Merumuskan cloud strategy tingkat enterprise: kerangka migrasi 6R, mendesain landing zone multi-account, mengelola multi-cloud tanpa biaya ganda, dan menempatkan workload teregulasi BayarKu dalam arsitektur hybrid yang lolos regulator

Setelah di episode 12 ketiga lini Bumi Niaga terhubung lewat API gateway dan event backbone, pertanyaannya berpindah ke fondasi fisik: di mana semua itu berjalan dan ke mana kita membawanya? Episode ini tentang enterprise cloud strategy — pekerjaan yang jauh lebih luas daripada "migrasi ke cloud": keputusan portofolio (workload mana ke mana), desain landing zone, pengelolaan multi-cloud, dan penempatan workload teregulasi dalam model hybrid.
Ingat diagnosis episode 7: Bumi Niaga dalam kondisi multi-cloud by accident — AWS, GCP, dan on-premise lahir dari keputusan lokal, tanpa strategy. Sekarang kita merumuskan strategy-nya dengan alat yang benar.
Standar industri untuk memutuskan nasib tiap aplikasi saat bergerak ke cloud adalah enam R — dan kuncinya, bukan semua aplikasi layak dimigrasi:
| R | Arti | Kapan Dipilih | Contoh Bumi Niaga |
|---|---|---|---|
| Rehost | Lift-and-shift apa adanya | Butuh keluar DC cepat; aplikasi sehat | Aplikasi internal HR ke IaaS |
| Replatform | Upgrade minor di tengah jalan | Manfaat managed service murah | DB Oracle ke PostgreSQL managed |
| Refactor | Ubah arsitektur untuk native cloud | Nilai bisnis besar, health buruk | Monolith checkout BelanjaKu |
| Repurchase | Ganti dengan SaaS | Fungsi komoditas | Email, HRIS, ITSM |
| Retire | Matikan | Tak dipakai | Hasil disposisi TIME ep 6 |
| Retain | Biarkan di tempat | Regulasi, ROI negatif, segera mati | Core ledger BayarKu |
Dua kesalahan eksekusi yang paling mahal. Pertama, rehost massal tanpa analisis: biaya cloud justru naik dibanding DC karena infrastruktur lama direplikasi mentah — lift-and-shift sah untuk kecepatan, tapi harus sadar bahwa optimasi datang belakangan. Kedua, refactor serba-serba: refactor adalah opsi termahal; diajarkan hanya untuk aplikasi Invest dari matriks TIME, sisanya cukup replatform atau rehost.
Latihan portofolio: ambil inventaris episode 6, tempelkan R pada tiap aplikasi, lalu hitung kasar biaya dan durasi tiap R — hasilnya biasanya mengejutkan: separuh anggaran migrasi habis untuk aplikasi bernilai rendah yang seharusnya retire atau repurchase ke SaaS.
Strategy tanpa fondasi menghasilkan cloud kedua yang sama kacau dengan yang pertama. Fondasi modernnya landing zone multi-account (AWS) atau multi-project/folder (GCP):
Anggaran waktu yang realistis: landing zone pertama adalah program 2-3 bulan dengan tim platform kecil — investasi yang membayar dirinya saat workload kesepuluh onboard. Tanpa itu, tiap tim membangun VPC, IAM, dan logging versinya sendiri: itulah biaya sesungguhnya dari "biarkan tiap tim bebas".
Realita: ketiga provider akan tinggal untuk sementara. Strategy yang tepat bukan ilusi "portable everywhere", melainkan manajemen kompleksitas yang disiplin:
Important
Uji keputusan multi-cloud: setiap provider tambahan harus punya justifikasi workload eksplisit dan estimasi biaya kompleksitas (skill ganda, security ganda). Provider tanpa justifikasi adalah kandidat konsolidasi di momen renewal — bukan warisan abadi.
Workload teregulasi fintech adalah kasus hybrid paling menarik. Posisinya bukan "on-premise selamanya" maupun "migrasi total", melainkan segmentasi sadar-regulasi:
Pola yang berlaku umum: data dan komputasi yang disebut regulasi tetap di fasilitas milik/kendali; layer channel dan API publik boleh di cloud untuk elastisitas; komunikasi lewat private interconnect; dan setiap aliran keluar data teregulasi (biasanya agregat/anonim) punya dasar persetujuan compliance yang terdokumentasi. Detail regulasinya kita bongkar di episode 19 — hari ini cukup dipahami bahwa hybrid by design untuk compliance adalah pola sah, berbeda dengan hybrid by accident.
Metrik kesehatan cloud yang layak dilaporkan bulanan: persentase workload di landing zone vs liar, coverage tagging biaya, jumlah akun/proyek tanpa owner, dan utilisasi committed discount. Angka terakhir itu pintu masuk episode FinOps.
| Anti-Pattern | Gejala | Obat |
|---|---|---|
| Replikasi dataset massal lintas provider | Tagihan egress membengkak tiap bulan | Data gravitasi + sinkronisasi lewat event agregat |
| Skill silo per provider | On-call tak bisa saling menggantikan | Standardisasi layer atas (K8s, IaC, OTel) |
| Security model berbeda per cloud | Audit ganda, celah konsistensi policy | IdP tunggal + guardrail seragam di landing zone |
| Tooling native dipakai mentah-mentah | Tiap workload jadi vendor-specific | Abstraksi hanya untuk layer yang berpindah-pindah |
Ilustrasi data gravity dengan angka: dataset klikstream BelanjaKu 40 TB di AWS yang diproses harian oleh cluster analitik di GCP akan membayar egress puluhan ribu dolar per bulan plus latency tambahan — sekadar agar "semua data ada di satu tempat". Aturan praktisnya selalu: compute mengikuti data; kolaborasi lintas lini terjadi lewat event fakta dan agregat (episode 12), bukan replikasi raw.
Kerjakan di ea-lab/case-study/technology/cloud-strategy.md:
Inti yang harus dibawa pulang:
Fondasi beres. Di episode 14 kita naik ke lapisan yang melintasi semuanya: security & compliance architecture — menerjemahkan zero trust ke level enterprise, menyusun security blueprint lintas empat domain, dan membuat compliance menjadi properti desain, bukan audit menyusul. Sampai jumpa di episode 14!