Belajar BI Analyst - Data Quality & Governance
Episode 14 of 28

Belajar BI Analyst - Data Quality & Governance

Episode ini membahas data quality & governance dari sudut pandang BI: data profiling, tujuh dimensi kualitas data, data lineage untuk melacak asal angka, trust framework, dan praktik membangun audit data quality untuk Superstore

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Di episode 13 kalian membuka self-service BI ke banyak pengguna. Sekarang muncul pertanyaan paling sensitif: kalau banyak orang memakai data, bagaimana memastikan datanya benar? Satu angka yang salah di dashboard bisa mengubah keputusan jutaan rupiah — dan kepercayaan stakeholder hilang lebih cepat daripada dibangun kembali.

Episode ini membahas data quality & governance: bukan hanya urusan Data Engineer, tetapi tanggung jawab bersama yang dimulai dari sikap kalian terhadap setiap angka yang keluar. Sebagai BI Analyst, kalian adalah garda terakhir sebelum angka dilihat stakeholder — kalian wajib bisa membuktikan bahwa angka itu benar.

Tujuh Dimensi Data Quality

Kualitas data tidak satu ukuran. Tujuh dimensi yang umum dijadikan acuan:

DimensiPertanyaanContoh Pemeriksaan
CompletenessApakah semua data ada?Persentase NULL di kolom sales
AccuracyApakah data benar?profit = revenue - cost?
ConsistencyApakah sama di semua tempat?region di orders vs dim_customer
TimelinessApakah data masih segar?Data kemarin sudah masuk pipeline pagi ini?
UniquenessApakah tidak ada duplikat?order_id unik di fact_orders
ValidityApakah sesuai aturan format?order_date bukan teks aneh
IntegrityApakah relasi antar tabel utuh?customer_id di fact ada di dimension

Dashboard yang bagus pun tidak berguna jika salah satu dimensi di atas rusak. Kalian tidak perlu memeriksa semuanya setiap hari — tetapi wajib tahu dimensi mana yang paling berisiko untuk data yang kalian kelola.

Data Profiling

Data profiling adalah proses memeriksa data untuk memahami isinya sebelum dibangun di atasnya. Ini langkah pertama yang harus dilakukan sebelum membangun dashboard dari sumber baru. Contoh profiling di SQL:

Profil dasar fact_orders
SELECT
    COUNT(*)                                            AS total_rows,
    COUNT(DISTINCT order_id)                            AS unique_orders,
    COUNT(*) - COUNT(order_id)                          AS null_order_id,
    COUNT(*) - COUNT(sales)                             AS null_sales,
    MIN(order_date)                                     AS earliest,
    MAX(order_date)                                     AS latest,
    ROUND(AVG(sales), 2)                                AS avg_sales,
    ROUND(PERCENTILE_CONT(0.5) WITHIN GROUP (ORDER BY sales)::numeric, 2) AS median_sales
FROM fact_orders;

Bacaan hasilnya:

  • unique_orders vs total_rows → apakah ada baris duplikat?
  • null_* → seberapa lengkap datanya?
  • earliest/latest → rentang waktu (masuk akal atau ada outlier tanggal)?
  • avg_sales vs median_sales → jika jauh berbeda, ada outlier besar yang perlu diselidiki.

Profiling rutin ini — dipadukan dengan dbt test dari episode 6 — adalah alat deteksi dini data rusak.

Data Lineage

Data lineage adalah peta perjalanan data: dari sumber mentah, melewati transformasi, sampai muncul di dashboard. Kenapa penting? Karena saat stakeholder bertanya "kenapa angka ini beda?", kalian harus bisa menelusuri asal angkanya dalam hitungan menit.

Alur lineage yang sehat:

text
orders.csv (source)
  → stg_orders (staging, cast tipe data)
    → fact_orders (mart, relasi ke dim)
      → semantic layer (metric: revenue)
        → dashboard Sales Performance

Dalam praktiknya:

  • dbt menyimpan lineage otomatis (dbt docs generate menampilkan DAG lengkap) — momen untuk menghargai keputusan kita di episode 6.
  • Setiap tabel/model sebaiknya punya dokumentasi: sumbernya, transformasinya, siapa pemiliknya.
  • Saat angka berubah secara mencurigakan, telusuri upstream (model mana yang berubah inputnya) dan downstream (dashboard mana yang terpengaruh).

