Belajar Cloud Engineer - Multi-Cloud & Hybrid Architecture
Episode 22 of 28

Belajar Cloud Engineer - Multi-Cloud & Hybrid Architecture

Satu provider itu nyaman tapi rapuh: kebijakan harga berubah, layanan regional berbeda, dan semua telur di satu keranjang. Kalian mempelajari multi-cloud & hybrid — portabilitas arsitektur, Terraform multi-provider, dan strategi yang benar — lalu membangun infrastruktur yang berjalan konsisten di dua cloud sekaligus.

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Sejak episode 0, kalian mengerjakan satu provider — keputusan yang tepat untuk belajar. Tapi di industri, pertanyaan "mengapa tidak pakai dua provider?" semakin sering muncul. Ada perusahaan yang menempatkan beban produksi di AWS dan cadangan di GCP; ada yang memakai AWS untuk data di Asia dan Azure untuk layanan Office; ada yang memakai multi-cloud hanya karena tidak mau bergantung pada satu vendor.

Episode 22 membahas multi-cloud & hybrid architecture: apa yang sebenarnya diperoleh (dan dibayar) dari multi-cloud, bagaimana Terraform multi-provider membuat infrastruktur konsisten lintas cloud, dan strategi hybrid yang menggabungkan beberapa cloud serta on-prem. Kalian akan membangun infrastruktur yang berjalan di dua cloud sekaligus dari satu basis kode.

Mengapa Multi-Cloud (dan Mengapa Tidak)

Jujur dulu: multi-cloud bukan default yang harus dipaksakan. Keuntungannya nyata, tapi biayanya juga nyata.

Keuntungan:

  1. Avoid vendor lock-in — tidak semua kemampuan di semua provider; fleksibilitas negosiasi harga.
  2. Resilience — kegagalan satu provider tidak menjatuhkan semua workload (episode 20 DR lintas region diperluas lintas provider).
  3. Best-of-breed — pakai kekuatan masing-masing: ML di GCP, global reach di AWS, integrasi Microsoft di Azure.

Biaya:

  1. Kompleksitas operasional — dua console, dua IAM, dua model billing, dua SLA.
  2. Jaringan antar-cloud — trafik antar-provider mahal dan berlatensi.
  3. Tim harus menguasai dua ekosistem — kurva belajar ganda.

Note

Aturan praktis yang dipakai banyak CTO: mulai single-cloud, pindah ke multi-cloud hanya jika ada alasan bisnis yang jelas — bukan karena tren. Tujuan yang masuk akal: DR lintas provider, memakai layanan terbaik tiap provider, atau menghindari ketergantungan total. Tujuan yang keliru: "biar kelihatan modern".

Portabilitas: Kunci Multi-Cloud yang Sehat

Multi-cloud yang baik adalah multi-cloud yang portabel — kode, konfigurasi, dan data bisa dipindah antar-provider tanpa ditulis ulang. Prinsipnya:

  1. IaC multi-provider (Terraform/OpenTofu) — infrastruktur diekspresikan sekali, diterjemahkan ke banyak cloud.
  2. Container sebagai unit deploy — aplikasi berjalan identik di EKS, GKE, maupun AKS (episode 10, 12).
  3. Hindari managed service yang mengunci — jangan gantung aplikasi pada fitur yang tidak ada di provider lain (contoh: memakai DynamoDB sambil berencana pindah ke GCP tanpa adaptasi).
  4. Abstraksi lapisan — pisahkan lapisan yang portabel (compute, storage) dari yang tidak (managed AI, proprietary messaging).

Kisaran realita: aplikasi container + object storage + PostgreSQL bersifat portabel dengan usaha sedang; memakai Amazon Aurora + DynamoDB + Kinesis mengikat kalian ke AWS cukup dalam.

Terraform Multi-Provider

Kekuatan Terraform (episode 7) yang paling terasa di multi-cloud: satu workflow, banyak provider. Ia bisa mengelola resource AWS dan GCP dalam satu state — bahkan membangun konektivitas di antara keduanya.

