Belajar BI Analyst - LLM & GenAI untuk BI
Episode 22 of 28

Belajar BI Analyst - LLM & GenAI untuk BI

Episode ini membahas LLM dan GenAI dalam BI: text-to-SQL, AI storytelling, dan data copilots — cara kerjanya, batasan & bahaya hallucination, pentingnya semantic layer, serta praktik membangun workflow text-to-SQL yang aman

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Episode 21 membahas AI yang dipasang di dalam tool BI. Episode ini membahas lapisan berikutnya yang lebih dalam: LLM (Large Language Models) dan GenAI — model seperti GPT yang bisa menulis query, merangkum insight, dan bahkan berdialog dengan data kalian. Di 2026, ini bukan lagi percobaan; ini sudah menjadi standar kerja BI.

Mengapa ini penting? Karena text-to-SQL dan data copilots mengubah cara orang berinteraksi dengan data — dari "bermain dengan dashboard" menjadi "bertanya dengan bahasa sehari-hari". Sebagai BI Analyst, kalian harus memahami cara kerja, batasan, dan cara mengamankan teknologi ini agar tidak menjadi sumber angka salah.

Text-to-SQL: Dari Bahasa ke Query

Text-to-SQL menerjemahkan pertanyaan bahasa alami menjadi query SQL:

text
Pertanyaan:
"Berapa 3 region dengan revenue tertinggi bulan lalu?"
 
Query yang dihasilkan:
SELECT region, SUM(sales) AS revenue
FROM fact_orders
WHERE DATE_TRUNC('month', order_date) = DATE_TRUNC('month', CURRENT_DATE - INTERVAL '1 month')
GROUP BY region
ORDER BY revenue DESC
LIMIT 3;

Cara kerjanya: LLM menerima skema database + pertanyaan, lalu menghasilkan SQL yang dijalankan di atas data. Kuncinya ada di konteks: LLM tidak melihat data, ia melihat deskripsi skema — sehingga kualitas konteks (schema description, definisi metrik) menentukan kualitas SQL yang dihasilkan.

Mengapa Semantic Layer Wajib untuk Text-to-SQL

Ini poin paling penting di episode ini: text-to-SQL yang diberi schema mentah akan menghasilkan SQL yang salah konteks. Contoh nyata:

PertanyaanTanpa Semantic LayerDengan Semantic Layer
"Revenue bulan lalu"LLM menebak SUM(sales) dari orders mentahPakai definisi revenue yang sudah jelas
"AOV Q2"Menebak formula (mungkin salah hitung)Menggunakan AOV terdefinisi
"Profit margin per region"Kalkulasi langsung profit/sales (bisa NULL issue)Formula terstandar

Dengan semantic layer (episode 12), LLM memakai definisi yang sudah divalidasi — bukan menebak. Semantic layer adalah otak text-to-SQL yang aman. Tanpa itu, text-to-SQL hanyalah generator query yang berpotensi salah.

Risiko: Hallucination dan SQL yang Salah

Bahaya terbesar LLM: hallucination — menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi salah. Di konteks SQL, bentuknya:

  • Query yang secara sintaks valid tetapi salah logika (mis. lupa filter tanggal).
  • Menebak definisi metrik yang tidak sesuai bisnis.
  • Merujuk kolom yang tidak ada (terutama jika skema berubah dan konteksnya basi).
  • Jawaban terdengar benar tanpa data pendukung.

Mitigasi yang wajib diterapkan:

RisikoMitigasi
SQL salah logikaHuman review / approval sebelum eksekusi
Definisi salahBeri semantic layer sebagai satu-satunya sumber metrik
Skema basiUpdate schema description otomatis saat pipeline berubah
Akurasi tak terjagaTampilkan query SQL + sumber data di setiap jawaban AI

Aturan praktis: text-to-SQL untuk eksplorasi, bukan untuk keputusan besar tanpa review. Dashboard certified tetap harus tervalidasi oleh BI Analyst.

Data Copilots dan AI Storytelling

Data copilot adalah asisten AI yang menempel di alur kerja data — ia bisa menjelaskan angka, membantu debug query, dan menyusun narasi. Tiga kemampuan yang paling berguna:

1. Menjelaskan Dashboard

Pengguna menunjuk satu angka dan bertanya "kenapa ini turun?" — copilot menjawab dengan memeriksa breakdown yang relevan. Ini menurunkan beban BI Analyst untuk pertanyaan penjelasan rutin.

