RTT nyata berapa.
  • Lupa rain fade Ku/Ka: di iklim tropis, availability 99,5% vs 99,9% ditentukan margin hujan — angka kontrak harus eksplisit per wilayah.
  • Desain handover LEO seperti terrestrial: satelit lewat overhead dalam hitungan menit; mobilitasnya didominasi pergerakan satelit, bukan pengguna. Parameter mobility harus disetel ulang total.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Tiga orbit dengan trade-off jelas: LEO latency rendah tapi konstelasi kompleks; MEO kompromi navigasi; GEO statis tapi lambat.
  • NTN kini bagian resmi 3GPP (Rel-17+): IoT-NTN dan NR-NTN, dengan payload transparan vs regeneratif.
  • Doppler, timing advance dinamis, dan GNSS-onboard adalah tantangan teknis khas NTN.
  • Kalian sudah menghitung link budget satelit dan mendesain failover hybrid darat-satelit.

Di episode 17 kita bicara tentang miliaran perangkat lain yang juga butuh koneksi: IoT & massive connectivity — NB-IoT, LTE-M, dan desain jaringan untuk massive M2M. Sampai jumpa!

Belajar Telecom Engineer - Satellite & Non-Terrestrial Networks | Belajar Telecom Engineer