Episode ini memandu kalian melewati installer teks DragonFlyBSD: pemilihan sets (kern, base, comp, man), konfigurasi network dan swap, lalu partisi disk dengan fdisk, disklabel, dan filesystem HAMMER2 sebagai default serta opsi UFS.

Di episode 2 sebelumnya kalian sudah memahami arsitektur DragonFlyBSD: base system, DPorts, source tree, dan peran tiap komponen. Sekarang teori itu harus menyentuh disk. Episode ini memandu kalian dari boot image instalasi hingga sistem siap digunakan — termasuk keputusan penting soal partisi yang akan menentukan seluruh pengalaman kalian sepanjang series.
Instalasi adalah momen di mana kalian mengambil keputusan struktural: berapa ruang untuk filesystem root, apakah memakai HAMMER2 atau UFS, dan bagaimana susunan mount point. Keputusan ini tidak sulit diubah di kemudian hari — tapi memahami alasannya membuat segalanya jauh lebih tenang.
Setelah boot dari ISO atau USB image, kalian akan melihat menu installer. Pilih opsi untuk masuk ke installer interaktif. Seluruh proses berjalan di terminal — tidak ada GUI — sesuai filosofi Unix: transparan, ringkas, dan bisa diulang. Navigasi dilakukan dengan tombol panah, Enter, dan Tab.
Alur utama installer:
DragonFlyBSD membagi base system menjadi sets — kelompok file yang bisa dipilih. Inilah yang membuat instalasi fleksibel:
| Set | Isi | Rekomendasi |
|---|---|---|
kern | Kernel dan modulnya | Wajib |
base | Userland inti (shell, utilitas, library) | Wajib |
comp | Compiler dan toolchain (cc, make) | Wajib untuk belajar |
man | Manual pages | Sangat disarankan |
games | Permainan bawaan | Opsional |
crypto | Library dan tool crypto (OpenSSL, IPsec) | Disarankan |
Sepanjang series ini kita butuh comp untuk episode 20 (buildworld/buildkernel) dan crypto untuk episode 14 (OpenSSL dan TLS). Jangan menghapus set ini dari pilihan.
Info
Memilih lebih banyak set berarti lebih banyak ruang disk dan waktu instalasi. Untuk server minimalis, kern, base, comp, dan man adalah kombinasi yang pas — persis seperti yang direkomendasikan outline series ini.
Selama instalasi, kalian akan diminta mengonfigurasi interface jaringan dan swap. Jika menggunakan DHCP, cukup pilih opsi DHCP — konfigurasi statis bisa diatur belakangan lewat /etc/rc.conf. Swap disarankan sebesar ukuran RAM atau sedikit lebih besar; DragonFlyBSD juga mengenal swapcache untuk memanfaatkan swap bagi cache file HAMMER2.
Langkah pertama partisi adalah menentukan skema partisi dengan fdisk. DragonFlyBSD mendukung MBR klasik dan GPT modern. Untuk disk modern di atas 2 TB atau ketika kalian ingin banyak partisi, GPT adalah pilihan tepat; MBR tetap didukung untuk kompatibilitas. Di dalam partisi slice tersebut, layout disk diatur lebih lanjut dengan disklabel.
Alur partisi yang umum:
fdisk untuk membuat satu slice yang menempati seluruh disk (atau membagi untuk dual-boot).disklabel untuk membagi slice menjadi partition a, b, dan seterusnya.disklabel bekerja di dalam slice: partition a biasanya untuk root, b untuk swap, dan sisanya untuk filesystem data. Berikut contoh layout yang akan kita gunakan:
| Partition | Fungsi | Filesystem |
|---|---|---|
da0a | Root filesystem | HAMMER2 |
da0b | Swap | swap |
da0c | Data/snapshots | HAMMER2 |
Installer menawarkan layout otomatis yang sudah masuk akal. Untuk pembelajaran, coba juga memahami cara manualnya — karena di episode 8 dan 19 kita akan menambahkan volume HAMMER2 di luar instalasi.
Keputusan filesystem adalah keputusan paling penting di episode ini:
Untuk instalasi, gunakan HAMMER2 untuk root. Contoh pembuatan filesystem HAMMER2 di baris perintah:
newfs_hammer2 -L root /dev/da0aOpsi -L menetapkan label. Ini adalah perintah yang akan menjadi sahabat kalian sepanjang series — kita akan membahas newfs_hammer2 lebih dalam di episode 7 dan 8.
Struktur mount point yang direkomendasikan:
| Mount Point | Partition | Filesystem |
|---|---|---|
/ | da0a | HAMMER2 |
/boot | (di dalam root) | HAMMER2 |
/var | da0c atau partisi terpisah | HAMMER2 |
| swap | da0b | swap |
Pemisahan /var adalah keputusan yang bijak: log dan cache tidak akan memenuhi root filesystem. Setelah mount point tersusun, installer menulis konfigurasi boot dan menyelesaikan proses.
Setelah reboot, login sebagai root dan verifikasi bahwa sistem benar-benar sehat:
uname -a
df -h
mount
sysctl kern.version
pkg -vPerintah df -h akan menampilkan filesystem HAMMER2 kalian, mount menunjukkan opsi mount yang aktif, dan pkg -v memastikan package manager siap dipakai. Jika semua tampil tanpa error, sistem kalian sudah resmi menjadi DragonFlyBSD.
Success
Instalasi selesai adalah checkpoint pertama. Jika kalian terjebak di tengah proses, boot ulang dari ISO dan coba lagi — instalasi teks ini idempotent dan tidak meninggalkan residu yang mengganggu. Seperti biasa, snapshot VM sebelum memulai instalasi adalah kebiasaan yang sangat disarankan.
Di episode 3 ini kalian telah berhasil melewati seluruh proses instalasi: menavigasi installer teks, memilih sets (kern, base, comp, man), mengatur network dan swap, memahami perbedaan fdisk (MBR/GPT) dan disklabel, memilih HAMMER2 sebagai filesystem default (dengan UFS sebagai alternatif), menyusun mount point, hingga memverifikasi sistem dengan df -h dan mount.
Inti yang harus dibawa pulang:
kern, base, comp, man untuk belajar.fdisk untuk slice (MBR/GPT), disklabel untuk partition (a, b, c).newfs_hammer2 -L root /dev/da0a adalah cara memformatnya./var dan swap untuk kenyamanan operasional jangka panjang.uname -a, df -h, dan pkg -v.Di episode 4 selanjutnya kita akan masuk ke dunia aplikasi: package management dengan pkg & DPorts. Kalian akan belajar pkg install, pkg upgrade, pkg search, dan pkg info, lalu memahami DPorts, make install clean, dsynth, serta tradeoff antara binary packages dan build dari source.