Sebelum menjadi DevOps Engineer, kalian wajib menguasai dasar Linux, scripting, networking, dan pola pikir otomasi; di episode ini kalian menyiapkan VM Linux, Docker, Git, akun cloud free tier, dan cluster Kubernetes (kind/minikube), lalu memverifikasi seluruh environment siap dipakai sepanjang series

Selamat datang di series Belajar DevOps! Series ini akan membawa kalian dari nol menjadi DevOps Engineer — peran yang mengotomasi dan mengelola siklus hidup software: CI/CD, infrastruktur, observability, dan keandalan. Total ada 28 episode yang tersusun dalam enam fase, dari fondasi skill sampai production readiness di tahun 2026.
Sebelum menjalankan pipeline pertama, ada skill dasar dan perangkat yang wajib kalian siapkan. Mengapa prasyarat ini penting? Karena DevOps berdiri di atas tiga pilar: otomasi, kolaborasi, dan pengukuran. Kalian akan menulis skrip yang berjalan di server Linux, mengotomasi release lewat Git, membangun image Docker, memprovision infrastruktur cloud, dan mengukur semuanya. Tanpa pijakan ini, setiap episode praktik akan berubah menjadi sesi mencari error yang tidak jelas asalnya.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar terpenuhi, menyiapkan perangkat software, dan memverifikasi environment untuk pertama kali.
DevOps Engineer hidup di terminal. Kalian wajib nyaman dengan shell bash/zsh, navigasi filesystem, management proses, dan management service. Sebagian besar server produksi di dunia adalah Linux — tanpa memahami lapisan ini, kalian tidak akan bisa mendiagnosis mengapa aplikasi tidak mau berjalan.
uname -a
systemctl list-units --type=service --state=running | head -5Otomasi adalah inti DevOps. Bash digunakan untuk task operasional singkat, Python untuk logika yang lebih kompleks. Kalian wajib memahami variabel, loop, kondisi, dan exit code — karena script ini akan kalian bungkus ke dalam pipeline CI mulai episode 5.
Setiap interaksi DevOps melewati jaringan: SSH ke server, HTTP ke API, port untuk service. Kalian wajib memahami IP & subnet (CIDR), perbedaan TCP/UDP dan port, serta konsep DNS. Tools berikut akan menjadi senjata harian:
ip addr
ping -c 3 1.1.1.1
ss -tlnpLebih dari tool, kalian butuh pola pikir: "jika saya mengerjakan sesuatu dua kali, saya harus mengotomasinya". Ditambah kemampuan troubleshooting yang sistematis — membaca log, mengisolasi variabel, dan menguji hipotesis satu per satu hingga akar masalahnya ketemu.
Gunakan distro apa pun (Ubuntu, Debian, Fedora) di laptop atau VM. Jika kalian memakai macOS/Windows, siapkan VM (VirtualBox, KVM, UTM) atau WSL2 — series ini sepenuhnya berbasis perintah Linux.
Docker dipakai mulai episode 7. Install sekarang dan pastikan daemon berjalan:
docker --version
docker run --rm hello-worldVersion control adalah fondasi kolaborasi (dibahas di episode 4). Install dan konfigurasi identitas:
git --version
git config --global user.name "Nama Kalian"
git config --global user.email "email@example.com"Pilih salah satu dari AWS, GCP, atau Azure dan buat akun free tier. Semua praktik cloud di series ini dirancang berjalan di layer gratis. Pastikan CLI-nya sudah terlogin (aws configure, gcloud init, atau az login) karena dipakai mulai episode 9.
Untuk episode 8 dan seterusnya, siapkan cluster lokal. kind paling ringan karena berjalan di atas Docker, minikube lebih lengkap tetapi lebih berat:
curl -Lo ./kind https://kind.sigs.k8s.io/dl/latest/kind-linux-amd64
chmod +x ./kind && sudo mv ./kind /usr/local/bin/kind
kind create clusterkubectl cluster-info
kubectl get nodesNote
Jika RAM kalian terbatas, gunakan kind — ia menjalankan seluruh cluster Kubernetes di dalam container Docker sehingga jauh lebih ringan dibanding minikube. Cluster hanya benar-benar dibutuhkan mulai episode 8; episode 0-7 cukup dengan Docker dan Git.
Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi menyeluruh:
docker --version
git --version
kubectl version --client
terraform version
ansible --versionJika ada perintah yang belum terinstall, lengkapi dulu. Kalian tidak harus menguasai semua tool sekarang — yang penting binary-nya ada dan siap dipakai saat episodenya tiba.
Important
Tidak perlu menghafal semua tool di episode 0. Prinsip just-in-time learning justru dianjurkan: kenali dulu, dalami saat topiknya dibahas. Yang wajib benar-benar dipahami sekarang hanyalah Linux, Git, Docker, dan satu akun cloud.
Rangkuman environment yang sudah kalian siapkan:
docker, git, kubectl, terraform, ansible) bisa dipanggil.Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti sejenak dan lengkapi. 27 episode ke depan akan jauh lebih lancar dengan fondasi yang kuat.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas peran, filosofi, dan sejarah DevOps — dari asal-usulnya yang lahir dari gerakan Agile, hingga framework CALMS dan DORA metrics yang menjadi tolak ukur kinerja tim software. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar DevOps baru saja dimulai!