Belajar Cloud Architect - Networking Architecture
Episode 6 of 28

Belajar Cloud Architect - Networking Architecture

Jaringan adalah tulang punggung arsitektur cloud: desain VPC yang salah akan menyebalkan selama bertahun-tahun. Episode ini membahas perencanaan CIDR, multi-AZ & multi-region, segmentasi jaringan, kontrol akses, serta koneksi hybrid ke datacenter on-premise

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah memilih compute (episode 4) dan data (episode 5), kini saatnya menghubungkan semuanya. Networking architecture adalah bagian yang paling sulit diubah setelah dibangun: mengubah CIDR VPC yang sudah terpasang di ratusan resource hampir mustahil. Keputusan jaringan harus benar di awal.

Episode ini membahas desain VPC dan subnet, pola multi-AZ & multi-region, segmentasi dan kontrol akses jaringan, serta cara menghubungkan cloud dengan datacenter on-premise. Fokusnya adalah pola yang berlaku lintas provider — AWS VPC, GCP VPC, dan Azure VNet hanyalah nama berbeda dari konsep yang sama.

Desain VPC dan Subnet

Perencanaan CIDR

Pilihan blok CIDR menentukan kapasitas masa depan. Prinsip: sisakan ruang untuk tumbuh dan hindari tumpang tindih antar-network yang akan di-peer atau dihubungkan.

Skala OrganisasiSaran BlokKapasitas
Kecil (1-2 env)10.0.0.0/16 per env65.536 alamat
Menengah (prod/staging/dev)10.0.0.0/16, 10.1.0.0/16, 10.2.0.0/16Terpisah per env
Enterprise (multi-region)10.x.0.0/16 per region, x unikTidak tumpang tindih

Kesalahan fatal: memakai blok yang sama untuk prod dan staging, lalu mencoba menghubungkannya nanti — address akan bentrok. Rencanakan dari awal seolah semua environment akan saling terhubung.

Subnet: Publik vs Privat

Setiap VPC dipecah menjadi subnet yang dikaitkan ke satu availability zone. Pemisahan paling penting: publik (memiliki route ke Internet Gateway) dan privat (tidak — hanya bisa keluar via NAT/egress gateway).

Desain VPC 10.0.0.0/16 di satu region (2 AZ)
10.0.0.0/16 (VPC)
├─ 10.0.0.0/24  subnet publik  AZ-1  (load balancer, NAT)
├─ 10.0.1.0/24  subnet privat  AZ-1  (aplikasi)
├─ 10.0.2.0/24  subnet privat  AZ-1  (database)
├─ 10.0.3.0/24  subnet publik  AZ-2  (load balancer, NAT)
├─ 10.0.4.0/24  subnet privat  AZ-2  (aplikasi)
└─ 10.0.5.0/24  subnet privat  AZ-2  (database)

Perhatikan polanya: setiap AZ mendapat subnet publik + privat aplikasi + privat database. Dengan begini, satu AZ down tidak melumpuhkan seluruh sistem — fondasi high availability yang akan kita perkaya di episode 8.

Multi-AZ vs Multi-Region

  • Multi-AZ: dua atau lebih availability zone dalam satu region (jarak fisik beberapa kilometer). Melindungi dari kegagalan perangkat keras/datacenter. Wajib untuk workload production.
  • Multi-region: beberapa region (jarak ratusan kilometer). Melindungi dari bencana regional dan mendekatkan aplikasi ke user. Jauh lebih kompleks dan mahal (episode 15).
Hierarki ketahanan jaringan
Satu AZ   ── titik kegagalan tunggal (tidak untuk production)
Multi-AZ  ── standar production (episode 8)
Multi-region ── disaster recovery & latency global (episode 15)

Segmentasi dan Kontrol Akses

Security Group / Firewall Rules

Kontrol akses diterapkan di dua lapis: security group (melekat ke resource, stateful di AWS) dan network ACL/route (level subnet). Prinsip yang selalu dipakai:

  • Least privilege: buka port hanya yang dibutuhkan, hanya dari sumber yang benar.
  • Default deny: mulai dari tertutup, buka satu per satu.
  • Segregasi lapisan: database hanya boleh diakses dari subnet aplikasi, bukan dari internet.
Contoh security group: database hanya dari subnet app
aws ec2 authorize-security-group-ingress \
  --group-id sg-0db \
  --protocol tcp --port 5432 --cidr 10.0.1.0/24

Perhatikan 10.0.1.0/24 — bukan 0.0.0.0/0. Database yang terbuka ke seluruh internet adalah temuan teratas di security audit (kita perdalam di episode 19).

Segmentasi Antar-Environment

Pisahkan environment dengan tegas: prod, staging, dev di VPC berbeda (atau minimal subnet terpisah). Bukan hanya soal keamanan — environment yang tercampur menyebabkan eksperimen dev merusak data produksi.

Koneksi Hybrid (Cloud + On-Premise)

Saat cloud harus terhubung ke datacenter yang sudah ada, ada dua opsi utama:

OpsiKarakterDipakai Untuk
VPN (IPsec)Melalui internet, latency lebih tinggiBackup koneksi, biaya rendah
Direct Connect / Interconnect / ExpressRouteKoneksi fisik privat, latency rendahKoneksi utama, SLA tinggi

Pola yang umum: Direct Connect sebagai primary, VPN sebagai failback. Dengan begitu arsitektur tetap tersedia saat link privat bermasalah. Detail topologi lanjutan — transit gateway, peering — akan dibahas di episode 16 (hybrid & multi-cloud).

Praktik: Merancang Jaringan untuk Workload Baru

Kerangka desain yang bisa langsung dipakai:

  1. Alokasikan blok CIDR yang unik per environment dan region.
  2. Buat subnet publik/privat di minimal 2 AZ per region.
  3. Letakkan load balancer di subnet publik; aplikasi & database di subnet privat.
  4. Terapkan security group default deny; hanya buka port yang dibutuhkan.
  5. Rencanakan koneksi hybrid (Direct Connect + VPN failback) jika ada datacenter.

Dokumentasikan semuanya di diagram (Mermaid/draw.io) dan ADR — jaringan adalah keputusan paling sulit untuk diubah nanti.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Rencanakan CIDR dengan ruang tumbuh; jangan pernah tumpang tindih antar-env.
  • Pisahkan subnet publik/privat di setiap AZ; database harus di subnet privat.
  • Multi-AZ wajib untuk production; multi-region adalah tingkat berikutnya (episode 15).
  • Terapkan least privilege di security group; default deny.
  • Koneksi hybrid: Direct Connect primary + VPN failback.

Di episode 7 selanjutnya kita akan membahas security architecture & zero trust — security by design, defense in depth, model zero trust, dan pemetaan compliance ke CIS/NIST. Sampai jumpa di episode 7!