Sebelum menyentuh Traefik, kalian perlu memahami konsep reverse proxy, HTTP, DNS, TLS, serta dasar-dasar Docker dan YAML. Di episode ini kalian menyiapkan environment, memverifikasi Docker dan tool pendukung, serta membangun fondasi skill yang dipakai sepanjang series.

Selamat datang di series Belajar Traefik! Series ini akan membawa kalian menguasai Traefik — cloud-native edge router dan reverse proxy open-source yang ditulis dalam bahasa Go — dari fondasi konsep sampai production readiness. Total ada 31 episode yang tersusun dari tujuh fase, dimulai dari fundamental, Docker, middlewares, TLS, Kubernetes, observability, sampai best practices production.
Tapi sebelum menyentuh traefik.yml, ada beberapa skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian miliki. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Traefik bukan sekadar web server biasa. Dia bekerja di perbatasan jaringan kalian: menerima request dari internet, mencocokkan aturan routing, memodifikasi request lewat middleware, lalu meneruskan ke backend yang tepat. Tanpa memahami HTTP, DNS, dan Docker, semua istilah seperti entrypoint, router, dan provider akan terasa membingungkan.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar, menyiapkan perangkat lunak, memeriksa persyaratan hardware, dan melakukan verifikasi environment pertama. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
Traefik adalah reverse proxy. Pahami dulu konsep intinya: sebuah server di tengah yang menerima request atas nama backend, menyembunyikan detail internal, dan bisa menangani banyak layanan sekaligus. Kalian juga wajib nyaman dengan protokol HTTP: method seperti GET, POST, PUT, status code seperti 200, 301, 404, 502, serta konsep header, host, dan path. Traefik membaca semua informasi ini untuk mengambil keputusan routing.
Lalu pahami DNS: bagaimana nama domain di-resolve menjadi alamat IP, apa itu A record, CNAME, dan wildcard domain. Lengkapi dengan TLS/SSL: peran sertifikat, handshake, dan mengapa enkripsi HTTPS penting. Terakhir, pahami dasar networking: port, protocol TCP dan UDP, IP address, serta konsep load balancing. Semua ini dipakai Traefik setiap kali menangani request.
Karena sebagian besar series memakai Docker, kuasai dasar-dasarnya: image, container, volume, network, dan port binding. Pastikan juga nyaman membaca YAML dan TOML, karena konfigurasi Traefik memakai kedua format ini. Indentasi YAML sangat menentukan — satu spasi salah bisa membuat Traefik menolak konfigurasi.
Tool paling penting di series ini adalah Docker. Traefik rilis sebagai image resmi, dan cara termudah menjalankannya adalah sebagai container. Persiapkan Docker Engine versi terbaru beserta Docker Compose plugin:
docker --version
docker compose version
docker infoPastikan ketiganya berjalan tanpa error. docker info menampilkan detail daemon — kalian akan butuh ini untuk memastikan Docker aktif. Versi Traefik yang kita pakai adalah Traefik v3.x, dengan pembahasan komparatif ke v2 di episode 30.
Selain Docker, siapkan tool berikut:
nginx:alpine dan httpd cukup untuk simulasi backend.kind atau minikube.Siapkan semuanya sekarang agar tidak tersendat di episode-episode berikutnya:
git --version
openssl version
curl --versionTraefik sangat ringan, tapi kalian juga menjalankan Docker beserta beberapa container backend sekaligus. Patokan berikut cukup nyaman untuk mengikuti seluruh series:
Jika memakai VM, siapkan minimal dua VM bila ingin menguji high availability di episode 26. Kalau hanya mengikuti sampai episode 13, satu mesin saja sudah cukup.
Tip
Untuk development lokal, jalankan Docker dengan driver docker-driver bawaan atau Docker Desktop. Pastikan daemon berjalan sebelum menjalankan container apa pun.
Buat direktori kerja untuk seluruh series. Struktur yang rapi akan menyelamatkan kalian dari kebingungan saat konfigurasi menumpuk:
mkdir -p ~/learn-traefik
cd ~/learn-traefik
mkdir -p config app1 app2Direktori config akan menampung file konfigurasi Traefik, sedangkan app1 dan app2 dipakai untuk aplikasi sample backend. Semua contoh di series ini diasumsikan berjalan dari ~/learn-traefik.
Jalankan uji cepat untuk memastikan Docker benar-benar berfungsi, bukan sekadar terinstall:
docker run --rm -d --name test-nginx -p 8080:80 nginx:alpine
curl -s -o /dev/null -w "%{http_code}\n" http://localhost:8080
docker rm -f test-nginxJika output menampilkan 200, environment kalian siap. Perintah curl di atas memeriksa kode status HTTP dari container sample. Image nginx:alpine juga akan dipakai sebagai backend di episode 5.
Rangkuman prasyarat yang sudah kalian siapkan di episode 0:
Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi sebelum melanjutkan. Fondasi yang kuat akan membuat 30 episode berikutnya terasa jauh lebih ringan.
Inti yang harus dibawa pulang:
docker info, openssl version, dan smoke test container.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa membutuhkan Traefik — dari evolusi reverse proxy tradisional, kelahiran Traefik oleh Containous pada 2015, hingga perbandingannya dengan NGINX, HAProxy, Envoy, dan Caddy. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Traefik baru saja dimulai!