Menjalankan download file pertama lewat HTTP/HTTPS: memahami output progress aria2, menyimpan file ke direktori tertentu dengan -d, mengganti nama dengan -o, serta mengendalikan log dengan --summary-interval, --console-log-level, -q, dan --log.

Setelah di episode 2 kita membedah arsitektur aria2 — dari tiga mode menjalankan aria2c hingga segment-based download — saatnya episode paling praktis: men-download file yang sesungguhnya lewat HTTP/HTTPS. Episode ini adalah tonggak, karena mulai dari sini semua perintah yang kalian pelajari langsung bisa dipakai untuk hal nyata: mengambil file dari server, mengunduh aset, dan mempersiapkan fondasi untuk fitur-fitur canggih di episode berikutnya.
Perbedaan yang akan kalian rasakan sejak pertama: aria2 langsung menulis file ke disk, dan secara default ia menampilkan progress yang sangat informatif — termasuk jumlah koneksi aktif dan estimasi waktu selesai. Itu bukan kebetulan: ia memang dirancang sebagai downloader, bukan request tool seperti curl.
Buka terminal, masuk ke direktori kerja yang bersih, dan jalankan:
aria2c https://example.com/file.isoOutput yang kalian lihat kurang lebih seperti ini:
[#c6f2a1 0.0MiB/2.0MiB(0%) CN:1 DL:0B ETA:0s]
Download Results:
gid |stat|avg speed |path/URI
======+====+===========+=======================================================
c6f2a1|OK | 2.0MiB/s|/home/user/downloads/file.isoBagian yang perlu kalian pahami dari progress aria2:
| Elemen | Arti |
|---|---|
#c6f2a1 | GID — identitas unik download; dipakai untuk mengontrol download lewat RPC |
0.0MiB/2.0MiB(0%) | Kemajuan: terunduh / total |
CN:1 | Jumlah koneksi aktif saat ini |
DL:0B | Kecepatan download saat ini |
ETA:0s | Estimasi waktu selesai |
Di akhir, aria2 menampilkan ringkasan Download Results — baris OK menandakan download selesai, lengkap dengan kecepatan rata-rata dan path file tersimpan. Belajar membaca baris ini sejak awal akan sangat membantu, karena semua download (termasuk yang dikendalikan via RPC) melaporkan diri dalam format yang sama.
Note
example.com sengaja dicadangkan IANA untuk dokumentasi — stabil, ringan, dan selalu tersedia, jadi aman untuk latihan. Cek hasilnya dengan ls — kalian akan melihat file file.iso di direktori kerja.
-d dan -oSecara default aria2 men-download ke direktori kerja saat ini dengan nama file dari URL. Untuk mengendalikan keduanya, aria2 menyediakan dua opsi: -d (atau --dir) untuk direktori tujuan dan -o (atau --out) untuk nama file:
aria2c -d /tmp/downloads -o ubuntu.iso https://example.com/file.isoPerintah di atas menyimpan file sebagai /tmp/downloads/ubuntu.iso. Direktori yang belum ada akan dibuat otomatis oleh aria2. Ini seperti menentukan "gudang tujuan" sebelum pengiriman — hasil download tidak bercampur dengan file kerja lain.
Tip
Opsi -o tidak berlaku untuk download BitTorrent dan Metalink — untuk dua jenis itu, nama file ditentukan dari metadata .torrent atau .meta4. Kita akan mempelajarinya di episode 10 hingga 12. Untuk download HTTP/HTTPS biasa, -o selalu berfungsi.
Download file besar bisa berjalan berjam-jam, dan kalian tidak bisa menatap layar sepanjang waktu. Aria2 menyediakan kontrol penuh atas output dan log:
| Opsi | Fungsi |
|---|---|
--summary-interval=SEC | Frekuensi ringkasan progress dalam detik |
--console-log-level=LEVEL | Tingkat detail log di terminal |
-q | Mode sunyi — mematikan progress dan log |
--log=FILE | Menulis log ke file |
Contoh yang paling berguna untuk download panjang:
aria2c --summary-interval=5 --log=/tmp/aria2.log https://example.com/file.isoTingkat log --console-log-level diurutkan dari yang paling banyak ke paling sedikit detailnya:
| Level | Detail | Kapan Dipakai |
|---|---|---|
debug | Semua termasuk debug internal | Menyelidiki masalah yang sulit |
info | Info normal termasuk progress | Sesi manual |
notice | Peristiwa penting saja | Default |
warn | Hanya peringatan dan error | Sesi bersih untuk script |
error | Hanya error fatal | Paling tenang |
Kombinasi yang banyak dipakai di production: -q untuk script (silent), --log untuk menyimpan riwayat, dan --summary-interval yang lebih besar untuk download yang sangat panjang agar terminal tidak dibanjiri baris.
Menjalankan di direktori yang salah. Download masuk ke direktori kerja saat ini. Selalu cek pwd jika lokasi file penting, atau gunakan -d secara eksplisit.
Build tanpa fitur HTTPS. Jika Enabled Features di aria2c --version tidak memuat HTTPS, semua download https:// akan gagal. Pastikan build kalian sehat seperti yang kita cek di episode 0.
-o pada BitTorrent atau Metalink. Opsi ini tidak berlaku untuk dua jenis download tersebut — gunakan untuk HTTP/HTTPS saja.
Terminal terlihat "membeku". Jika output tidak dialihkan ke file, progress di-refresh tiap detik. Pada file kecil download selesai begitu cepat sehingga hanya tersisa ringkasan — itu normal, bukan error.
Pada episode 3 ini, kalian telah menjalankan download file pertama lewat HTTP/HTTPS: memahami elemen-elemen progress aria2 (GID, CN, DL, ETA) dan format Download Results, mengatur direktori tujuan dengan -d, mengganti nama file dengan -o, serta mengendalikan output dan log dengan --summary-interval, --console-log-level, -q, dan --log.
Inti yang harus dibawa pulang:
aria2c URL men-download ke direktori kerja saat ini dengan nama file dari URL.-d DIR mengatur direktori tujuan; -o NAME mengatur nama file.--summary-interval mengatur frekuensi ringkasan; -q mematikan output; --log menyimpan riwayat.Di episode 4 selanjutnya kita akan membahas multi-connection & multi-source — melepas rem default aria2 dengan -x 16 -s 16, mengatur ukuran minimal segmen dengan -k, serta men-download dari banyak mirror sekaligus untuk memaksimalkan bandwidth. Sampai jumpa di episode 4!