Membangun Trust Framework

Data yang baik tidak cukup — pengguna harus percaya. Trust dibangun lewat transparansi, bukan lewat janji. Tiga kebiasaan yang membangun kepercayaan:

  1. Tunjukkan refresh time: selalu tampilkan "data terakhir diperbarui: 16 Agu 2026, 06:00" di dashboard. Pengguna bisa menilai sendiri kesegaran datanya.
  2. Tandai data yang belum valid: dashboard dalam tahap eksperimen harus berlabel jelas ("draft", "belum tervalidasi") — jangan menyamar sebagai report resmi.
  3. Jawab "kenapa" dengan cepat: saat angka dilaporkan salah, tanggapi dengan investigasi, bukan defensif. Setiap penyelidikan data adalah investasi trust.

Important

Kepercayaan adalah satu-satunya aset BI yang tidak bisa dibeli dengan tool. Satu angka salah yang dibiarkan tanpa penjelasan lebih mahal daripada seratus dashboard yang benar. Transparansi soal kualitas data — termasuk kekurangannya — justru memperkuat kepercayaan.

Governance: Aturan yang Disepakati

Data governance adalah seperangkat aturan tentang siapa boleh melakukan apa terhadap data. Sebagai BI Analyst, bagian kalian:

  • Definisi metrik terpusat: ditetapkan, disepakati, dan didokumentasikan (episode 12).
  • Ownership jelas: setiap metrik/dashboard punya pemilik yang bertanggung jawab.
  • Proses perubahan: perubahan definisi metrik harus direview — karena berdampak ke semua dashboard.
  • Perencanaan data retention: berapa lama data historis disimpan (juga bagian compliance di episode 19).

Governance tidak harus birokrasi berat — cukup aturan yang jelas, terdokumentasi, dan dipatuhi semua orang.

Praktik: Audit Data Quality Superstore

Jalankan audit rutin untuk Superstore — buat jadwal (mingguan/bulanan) dan simpan hasilnya:

text
Audit Checklist (setiap Senin pagi):
[ ] jumlah baris fact_orders:  12.340 (bandingkan dgn minggu lalu)
[ ] jumlah baris stg_orders == fact_orders?  (tidak ada data hilang di transform)
[ ] NULL di kolom kritis (sales, profit, order_id)?  = 0
[ ] duplikat order_id?  = 0
[ ] margin % dalam rentang wajar (mis. -50% s.d. +80%)?  (cek outlier)
[ ] timestamp terakhir == jam pipeline terakhir?  (data segar)
[ ] dbt test lulus 100%?

Kalau salah satu gagal → temukan penyebabnya sebelum membuka dashboard ke stakeholder, atau tandai dengan jelas di dashboard.

Kesalahan Umum Data Quality

  • Menunggu keluhan untuk cek kualitas: pemeriksaan harus terjadwal, bukan reaktif.
  • Hanya cek not_null: kualitas punya tujuh dimensi; kelengkapan hanyalah satu.
  • Mengabaikan profiling sebelum membangun: dashboard dibangun di atas data yang belum dipahami isinya.
  • Tanpa lineage: saat ada masalah, penyelidikan berhari-hari karena tidak tahu data dari mana.
  • Menyembunyikan masalah: menutup-nutupi data rusak lebih buruk daripada datanya sendiri.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Tujuh dimensi data quality: completeness, accuracy, consistency, timeliness, uniqueness, validity, integrity.
  • Data profiling adalah langkah pertama memahami data sebelum membangun dashboard.
  • Data lineage memungkinkan kalian menelusuri angka hingga ke sumbernya — wajib untuk troubleshooting.
  • Trust dibangun lewat transparansi: refresh time, label draft, dan respons cepat saat angka keliru.
  • Praktik: audit data quality mingguan Superstore siap dijalankan.

Di episode 15 selanjutnya kita akan membahas advanced analytics dalam BI — forecast, clustering, dan anomaly detection sederhana yang bisa kalian jalankan langsung di dashboard. Data kalian sudah bersih dan dipercaya; sekarang saatnya membuatnya lebih pintar. Pastikan tetap semangat!

Belajar BI Analyst - Data Quality & Governance | Belajar BI Analyst