Sebelum menyentuh zsh, kalian perlu menguasai dasar terminal & command line, memahami perbedaan shell interaktif vs skrip, dan menyiapkan perangkat lunak seperti zsh 5.9.2, terminal modern, serta editor. Di episode ini kalian juga memverifikasi bahwa environment benar-benar siap dipakai sepanjang series

Selamat datang di series Belajar Zsh! Series ini akan membawa kalian menguasai Zsh (Z Shell) — shell interaktif modern yang menjadi default di macOS dan pilihan utama developer di banyak distro Linux — mulai dari instalasi, konfigurasi .zshrc, completion system, globbing, hingga scripting dan otomasi CLI. Total ada 23 episode yang tersusun dalam lima fase, dari fondasi konsep sampai production readiness.
Sebelum menulis echo "Hello Zsh", ada skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Zsh bukan sekadar program yang dijalankan — ia adalah interface antara kalian dan sistem operasi. Semua yang kalian pelajari di series ini (prompt, completion, globbing, plugin) bekerja di atas fondasi cara kalian mengetik di terminal, memahami command line, dan mengelola proses.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar terpenuhi, menyiapkan zsh 5.9.2, terminal, dan editor, lalu memverifikasi environment untuk pertama kali. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
Zsh adalah shell — jadi kalian wajib nyaman dengan terminal, tahu bedanya perintah yang built-in di shell (misalnya cd) dengan binary di PATH (misalnya grep), serta terbiasa membaca output dan pesan error. Latihan kecil: cek shell aktif dan versinya.
echo "$SHELL"
$SHELL --version 2>/dev/null || bash --version | head -1Kabar baiknya: Zsh kompatibel dengan sebagian besar sintaks bash. Artinya skrip bash sederhana yang kalian kenal — for, if, while, variabel, pipe, redirect — sebagian besar berjalan langsung di Zsh. Semakin kuat fondasi bash kalian, semakin cepat kalian memahami episode 4 yang membahas kompatibilitas ini secara detail.
NAME="world"
echo "Hello $NAME"
false; echo "exit code=$?"Jika muncul Hello world dan exit code=1, konsep variabel dan exit code sudah bekerja.
Kalian wajib lancar berpindah direktori dan mengelola file karena seluruh praktik series ini melakukannya. Di episode 8 kita akan meningkatkan kemampuan navigasi ini secara drastis dengan autocd, cdpath, dan pushd/popd.
mkdir -p ~/zsh-lab && cd ~/zsh-lab
touch test.txt && ls -lTarget versi di series ini adalah zsh 5.9.2 (rilis 12 Juli 2026 — minor bugfix setelah 5.9.1). Zsh sudah menjadi default shell macOS sejak Catalina (2019), jadi pengguna macOS tinggal verifikasi. Di Linux, install sesuai package manager:
sudo apt install zsh # Debian/Ubuntu
sudo pacman -S zsh # Arch
sudo dnf install zsh # RHEL/Fedora
brew install zsh # macOS (Homebrew)Zsh menyala lebih terang di terminal yang mendukung true color, unicode, dan fitur modern. Pilih salah satu sesuai platform: iTerm2 atau Kitty di macOS, Kitty/Alacritty/WezTerm di Linux, dan Windows Terminal + WSL di Windows. Terminal modern juga penting karena prompt yang kita bangun di episode 7 menggunakan warna dan ikon.
Prompt dan .zshrc adalah file teks — kalian butuh editor yang nyaman. VS Code dengan ekstensi syntax highlighting Zsh sangat direkomendasikan untuk praktik di series ini. Jangan lupa set editor default untuk perintah yang membuka editor dari shell:
export EDITOR=nanoSebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi menyeluruh:
zsh --version
which zsh
echo $ZSH_VERSIONzsh --version harus mencetak zsh 5.9.2 (x86_64-pc-linux-gnu) atau sejenisnya. Jika versi kalian lebih tua, sebaiknya update dulu — episode 20 akan membahas apa saja yang berubah di 5.9.x.
Warning
Pastikan versi zsh kalian minimal 5.8 agar semua fitur di series ini tersedia (misalnya autosuggestion-friendly completion dan perbaikan globbing). Target idealnya 5.9.2 persis seperti di outline.
Sekarang masuk ke Zsh untuk pertama kali dan pastikan prompt muncul:
zsh
echo "Selamat datang di $ZSH_NAME"Tip
Belum perlu chsh -s $(which zsh) sekarang — cara menjadikan Zsh sebagai default shell dibahas lengkap di episode 3. Untuk praktik, cukup jalankan zsh kapan pun dibutuhkan.
Rangkuman yang sudah kalian siapkan di episode 0:
EDITOR ter-set.~/zsh-lab untuk mencoba perintah sepanjang series.zsh --version mencetak versi yang benar dan prompt Zsh muncul.Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dulu dan lengkapi sebelum melanjutkan. Perjalanan 22 episode ke depan akan jauh lebih lancar dengan pijakan yang kuat ini.
Inti yang harus dibawa pulang:
~/zsh-lab.zsh --version dan masuk ke Zsh untuk pertama kali.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa membutuhkan Zsh — dari lahirnya sebagai superset ksh karya Paul Falstad pada 1990, menjadi default macOS sejak Catalina 2019, hingga alasan completion, globbing, dan ekosistem pluginnya membuat Zsh layak menjadi shell harian kalian. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Zsh baru saja dimulai!