Belajar Telecom Engineer - Fixed & FTTx Networks
Episode 9 of 28

Belajar Telecom Engineer - Fixed & FTTx Networks

Menyelami jaringan tetap yang menyambung rumah dan toko: anatomi GPON dengan OLT/ONU/splitter, perbandingan FTTx dari FTTH sampai FTTB, DSL sebagai warisan tembaga, teknik desain fiber ekonomis dengan split ratio, serta praktik merancang area coverage FTTH untuk satu kelurahan

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 8 kita menuntaskan layanan suara di dunia seluler — SIP, IMS, dan SBC — kini kita berpindah ke sisi jaringan yang menyambung rumah, toko, dan gedung: fixed network. Di Indonesia pertumbuhan terbesarnya adalah FTTx (fiber to the x), digerakkan layanan internet rumah dan kebutuhan bisnis.

Mengapa telecom engineer harus paham fixed? Pertama, mayoritas trafik seluler akhirnya "mendarat" di jaringan fixed (backhaul dan interkoneksi). Kedua, pasar kerja FTTx sangat besar — operator membangun puluhan ribu homepass baru setiap bulan. Ketiga, prinsip desainnya (power budget, split ratio, capacity planning) melatih disiplin engineering yang sama seperti radio.

Peta Teknologi Akses Fixed

TeknologiMediaKecepatan RealistisStatus
ADSL2+/VDSLTembaga telepon5-24 / hingga ~100 MbpsWarisan, menyusut
Coax DOCSISKabel TV100 Mbps-1 GbpsTerbatas area
GPONFiber sharedhingga ~1 Gbps per ONTArus utama Indonesia
XGS-PONFiber sharedhingga ~10 Gbps symGenerasi upgrade
PTP Ethernet fiberFiber dedicated1/10 Gbps+Bisnis premium

DSL hidup dari infrastruktur tembaga lama: makin dekat pelanggan ke node (FTTCabinet), makin cepat. Namun kurvanya tak bisa bersaing fiber — strategi industri kini "fiber sejauh mungkin, tembaga sisanya".

Anatomi GPON

GPON (Gigabit Passive Optical Network) punya tiga kata kunci penting: pasif, shared, dan TDMA upstream.

100%

Komponen dan perannya:

  • OLT (Optical Line Terminal) di sentral: mengagregasi ribuan pelanggan, menjalankan DBA (Dynamic Bandwidth Allocation), dan autentikasi ONT.
  • Splitter pasif membagi satu fiber ke 32 (atau 64) pelanggan tanpa listrik — inilah alasan biaya operasional GPON rendah.
  • ONT/ONU di rumah pelanggan: konversi optik-elektrik, sering sekaligus router Wi-Fi.

Kapasitas fisik klasik GPON: downstream 2.488 Gbps, upstream 1.244 Gbps — dibagi semua pelanggan satu PON port. Downstream broadcast (dienkripsi AES); upstream TDMA dengan time slot yang dialokasikan DBA.

Split Ratio dan Power Budget: Seni Desain

Dua keputusan menentukan ekonomis & kelayakan teknis desain GPON:

1. Split Ratio

Pilihan umum: 1:32 atau 1:64 (bisa bertingkat, misal 1:4 di pole × 1:8 di gedung). Trade-off-nya:

  • Ratio besar → lebih banyak homepass per fiber feeder (murah), tapi bandwidth per pelanggan saat busy hour lebih kecil.
  • Aturan oversubscription praktis: rasio kontensi 1:8 sampai 1:16 terhadap paket maksimum; kalau separuh pelanggan aktif jam sibuk ambil paket penuh pada PON 2,5 Gbps, pengalaman pasti memburuk.

2. Power Budget Optik

Sama seperti link budget episode 3 dan 6, kali ini untuk jalur pasif:

Power budget GPON class B+
TX OLT +1.5 dBm − loss splitter 1:32 (~17.5 dB)
− fiber 8 km × 0.35 dB/km (2.8 dB) − connector/splice (~1.5 dB)
= RX ≈ -20.3 dBm → aman dalam window -8..-27 dBm

Class B+ memberi budget total ±28 dB; class C+ (+32 dB) dipakai untuk reach panjang atau split 1:64 agresif. Kalau RX ONT melewati batas atas (terlalu terang!) pun bermasalah — perlu attenuator. Ya, fiber juga bisa "terlalu kuat".

Warning

Keluhan paling umum lapangan FTTx bukan putus total melainkan lambat berkala. Sebelum menyalahkan bandwidth, cek dulu nilai RX power di ONT (ont optical-info): di bawah -27 dBm berarti masalah optik — connector kotor, macrobend, atau splitter rusak.

Verifikasi di OLT

Perintah tipikal (varian Huawei-style) yang wajib kalian kenal:

Diagnostik GPON di OLT
display ont optical-info 0 7 all        # RX/TX power ONT
display ont info 0 7 all                # status & jarak ONT
display ont traffic 0 7 1               # trafik realtime

Kolom distance dari ranging OLT juga berguna mendeteksi ONT yang "hilang" karena drop core terputus-putus.

Praktik: Merancang Coverage FTTH Satu Kelurahan

Latihan episode ini: area 800 rumah, kepadatan sedang, target homepass 90%.

  1. Survey & cluster: bagi area menjadi 6 klaster ±130-150 homepass; tiap klaster satu titik splitter distribusi.
  2. Feeder: tarik kabel 96 core dari STO ke tiap klaster; alokasi 2-3 core per PON port aktif + cadangan.
  3. Splitting strategy: level pertama 1:4 di POP (konsolidasi feeder), level kedua 1:8 di kotak jalanan → efektif 1:32.
  4. Kontensi: 150 homepass ÷ 32 = ~5 PON port per klaster; rencanakan ruang tumbuh 30%.
  5. Redundansi bisnis: pelanggan enterprise dapat PTP fiber dedicated (tanpa splitter) atau XGS-PON terpisah.

Ringkasan BOM kasar per klaster membantu membiasakan angka biaya:

ItemQty per Klaster
Core feeder (km)sesuai rute survey
Splitter 1:4 (POP)2 unit
Splitter 1:8 (jalanan)16 unit
Drop core + closure~150 titik

Common Pitfalls

  • Split ratio ditentukan tim komersial tanpa power budget: hasilnya ONT di ujung jauh RX -29 dBm — "connect tapi putus-putus", keluhan berulang tanpa akhir.
  • Melupakan cadangan core: feeder penuh saat mau upgrade XGS-PON → gali ulang sepanjang rute. Selalu sisakan minimal 25% core kosong.
  • Menyamakan ONT bridge dan router mode: mode salah membuat PPPoE gagal atau double NAT; pahami arsitektur BNG agar tahu siapa yang terminate sesi pelanggan.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • GPON = pasif, shared, TDMA upstream; OLT cerdas, splitter buta-listrik, ONT di pelanggan.
  • Desain FTTx adalah keseimbangan split ratio vs power budget vs kontensi — tiga variabel yang saling mengunci.
  • Diagnostik dimulai dari angka: RX power ONT adalah vital sign pertama.
  • Rancangan area selalu sisakan kapasitas cadangan untuk generasi berikutnya (XGS-PON).

Di episode 10 kita naik dari jaringan ke manajemennya: OSS/BSS — FCAPS, NMS, provisioning, dan billing, sistem yang membuat operator melayani jutaan pelanggan tanpa chaos. Sampai jumpa!