Episode ini membedah empat model layanan cloud — IaaS, PaaS, FaaS, dan SaaS — lengkap dengan shared responsibility model dan komparasi layanan ekivalen antara AWS, GCP, dan Azure.

Di episode 1, kalian memahami evolusi cloud: setiap era memindahkan satu lapisan tanggung jawab dari kalian ke pihak lain. Episode 2 mengukur seberapa jauh perpindahan itu bisa terjadi — dan itu adalah inti dari model layanan cloud.
Ada satu pertanyaan yang menentukan segalanya: saat kalian memakai layanan cloud, siapa yang bertanggung jawab atas lapisan mana? Jawabannya dirangkum dalam dua konsep yang saling melengkapi: model layanan (seberapa banyak yang disediakan penyedia) dan shared responsibility model (siapa mengamankan apa).
Prinsipnya sederhana: keamanan cloud adalah tanggung jawab bersama antara penyedia dan pelanggan, dengan garis pemisah yang berubah tergantung model layanan.
Analoginya, sewa kantor: pemilik gedung bertanggung jawab atas struktur bangunan, lift, dan keamanan lobi. Kalian bertanggung jawab atas kunci meja, isi lemari, dan siapa yang kalian undang masuk. Kalau lupa mengunci pintu, tidak ada pihak gedung yang bisa menolong.
Peta tanggung jawab berubah mengikuti model layanan:
| Lapisan | IaaS | PaaS | FaaS | SaaS |
|---|---|---|---|---|
| Data & konfigurasi | Pelanggan | Pelanggan | Pelanggan | Pelanggan |
| Aplikasi | Pelanggan | Pelanggan | Pelanggan | Penyedia |
| Runtime & middleware | Pelanggan | Penyedia | Penyedia | Penyedia |
| Sistem operasi | Pelanggan | Penyedia | Penyedia | Penyedia |
| Virtualisasi & hardware | Penyedia | Penyedia | Penyedia | Penyedia |
Semakin kanan modelnya, semakin banyak yang dikelola penyedia — dan semakin sedikit yang bisa kalian kendalikan. Memilih model layanan berarti memilih posisi di atas spektrum ini.
Infrastructure as a Service (IaaS) menyediakan building block paling dasar: virtual machine, storage, dan jaringan, diakses sebagai API. Kalian mengelola semuanya dari sistem operasi ke atas — meng-update kernel, patch security, dan konfigurasi aplikasi.
Contoh nyata: EC2 di AWS, Compute Engine di GCP, Azure Virtual Machines. Kalian seperti menyewa tanah kosong: bebas membangun apa pun, tapi bangunan, keamanan, dan perawatannya urusan kalian.
aws ec2 run-instances \
--image-id ami-0abcdef1234567890 \
--instance-type t3.micro \
--key-name my-keyPerintah aws ec2 run-instances memprovision sebuah VM siap pakai dalam hitungan detik — sesuatu yang di era on-premise butuh berminggu-minggu.
Platform as a Service (PaaS) naik satu tingkat: penyedia mengelola runtime, OS, dan scaling. Kalian cukup deploy kode — platform yang menentukan cara menjalankannya. Update sistem, patching, dan scaling ditangani penyedia.
Contoh: Elastic Beanstalk di AWS, App Engine di GCP, Azure App Service. Ini seperti menyewa dapur katering lengkap dengan peralatannya: kalian cukup fokus memasak resep, perawatan kompor bukan urusan kalian.
Function as a Service (FaaS) atau serverless mengambil konsep PaaS sampai ujung: kalian menulis fungsi, dan platform menjalankannya hanya saat dipanggil. Tidak ada server yang terlihat, tidak ada biaya saat idle — tagihan dihitung per invokasi dan durasi eksekusi.
Contoh: Lambda di AWS, Cloud Functions di GCP, Azure Functions. Seri ini akan membahas serverless secara khusus nanti, tapi intinya di sini: FaaS adalah titik paling ekstrem dari "tidak mengelola infrastruktur".
gcloud functions deploy hello-world \
--runtime python312 \
--trigger-http \
--allow-unauthenticatedgcloud functions deploy mengunggah kode dan langsung mendapatkan URL publik — tanpa satu pun server yang harus kalian kelola.
Software as a Service (SaaS) adalah produk lengkap yang tinggal pakai: aplikasi, data, user management, dan backup semuanya dikelola penyedia. Kalian tidak mengelola apa pun kecuali pengguna dan data kalian.
Contoh paling familiar: Gmail, Microsoft 365, Salesforce. Kalian tidak pernah bertanya "server apa yang menjalankan Gmail" — kalian hanya memakai hasilnya. SaaS menjawab kebutuhan, bukan infrastruktur.
Poin penting untuk seri ini: meski nama layanannya berbeda, ketiga penyedia menawarkan layanan yang secara konseptual sejajar. Kalian bisa memetakan kemampuan satu penyedia ke penyedia lain:
| Kategori | AWS | GCP | Azure |
|---|---|---|---|
| Compute (VM) | EC2 | Compute Engine | Virtual Machines |
| Object storage | S3 | Cloud Storage | Blob Storage |
| Serverless function | Lambda | Cloud Functions | Functions |
| Managed Kubernetes | EKS | GKE | AKS |
| Managed relational DB | RDS | Cloud SQL | SQL Database |
| Load balancer | ALB | Cloud Load Balancing | Load Balancer |
| Identity & access | IAM | IAM | Entra ID + RBAC |
| DNS | Route 53 | Cloud DNS | DNS |
Sekali kalian menguasai konsepnya (misalnya "object storage"), kemampuan itu langsung bisa dipakai di penyedia mana pun — tinggal menerjemahkan nama layanannya. Inilah alasan seri ini membandingkan tiga penyedia sekaligus: konsep dulu, vendor kemudian.
Tidak ada model yang "paling baik" — ada model yang paling cocok dengan konteks:
Important
Prinsip kuncinya: ambil kendali seminimal mungkin. Setiap lapisan yang kalian kelola sendiri adalah lapisan yang harus kalian patch, monitor, dan amankan. Serverless bukan sekadar tren — ini cara mengurangi permukaan tanggung jawab kalian.
Episode 2 adalah peta jalan operasional cloud:
Di episode 3, kita masuk ke lapisan paling penting dari "security IN the cloud": Identity & Access Management (IAM) — bagaimana mengatur siapa yang boleh mengakses apa, dengan perbandingan AWS IAM, GCP IAM, dan Azure Entra ID.