Membuka fase web security: anatomi HTTP request dan response, session dan cookies, CORS dan CSP, dasar API testing, pandangan atas OWASP Top 10 2025, dan workflow Burp Suite mulai dari intercept repeater sampai intruder untuk pengujian web yang terstruktur

Recon kita sudah cukup: kita tahu service yang berjalan dan kerentanan potensialnya. Sekarang kita masuk fase web security — salah satu area paling produktif dalam karir pentester, karena hampir setiap organisasi modern punya aplikasi web dan API.
Episode ini adalah fondasinya: memahami anatomi HTTP secara mendalam, session & cookies, CORS/CSP, dasar API testing, dan yang paling penting — metodologi. Kalian akan sering mendengar bahwa web security bukan menghafal exploit, melainkan cara berpikir: "bagaimana aplikasi mempercayai input user, dan di mana kepercayaan itu salah tempat?". Metodologi ini menjadi kerangka untuk episode 11-15.
Setiap request HTTP punya struktur yang harus kalian baca seperti membaca cetak biru:
POST /api/login HTTP/1.1
Host: target.com
User-Agent: Mozilla/5.0
Cookie: session=abc123
Content-Type: application/json
{"username":"admin","password":"secret"}Empat elemen kunci: method (apa aksinya), path (apa sumbernya), headers (metadata), dan body (datanya). Perubahan sekecil apa pun di salah satu elemen bisa mengubah perilaku server — dan di sanalah kerentanan biasanya hidup.
HTTP/1.1 200 OK
Content-Type: text/html
Set-Cookie: session=xyz789; HttpOnly
Access-Control-Allow-Origin: *
<html>...</html>Perhatikan header: Set-Cookie membuat session, Access-Control-Allow-Origin mengatur CORS (episode 12), dan status code menentukan hasil. Setiap header bisa menjadi petunjuk miskonfigurasi.
HTTP tidak punya memori — setiap request berdiri sendiri. Cookies memberi status: server mengirim Set-Cookie dengan token, browser mengirimkannya kembali di request berikutnya. Ini juga membawa risiko:
HttpOnly: bisa dibaca JavaScript → target XSS (episode 12).Secure: bisa dikirim lewat HTTP plaintext → penyadapan.Saat testing, periksa atribut cookie sejak awal:
curl -sI http://target.com/loginCORS menentukan apakah browser boleh membaca respons untuk domain lain. Konfigurasi yang terlalu longgar adalah kerentanan:
AMAN : Access-Control-Allow-Origin: https://app.example.com
BERISIKO: Access-Control-Allow-Origin: *
BERISIKO: Access-Control-Allow-Origin: null
BERISIKO: Access-Control-Allow-Origin: https://app.example.com.evil.comPola * atau refleksi origin memungkinkan situs jahat membaca data aplikasi. Kita eksploitasi ini di episode 12.
CSP (Content Security Policy) membatasi sumber yang boleh dimuat browser. Situs tanpa CSP atau dengan unsafe-inline jauh lebih mudah diserang XSS:
Content-Security-Policy: default-src 'self'; script-src 'self'API adalah web tanpa UI — permintaan dan respons langsung dalam JSON/XML. Cara testing API mirip web, dengan tambahan: fokus pada autentikasi (token, API key), authorization (endpoint mana boleh diakses user mana), dan validasi input. Request API yang menarik untuk diperiksa:
curl -s http://target.com/api/v1/users/1Jika endpoint mengembalikan data user lain tanpa cek otorisasi, itu IDOR — topik episode 14. Kebiasaan memeriksa setiap endpoint API secara manual adalah keterampilan yang paling sering membedakan pentester web senior dari junior.
OWASP Top 10 2025 adalah daftar risiko web paling umum. Ini peta jalan fase web security kita:
| Rank | Risiko | Episode |
|---|---|---|
| 1 | Broken Access Control | 14 |
| 2 | Cryptographic Failures | 5 |
| 3 | Injection | 11 |
| 4 | Insecure Design | 2 |
| 5 | Security Misconfiguration | 4, 9 |
| 6 | Vulnerable and Outdated Components | 9 |
| 7 | Identification and Authentication Failures | 14 |
| 8 | Software and Data Integrity Failures | 15 |
| 9 | Security Logging and Monitoring Failures | 2, 16 |
| 10 | Server-Side Request Forgery (SSRF) | 13 |
Note
Perhatikan bahwa posisi #1 di OWASP Top 10 2025 adalah Broken Access Control — bukan injection. Ini mencerminkan realitas: banyak aplikasi modern sudah cukup tahan SQLi, tapi otorisasi sering terlewat. Episode 14 akan menjadi episode paling penting di fase ini.
Burp Suite Community adalah tool paling penting untuk web testing. Alur kerjanya:
Proxy Burp menangkap semua request browser sehingga bisa diinspeksi dan diubah sebelum sampai server:
Browser (proxy 127.0.0.1:8080) -> Burp Intercept -> Target serverRepeater mengirim request berulang dengan modifikasi manual — ideal untuk menguji parameter satu per satu (dasar episode 11-15).
Intruder memfuzz banyak nilai sekaligus — parameter injection, wordlist username/password, dan payload XSS. Di episode 11 kita akan memakai pola ini untuk menguji SQLi.
Tip
Siapkan browser yang terisolasi (Firefox dev profile) yang proxy-nya diarahkan ke Burp. Sebelum testing apa pun, pastikan kalian paham setiap request yang lewat: apa parameternya, dari mana asalnya, dan apa yang bisa dimodifikasi tanpa merusak state aplikasi.
Pada episode 10 ini, kalian telah membangun fondasi metodologi web security.
Inti yang harus dibawa pulang:
HttpOnly, Secure); CORS/CSP yang longgar adalah risiko.Di episode 11 selanjutnya kita membahas injection attacks: SQLi in-band/error-based, blind boolean & time-based, union-based dengan sqlmap, command injection (RCE), dan SSTI, lengkap dengan mitigasinya. Sampai jumpa di episode 11!