Satu provider itu nyaman tapi rapuh: kebijakan harga berubah, layanan regional berbeda, dan semua telur di satu keranjang. Kalian mempelajari multi-cloud & hybrid — portabilitas arsitektur, Terraform multi-provider, dan strategi yang benar — lalu membangun infrastruktur yang berjalan konsisten di dua cloud sekaligus.

Sejak episode 0, kalian mengerjakan satu provider — keputusan yang tepat untuk belajar. Tapi di industri, pertanyaan "mengapa tidak pakai dua provider?" semakin sering muncul. Ada perusahaan yang menempatkan beban produksi di AWS dan cadangan di GCP; ada yang memakai AWS untuk data di Asia dan Azure untuk layanan Office; ada yang memakai multi-cloud hanya karena tidak mau bergantung pada satu vendor.
Episode 22 membahas multi-cloud & hybrid architecture: apa yang sebenarnya diperoleh (dan dibayar) dari multi-cloud, bagaimana Terraform multi-provider membuat infrastruktur konsisten lintas cloud, dan strategi hybrid yang menggabungkan beberapa cloud serta on-prem. Kalian akan membangun infrastruktur yang berjalan di dua cloud sekaligus dari satu basis kode.
Jujur dulu: multi-cloud bukan default yang harus dipaksakan. Keuntungannya nyata, tapi biayanya juga nyata.
Keuntungan:
Biaya:
Note
Aturan praktis yang dipakai banyak CTO: mulai single-cloud, pindah ke multi-cloud hanya jika ada alasan bisnis yang jelas — bukan karena tren. Tujuan yang masuk akal: DR lintas provider, memakai layanan terbaik tiap provider, atau menghindari ketergantungan total. Tujuan yang keliru: "biar kelihatan modern".
Multi-cloud yang baik adalah multi-cloud yang portabel — kode, konfigurasi, dan data bisa dipindah antar-provider tanpa ditulis ulang. Prinsipnya:
Kisaran realita: aplikasi container + object storage + PostgreSQL bersifat portabel dengan usaha sedang; memakai Amazon Aurora + DynamoDB + Kinesis mengikat kalian ke AWS cukup dalam.
Kekuatan Terraform (episode 7) yang paling terasa di multi-cloud: satu workflow, banyak provider. Ia bisa mengelola resource AWS dan GCP dalam satu state — bahkan membangun konektivitas di antara keduanya.
terraform {
required_providers {
aws = {
source = "hashicorp/aws"
version = "~> 5.0"
}
google = {
source = "hashicorp/google"
version = "~> 5.0"
}
}
}
provider "aws" {
region = "ap-southeast-1"
}
provider "google" {
project = "lab-multicloud"
region = "asia-southeast2"
}Dengan ini, satu terraform apply bisa membuat VM di AWS dan VM di GCP sekaligus:
resource "aws_instance" "web_aws" {
ami = "ami-0a1b2c3d"
instance_type = "t3.micro"
tags = { Name = "web-aws" }
}
resource "google_compute_instance" "web_gcp" {
name = "web-gcp"
machine_type = "e2-micro"
zone = "asia-southeast2-a"
boot_disk {
initialize_params {
image = "debian-cloud/debian-12"
}
}
}Konsistensi ini bukan kebetulan — keduanya memakai pola yang sama (resource, argument, referensi antar-resource) dengan sintaks yang sama. Kalian belajar sekali, dipakai di mana-mana. Ada juga module komunitas yang menstandardisasi satu abstraksi (misal terraform-aws-modules/vpc) ke beberapa provider — atau yang lebih umum, kalian menulis module sendiri yang mengekspresikan "satu aplikasi" lintas cloud.
Hybrid bisa berarti beberapa hal; ketiganya punya bentuk yang berbeda:
| Pola | Bentuk | Contoh nyata |
|---|---|---|
| Cloud + on-prem | Satu jaringan, dua dunia (episode 18) | Data sensitif tetap di datacenter, kompute di cloud |
| Dua cloud aktif | Workload terbagi per fungsi | Analitik di GCP, aplikasi di AWS |
| DR lintas provider | Cadangan di provider kedua | Region utama di Azure, cadangan di AWS |
Untuk cloud + on-prem, konektivitas yang dibangun di episode 18 (VPN/Direct Connect) menjadi fondasinya; untuk dua cloud, site-to-site VPN antar-provider atau Interconnect membuat jaringan keduanya saling melihat. Perlu diingat: trafik antar-provider dikenai egress di kedua sisi — mahal dan berlatensi, sehingga komunikasi antar-cloud harus hemat (pakai queue/streaming yang sudah dibahas di episode 13, bukan panggilan sinkron berlebihan).
Mari bangun versi kecil infrastruktur multi-cloud yang nyata:
aws dan gcloud login, kredensial Terraform tersedia (episode 0, 7).main.tf dengan provider ganda (di atas).terraform plan menampilkan resource di dua cloud, terraform apply menjalankannya, terraform destroy membersihkan keduanya.terraform init
terraform plan # resource AWS + GCP dalam satu plan
terraform apply -auto-approve
terraform state list | sort # daftar semua resource lintas providerPengalaman mengerjakan satu state yang berisi dua cloud inilah yang membedakan kalian dari sekadar "orang yang bisa klik dua dashboard".
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 23 selanjutnya kita akan memasuki topik yang sedang memuncaki setiap roadmap 2026: AI & ML services cloud — managed ML (SageMaker/Vertex AI), AI APIs, dan GPU workloads, lalu men-deploy model di cloud. Sampai jumpa di episode 23!