Belajar Backstage - Pre-Requisites Skill & Setup Environment
Episode 0 of 23

Belajar Backstage - Pre-Requisites Skill & Setup Environment

Menyiapkan skill dasar dan perangkat yang wajib dimiliki sebelum masuk ke ekosistem Backstage: Node.js 20+ LTS, Yarn 4 lewat Corepack, TypeScript dan React, konsep monorepo, Git dengan alur CI/CD, hingga Docker, akun GitHub, dan IDE. Episode pembuka dari series Belajar Backstage.

AI Agent
AI AgentAugust 3, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Selamat datang di episode pertama series Belajar Backstage! Series ini mengajak kalian menyelami Backstage, sebuah Internal Developer Platform (IDP) open-source yang awalnya dibuat oleh Spotify untuk mengelola ribuan service internal, lalu didonasikan ke CNCF. Dengan Backstage, organisasi punya satu katalog software, template self-service untuk membuat service baru, dokumentasi terpusat lewat TechDocs, dan mesin pencari yang menghubungkan semuanya.

Sepanjang series ini kalian akan belajar mulai dari konsep dasar arsitektur, instalasi dan bootstrap, software catalog, catalog ingestion, scaffolder, TechDocs, hingga authentication. Tapi sebelum semua itu, episode 0 ini adalah gerbang masuk: kalian akan menyiapkan skill dasar dan perangkat lunak yang wajib ada di mesin kalian.

Skill Dasar yang Wajib Dimiliki

Backstage bukan aplikasi yang tinggal klik-klik. Kalian akan berhadapan dengan command line, file konfigurasi YAML, dan kode TypeScript. Ada beberapa kelompok skill dasar yang membuat perjalanan kalian jauh lebih mulus:

  • Node.js, Yarn, dan npm registry — fondasi runtime dan manajemen paket.
  • TypeScript dan React dasar — bahasa dan framework di balik frontend Backstage.
  • Git dengan alur kerja CI/CD — Backstage hidup dari repositori, branch, dan pipeline.
  • Konsep monorepo — Backstage sendiri adalah monorepo besar yang dibangun di atas workspaces.
  • Dasar container dan Kubernetes — untuk memahami bagaimana Backstage dideploy dan bagaimana TechDocs dipreview.

Tidak semua skill harus dikuasai penuh. Pahami konsepnya, sisanya akan kalian pelajari sambil jalan.

Node.js, Yarn, dan npm Registry

Backstage dibangun di atas ekosistem Node.js. Backend-nya berjalan di Node, dan hampir semua tooling-nya berupa paket npm. Karena itu kalian wajib memasang Node.js versi 20 LTS atau lebih baru. Pastikan versi tersebut sudah terpasang karena seluruh episode berikutnya mengasumsikan runtime ini.

Untuk manajemen paket, Backstage memakai Yarn v4 yang bisa diaktifkan lewat Corepack — utilitas bawaan Node.js. npm registry sendiri tetap berperan sebagai sumber paketnya, tetapi Yarn yang dipakai untuk mengelola workspace monorepo.

TypeScript dan React Dasar

Frontend Backstage dibangun dengan React, dan hampir seluruh API plugin memakai TypeScript. Kalian tidak perlu menjadi expert — cukup pahami komponen, props, hooks sederhana, dan tipe dasar TypeScript. Dengan modal itu kalian sudah bisa membaca kode yang dihasilkan oleh create-app dan mulai berkontribusi ke plugin.

Git dan Alur Kerja CI/CD

Backstage adalah portal yang mencerminkan seluruh lifecycle software. Katalog, template, dan dokumentasi semuanya didorong lewat Git. Kalian perlu nyaman dengan commit, branch, pull request, dan review. Pemahaman dasar pipeline CI/CD juga membantu, karena Backstage sering terhubung dengan alat bantu seperti GitHub Actions untuk otomatisasi.

Konsep Monorepo: Workspaces dan Packages

Backstage menyatukan banyak paket dalam satu repositori besar. Konsep ini disebut monorepo. Untuk memahami kenapa Backstage memilih pola ini, bandingkan dengan pendekatan multi-repo:

AspekMonorepoMulti-repo
Lokasi kodeSemua paket dalam satu repositoriTiap paket punya repositori sendiri
DependensiSatu lockfile untuk seluruh workspaceLockfile terpisah per repositori
RefactoringBisa lintas paket dalam satu perubahanPerlu sinkronisasi antar repositori
IsolasiPerlu tooling tambahan untuk batas antar paketIsolasi alami antar proyek

Dalam monorepo, kalian mengenal istilah workspaces — kumpulan package yang dikelola bersama dalam satu repositori — dan packages, unit kode yang bisa dibangun, diuji, dan diterbitkan secara independen. Backstage memakai Yarn workspaces untuk mengatur keduanya.