Provider ganda AWS + GCP (main.tf)
terraform {
  required_providers {
    aws = {
      source  = "hashicorp/aws"
      version = "~> 5.0"
    }
    google = {
      source  = "hashicorp/google"
      version = "~> 5.0"
    }
  }
}
 
provider "aws" {
  region = "ap-southeast-1"
}
 
provider "google" {
  project = "lab-multicloud"
  region  = "asia-southeast2"
}

Dengan ini, satu terraform apply bisa membuat VM di AWS dan VM di GCP sekaligus:

Resource identik di dua cloud
resource "aws_instance" "web_aws" {
  ami           = "ami-0a1b2c3d"
  instance_type = "t3.micro"
  tags = { Name = "web-aws" }
}
 
resource "google_compute_instance" "web_gcp" {
  name         = "web-gcp"
  machine_type = "e2-micro"
  zone         = "asia-southeast2-a"
  boot_disk {
    initialize_params {
      image = "debian-cloud/debian-12"
    }
  }
}

Konsistensi ini bukan kebetulan — keduanya memakai pola yang sama (resource, argument, referensi antar-resource) dengan sintaks yang sama. Kalian belajar sekali, dipakai di mana-mana. Ada juga module komunitas yang menstandardisasi satu abstraksi (misal terraform-aws-modules/vpc) ke beberapa provider — atau yang lebih umum, kalian menulis module sendiri yang mengekspresikan "satu aplikasi" lintas cloud.

Strategi Hybrid

Hybrid bisa berarti beberapa hal; ketiganya punya bentuk yang berbeda:

PolaBentukContoh nyata
Cloud + on-premSatu jaringan, dua dunia (episode 18)Data sensitif tetap di datacenter, kompute di cloud
Dua cloud aktifWorkload terbagi per fungsiAnalitik di GCP, aplikasi di AWS
DR lintas providerCadangan di provider keduaRegion utama di Azure, cadangan di AWS

Untuk cloud + on-prem, konektivitas yang dibangun di episode 18 (VPN/Direct Connect) menjadi fondasinya; untuk dua cloud, site-to-site VPN antar-provider atau Interconnect membuat jaringan keduanya saling melihat. Perlu diingat: trafik antar-provider dikenai egress di kedua sisi — mahal dan berlatensi, sehingga komunikasi antar-cloud harus hemat (pakai queue/streaming yang sudah dibahas di episode 13, bukan panggilan sinkron berlebihan).

Praktik: Infrastruktur Lintas Cloud

Mari bangun versi kecil infrastruktur multi-cloud yang nyata:

  1. Siapkan kedua provider — pastikan aws dan gcloud login, kredensial Terraform tersedia (episode 0, 7).
  2. Tulis main.tf dengan provider ganda (di atas).
  3. Buat resource serupa — VM di AWS dan VM di GCP, plus bucket di keduanya.
  4. Kelola state bersama — satu backend (misal S3 atau GCS) untuk kedua provider; ingat remote state episode 7.
  5. Verifikasi: terraform plan menampilkan resource di dua cloud, terraform apply menjalankannya, terraform destroy membersihkan keduanya.
  6. Refleksi: apa yang mudah dipindahkan? Apa yang terasa vendor-specific? Itu peta portabilitas kalian.
Satu workflow, dua cloud
terraform init
terraform plan    # resource AWS + GCP dalam satu plan
terraform apply -auto-approve
terraform state list | sort   # daftar semua resource lintas provider

Pengalaman mengerjakan satu state yang berisi dua cloud inilah yang membedakan kalian dari sekadar "orang yang bisa klik dua dashboard".

Kesalahan Umum (Common Pitfalls)

  1. Multi-cloud tanpa alasan — kompleksitas ganda tanpa manfaat nyata; mulailah single-cloud.
  2. Lapisan aplikasi terikat managed service — memakai fitur eksklusif provider sambil berencana multi-cloud.
  3. State Terraform terpisah-pisah — resource AWS dan GCP tidak saling tahu; satu state/workspace yang rapi.
  4. Mengabaikan biaya egress antar-cloud — trafik antar-provider bikin tagihan membengkak (episode 16).
  5. IAM terpisah tanpa standar — pola akses berbeda di tiap cloud; definisikan satu model konseptual (episode 6, 19).
  6. Menganggap multi-cloud = DR otomatis — DR lintas provider tetap butuh replikasi, runbook, dan drill (episode 20).

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Multi-cloud memberi fleksibilitas dan resilience, tapi dengan biaya kompleksitas — mulai single-cloud, perluas dengan alasan.
  • Portabilitas datang dari IaC, container, dan abstraksi lapisan — bukan dari doa.
  • Terraform multi-provider memungkinkan satu workflow, satu state, dua (atau lebih) cloud.
  • Hybrid mencakup cloud+on-prem, dua cloud aktif, dan DR lintas provider.
  • Ketahui peta portabilitas aplikasi kalian — apa yang mudah dan apa yang mengikat.

Di episode 23 selanjutnya kita akan memasuki topik yang sedang memuncaki setiap roadmap 2026: AI & ML services cloud — managed ML (SageMaker/Vertex AI), AI APIs, dan GPU workloads, lalu men-deploy model di cloud. Sampai jumpa di episode 23!