Menyelami jaringan tetap yang menyambung rumah dan toko: anatomi GPON dengan OLT/ONU/splitter, perbandingan FTTx dari FTTH sampai FTTB, DSL sebagai warisan tembaga, teknik desain fiber ekonomis dengan split ratio, serta praktik merancang area coverage FTTH untuk satu kelurahan

Setelah di episode 8 kita menuntaskan layanan suara di dunia seluler — SIP, IMS, dan SBC — kini kita berpindah ke sisi jaringan yang menyambung rumah, toko, dan gedung: fixed network. Di Indonesia pertumbuhan terbesarnya adalah FTTx (fiber to the x), digerakkan layanan internet rumah dan kebutuhan bisnis.
Mengapa telecom engineer harus paham fixed? Pertama, mayoritas trafik seluler akhirnya "mendarat" di jaringan fixed (backhaul dan interkoneksi). Kedua, pasar kerja FTTx sangat besar — operator membangun puluhan ribu homepass baru setiap bulan. Ketiga, prinsip desainnya (power budget, split ratio, capacity planning) melatih disiplin engineering yang sama seperti radio.
| Teknologi | Media | Kecepatan Realistis | Status |
|---|---|---|---|
| ADSL2+/VDSL | Tembaga telepon | 5-24 / hingga ~100 Mbps | Warisan, menyusut |
| Coax DOCSIS | Kabel TV | 100 Mbps-1 Gbps | Terbatas area |
| GPON | Fiber shared | hingga ~1 Gbps per ONT | Arus utama Indonesia |
| XGS-PON | Fiber shared | hingga ~10 Gbps sym | Generasi upgrade |
| PTP Ethernet fiber | Fiber dedicated | 1/10 Gbps+ | Bisnis premium |
DSL hidup dari infrastruktur tembaga lama: makin dekat pelanggan ke node (FTTCabinet), makin cepat. Namun kurvanya tak bisa bersaing fiber — strategi industri kini "fiber sejauh mungkin, tembaga sisanya".
GPON (Gigabit Passive Optical Network) punya tiga kata kunci penting: pasif, shared, dan TDMA upstream.
Komponen dan perannya:
Kapasitas fisik klasik GPON: downstream 2.488 Gbps, upstream 1.244 Gbps — dibagi semua pelanggan satu PON port. Downstream broadcast (dienkripsi AES); upstream TDMA dengan time slot yang dialokasikan DBA.
Dua keputusan menentukan ekonomis & kelayakan teknis desain GPON:
Pilihan umum: 1:32 atau 1:64 (bisa bertingkat, misal 1:4 di pole × 1:8 di gedung). Trade-off-nya:
Sama seperti link budget episode 3 dan 6, kali ini untuk jalur pasif:
TX OLT +1.5 dBm − loss splitter 1:32 (~17.5 dB)
− fiber 8 km × 0.35 dB/km (2.8 dB) − connector/splice (~1.5 dB)
= RX ≈ -20.3 dBm → aman dalam window -8..-27 dBmClass B+ memberi budget total ±28 dB; class C+ (+32 dB) dipakai untuk reach panjang atau split 1:64 agresif. Kalau RX ONT melewati batas atas (terlalu terang!) pun bermasalah — perlu attenuator. Ya, fiber juga bisa "terlalu kuat".
Warning
Keluhan paling umum lapangan FTTx bukan putus total melainkan lambat berkala. Sebelum menyalahkan bandwidth, cek dulu nilai RX power di ONT (ont optical-info): di bawah -27 dBm berarti masalah optik — connector kotor, macrobend, atau splitter rusak.
Perintah tipikal (varian Huawei-style) yang wajib kalian kenal:
display ont optical-info 0 7 all # RX/TX power ONT
display ont info 0 7 all # status & jarak ONT
display ont traffic 0 7 1 # trafik realtimeKolom distance dari ranging OLT juga berguna mendeteksi ONT yang "hilang" karena drop core terputus-putus.
Latihan episode ini: area 800 rumah, kepadatan sedang, target homepass 90%.
Ringkasan BOM kasar per klaster membantu membiasakan angka biaya:
| Item | Qty per Klaster |
|---|---|
| Core feeder (km) | sesuai rute survey |
| Splitter 1:4 (POP) | 2 unit |
| Splitter 1:8 (jalanan) | 16 unit |
| Drop core + closure | ~150 titik |
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 10 kita naik dari jaringan ke manajemennya: OSS/BSS — FCAPS, NMS, provisioning, dan billing, sistem yang membuat operator melayani jutaan pelanggan tanpa chaos. Sampai jumpa!