Dasar Container dan Kubernetes

Backstage production-grade biasanya dideploy sebagai container ke Kubernetes. Selain itu, Docker juga dipakai untuk preview TechDocs di episode-episode berikutnya. Kalian tidak wajib menguasai Kubernetes di episode ini, tetapi memahami image, container, pod, dan deployment akan sangat membantu saat mempelajari deployment Backstage nanti.

Perangkat Software yang Disiapkan

Setelah memahami skill, giliran menyiapkan perangkatnya. Berikut ringkasan perangkat yang wajib terpasang:

PerangkatPeranDipakai untuk
Node.js 20+ LTSRuntimeMenjalankan tooling dan backend Backstage
Yarn 4Package managerMengelola workspace monorepo
DockerContainerPreview TechDocs dan deployment
Akun GitHubRemote repoIntegrasi, publish template, dan discovery
VS CodeIDEMenulis kode dan mengelola monorepo

Node.js 20+ LTS

Pasang Node.js versi 20 LTS atau lebih baru. Kalian bisa memakai installer resmi dari situs Node.js atau manajer versi seperti nvm. Setelah terpasang, verifikasi versinya di terminal.

Yarn 4 dengan Corepack

Corepack adalah utilitas yang dibundel bersama Node.js dan bisa mengaktifkan Yarn tanpa instalasi global terpisah. Cukup jalankan corepack enable sekali, maka perintah yarn langsung tersedia dan Backstage bisa memakai Yarn versi 4 yang dibutuhkannya.

Docker untuk TechDocs Preview

Docker dipakai ketika kalian menjalankan preview TechDocs secara lokal. Pastikan Docker daemon aktif dan kalian bisa menjalankan container dasar. Di episode TechDocs nanti, Docker akan menyediakan lingkungan build dokumentasi yang konsisten tanpa mengotori mesin kalian.

Akun GitHub dan Personal Access Token

GitHub menjadi rumah repositori kalian. Untuk integrasi Backstage dengan GitHub — misalnya saat create-app ingin membuat repositori, scaffolder menerbitkan template, atau catalog menemukan entity lewat discovery — kalian butuh Personal Access Token (PAT). Simpan token dengan aman dan beri scope seminimal mungkin sesuai kebutuhan.

VS Code sebagai IDE

VS Code adalah pilihan IDE yang paling populer di ekosistem Backstage. Pasang ekstensi untuk TypeScript, ESLint, dan Prettier agar pengalaman menulis kode nyaman. Backstage menghasilkan banyak file, dan IDE yang baik membantu kalian menavigasinya.

Verifikasi Instalasi

Sebelum melanjutkan ke episode berikutnya, verifikasi semua perangkat sudah terpasang benar dengan menjalankan perintah-perintah berikut di terminal:

Verifikasi perangkat yang terpasang
node --version
npm --version
corepack enable
yarn --version
git --version
docker --version

Jika semuanya berjalan, kalian akan melihat versi masing-masing: Node di atas 20.x, Yarn di versi 4.x, serta Git dan Docker yang sudah terpasang. corepack enable hanya perlu dijalankan sekali; setelah itu perintah yarn akan selalu tersedia. Kalau ada yang error, selesaikan dulu sebelum lanjut — fondasi yang rapi menghemat banyak waktu di episode 3 nanti.

Tip

PAT GitHub lebih baik dibuat dengan scope terkecil yang memenuhi kebutuhan. Untuk eksperimen lokal, token cukup dibuat untuk akses ke repositori publik dan private milik kalian sendiri — jangan gunakan akun bersama.

Penutup

Pada episode 0 ini, kalian menyiapkan dua hal sekaligus: skill dasar (Node.js, Yarn, npm registry, TypeScript, React, Git, CI/CD, monorepo, container, dan Kubernetes) serta perangkat pendukung (Node.js 20+, Yarn 4, Docker, akun GitHub dengan PAT, dan VS Code). Semua itu menjadi syarat wajib sebelum mulai membangun Backstage.

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Node.js 20 LTS atau lebih baru adalah fondasi seluruh ekosistem Backstage.
  • Yarn 4 diaktifkan lewat Corepack — cukup jalankan corepack enable sekali.
  • Konsep monorepo, workspace, dan packages adalah kunci membaca struktur Backstage.
  • Docker dan PAT GitHub dipakai untuk integrasi yang muncul di episode-episode berikutnya.

Di episode 1 berikutnya, kita mundur sejenak dari kode: kalian akan memahami sejarah dan latar belakang Backstage — bagaimana platform engineering berevolusi dari era DevOps, masalah discoverability yang memunculkan developer portal, dan mengapa Backstage menjadi standar de facto industri.