2. Membantu Menulis Query

BI Analyst bertanya "query untuk melihat churn kohort?" — copilot memberi draft awal yang bisa kalian review dan sesuaikan. Ini menghemat waktu, tetapi review tetap wajib — kalian yang bertanggung jawab atas kebenarannya.

3. AI Storytelling

Dari data dashboard, AI menyusun draft narasi: "Revenue kuartal ini naik 9% yang didorong region East dan kategori Technology; kategori Furniture turun 7%..." Draft ini kemudian kalian sempurnakan dengan konteks dan rekomendasi. AI memberikan kerangka; kalian memberikan makna.

Warning

Aturan emas GenAI di BI: AI untuk menghasilkan, manusia untuk memvalidasi. Query, insight, dan narasi hasil AI harus selalu melalui review kalian sebelum keluar ke stakeholder. Kepercayaan yang sudah kalian bangun selama 20 episode bisa hancur oleh satu angka AI yang salah lolos tanpa periksa.

Praktik: Workflow Text-to-SQL yang Aman

Bangun workflow text-to-SQL yang aman untuk tim:

text
Alur aman text-to-SQL:
1. Pertanyaan pengguna masuk (via tool/copilot/chat)
2. LLM menerima: skema + semantic layer + definisi metrik
3. LLM menghasilkan SQL + penjelasan langkah
4. VALIDASI MANUSIA: BI Analyst/analyst review (cepat karena SQL pendek)
   → benar? eksekusi → tampilkan hasil + query
   → salah? perbaiki prompt/konteks → ulang
5. Hasil & query disimpan (audit trail, episode 19)

Dua kebiasaan yang membedakan tim yang sehat dari yang kacau:

  1. Setiap jawaban AI selalu menampilkan query SQL-nya — pembaca bisa memeriksa sendiri. "Jawaban tanpa bukti" tidak pernah diterima.
  2. Prompt library standar: tulis template prompt yang konsisten (selalu sertakan definisi metrik) sehingga outputnya bisa diprediksi dan di-review.

Untuk latihan, coba workflow ini pada Superstore:

text
Latihan:
1. Tulis pertanyaan: "Berapa revenue bulan ini vs bulan lalu per region?"
2. Beri LLM konteks skema fact_orders + definisi revenue (episode 12)
3. Minta SQL yang dihasilkan
4. Bandingkan dengan query SQL kalian di episode 4
5. Temukan perbedaannya: logika? filter? definisi? — catat pelajaran

Latihan ini mengajarkan naluri kritis: kalian akan tahu pola di mana LLM sering salah untuk skema kalian — dan bisa menulis konteks yang lebih baik untuk menghindarinya.

Kesalahan Umum LLM & GenAI di BI

  • Text-to-SQL tanpa review: SQL salah lolos ke keputusan besar.
  • Tanpa semantic layer: LLM menebak definisi metrik — resep angka tidak konsisten.
  • Mempercayai narasi AI tanpa cek: storytelling AI bisa meyakinkan dan salah.
  • Skema basi: konteks tidak diperbarui saat pipeline berubah → hallucination.
  • Menunjukkan hasil tanpa query/ sumber: tidak ada jejak yang bisa diaudit.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Text-to-SQL menerjemahkan bahasa alami jadi SQL; kualitasnya bergantung pada konteks yang diberikan.
  • Semantic layer adalah otak text-to-SQL yang aman — tanpa itu, LLM menebak metrik.
  • Waspadai hallucination: SQL valid tapi salah logika, definisi meleset, referensi kolom keliru.
  • AI menghasilkan, manusia memvalidasi — aturan emas yang tidak bisa ditawar.
  • Praktik: workflow text-to-SQL aman dengan review manusia + audit trail untuk Superstore.

Di episode 23 selanjutnya kita akan membahas advanced visualization — custom visualization, embedded analytics, dan interactive storytelling. Dari AI yang menjawab pertanyaan, kita kembali ke seni menampilkan data dengan cara yang paling menarik dan informatif. Pastikan tetap semangat!