Episode ini membahas fitur stabil terbaru Calico: penyempurnaan v3.31 pada operator dan eBPF, serta v3.32 dengan ClusterNetworkPolicy, observability yang lebih baik, migrasi dari Flannel, dan dukungan VM Debian dan Ubuntu.

Teknologi yang tidak berkembang akan ditinggalkan. Calico secara rutin merilis versi baru, dan sebagai praktisi kalian harus tahu fitur apa saja yang masuk dan apa implikasinya bagi klaster kalian. Episode 20 membedah dua rilis terbaru: v3.31 dan v3.32.
Fokus kita bukan sekadar daftar changelog, tapi fitur yang berdampak pada cara kerja harian: ClusterNetworkPolicy yang akhirnya distandardisasi, observability yang lebih tajam, jalur migrasi dari Flannel, dan dukungan VM yang memperluas cakupan Calico.
Versi v3.31 (rilis akhir 2025) membawa penyempurnaan pada Tigera Operator — termasuk manajemen upgrade yang lebih stabil — dan peningkatan mode eBPF: stabilitas load balancing, dukungan kernel yang lebih baru, dan penanganan koneksi yang lebih baik. Bagi kalian yang berencana mengaktifkan eBPF (episode 17), versi ini menurunkan hambatan.
Rilis ini juga menambahkan dukungan platform yang lebih luas, terutama untuk distribusi Kubernetes di luar mainstream, sehingga Calico semakin mudah dipakai di lingkungan yang beragam.
Selalu pastikan kalian tahu versi mana yang berjalan:
calicoctl version
kubectl get deployment -n tigera-operator tigera-operator -o jsonpath='{.spec.template.spec.containers[0].image}'
kubectl get tigerastatuskubectl get tigerastatus menampilkan versi image setiap komponen Calico yang sedang berjalan.
Fitur paling menonjol di v3.32 adalah ClusterNetworkPolicy — resource cluster-scope yang mengikuti spesifikasi SIG-Network untuk standardisasi policy multi-CNI. Bedanya dengan GlobalNetworkPolicy: bentuknya mengikuti standar yang disepakati komunitas, sehingga policy yang sama bisa dibawa ke CNI lain tanpa banyak penulisan ulang.
apiVersion: projectcalico.org/v3
kind: ClusterNetworkPolicy
metadata:
name: cluster-default-deny
spec:
selector: all()
types:
- Ingress
- Egress
ingress: []
egress: []Resource ini cocok untuk baseline deny yang ingin dibawa ke klaster dengan standardisasi policy yang ketat.
Rilis ini menyempurnakan observability dengan generasi baru komponen bernama Goldmane dan Whisker, yang memperbaiki cara Calico mengumpulkan dan menampilkan flow data. Tujuannya: troubleshooting lintas klaster yang lebih cepat dengan jejak yang lebih lengkap.
Cek komponen observability yang aktif:
kubectl get pods -n calico-system -o wide
kubectl get tigerastatus | grep -iE "goldmane|whisker|log"Banyak klaster memulai dengan Flannel (overlay VXLAN sederhana). v3.32 memperkenalkan flannel-migration-controller yang membantu memindahkan klaster Flannel ke Calico dengan meminimalkan downtime: IP pod tetap, dan pengalihan dataplane terjadi bertahap. Detail teknisnya:
install operator + Calico di sisi -> dataplane ganda sebentar
-> migrasi blok IP Flannel ke IPPool Calico
-> nonaktifkan Flannel -> verifikasi -> selesaiKontroller ini menangani sebagian besar langkah otomatis yang dulu harus dilakukan manual.
Calico kini juga mendukung VM pada distribusi Debian dan Ubuntu secara resmi. Ini berarti workload non-container bisa ikut di-manage oleh network policy Calico — memperluas zero trust (episode 13) melampaui pod.
Ikuti pola rilis: gunakan versi stabil yang sudah berjalan beberapa waktu untuk produksi, dan adopsi rilis terbaru setelah komunitas memvalidasinya. Untuk v3.32, baca release notes resmi di docs.tigera.io sebelum upgrade dari v3.31.
Sebelum upgrade, jalankan pemeriksaan menyeluruh:
calicoctl version
kubectl get crd | grep projectcalico.org | wc -l
kubectl get pods -A | grep -v Running | head
calicoctl node statusSemua node Established, tidak ada pod yang bukan Running, dan versi datastore kompatibel — tiga syarat sebelum upgrade dimulai.
Episode 20 membawa kalian ke tepi perkembangan Calico: v3.31 yang mematangkan operator dan eBPF, serta v3.32 yang menghadirkan ClusterNetworkPolicy, observability Goldmane dan Whisker, migrasi Flannel, dan dukungan VM.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 21 selanjutnya kita membangun arsitektur production-ready — perencanaan IPAM, topologi BGP dengan route reflector, keputusan eBPF versus iptables, desain policy tiers, strategi upgrade, pipeline GitOps, observability, sizing node, dan runbook insiden.