Episode terakhir membandingkan Flannel dengan Calico dan Cilium dari berbagai aspek, merekap perjalanan dari episode 0 sampai 21, menyusun checklist Flannel production-grade, dan melihat masa depan Flannel di ekosistem Kubernetes.

Dua puluh satu episode sudah membedah Flannel dari dalam. Kini saatnya melangkah keluar dan melihat Flannel dari jarak yang lebih jauh: bagaimana dia berdiri di antara Calico dan Cilium, apa saja pelajaran yang bisa dibawa pulang, dan ke mana arahnya di masa depan.
Episode 22, episode terakhir series ini, menyusun perbandingan menyeluruh, merekap journey kalian, memberikan checklist produksi, dan menutup dengan refleksi.
Tiga CNI ini bisa dipetakan ke satu garis: kesederhanaan di satu ujung dan kelengkapan fitur di ujung lainnya. Flannel berada di ujung kesederhanaan: instalasi mudah, operasi sederhana, sumber daya minim. Cilium berada di ujung kelengkapan: eBPF, observability, policy berbasis identitas. Calico berada di tengah: NetworkPolicy matang dengan routing BGP.
| Aspek | Flannel | Calico | Cilium |
|---|---|---|---|
| Instalasi | Sangat mudah | Sedang | Sedang |
| NetworkPolicy | Tidak didukung | Didukung penuh | Didukung kaya |
| Kinerja data plane | Overlay atau host-gw | eBPF atau iptables | eBPF |
| Observability | Dasar | Sedang | Mendalam |
| Sumber daya | Minim | Sedang | Lebih tinggi |
Kriteria keputusan mengikuti kebutuhan nyata. Pilih Flannel jika tujuannya hanya Pod yang saling terhubung dengan operasi paling sederhana. Pilih Calico jika NetworkPolicy adalah syarat dan kalian ingin ekosistem yang matang. Pilih Cilium jika butuh performa eBPF, observability mendalam, atau policy berbasis identitas.
kubectl get pods -A -o wide | grep -E "flannel|calico|ciliun"Output dari kubectl get pods -A memperlihatkan komponen CNI yang sedang berjalan di cluster kalian, sekaligus mengingatkan bahwa pilihan CNI adalah keputusan yang terlihat jelas di cluster.
Perjalanan kalian dimulai dari prasyarat dan setup di episode 0, lalu melintasi sejarah dan arsitektur, backend VXLAN dan host-gw, subnet management, traffic management, integrasi Service, konfigurasi, multi-node, CNI plugins, observability, keamanan, policy, firewall, optimasi MTU, topologi lanjutan, GitOps, troubleshooting, rilis terbaru, sampai arsitektur produksi.
Setiap episode dibangun di atas episode sebelumnya. Konsep lease dari episode 6 menjelaskan sinkronisasi route yang kalian periksa di episode 19. Overhead MTU dari episode 16 menentukan tuning di episode 21. Jaringan antar topik ini bukan kebetulan, melainkan peta yang sengaja disusun.
Gunakan checklist ini sebagai pengingat terakhir:
Verifikasi dengan perintah yang sudah kalian kenal:
kubectl get nodes
kubectl -n kube-flannel rollout status ds/kube-flannel-ds
kubectl get lease -n kube-systemPerintah kubectl get nodes memastikan semua node Ready, dan kubectl -n kube-flannel rollout status memastikan DaemonSet sehat di mana-mana.
Masa depan Flannel kemungkinan tetap pada jalurnya: menjaga kesederhanaan sambil mengikuti evolusi platform. Dukungan IPv6 dual-stack, traffic manager nftables, dan perbaikan keamanan berkelanjutan menunjukkan arah ini. Flannel tidak akan mencoba menjadi Cilium, dan itu justru keunggulannya.
Di ekosistem yang makin kaya, Flannel tetap mengisi peran penting: pintu masuk yang ramah, fondasi yang mudah dipahami, dan data plane yang andal untuk skala menengah. Selama masih ada tim yang lebih memilih kesederhanaan daripada kelengkapan, Flannel akan tetap dipakai.
Yang paling berharga dari series ini bukan hanya Flannel, melainkan cara berpikir tentang jaringan Kubernetes. Konsep subnet, encapsulation, masquerade, dan troubleshooting dengan urutan yang benar tetap berlaku apa pun CNI yang kalian pakai. Pindah ke Calico atau Cilium nanti tidak akan memulai dari nol.
Simpan keputusan arsitektur dan alasan di baliknya: mengapa memilih backend tertentu, mengapa MTU bernilai tertentu, mengapa memakai policy engine tertentu. Keputusan yang terdokumentasi mengubah konfigurasi yang misterius menjadi cerita yang bisa dipahami tim mana pun.
Ilmu jaringan cepat luntur tanpa praktik. Bangun cluster uji, rusakkan jaringannya, lalu perbaiki. Semakin sering kalian mempraktikkan troubleshooting dalam lingkungan yang aman, semakin tenang kalian menghadapi insiden sungguhan di produksi nanti.
Series ini bukan sekadar dibaca sekali. Jadikan setiap episode sebagai referensi yang bisa dibuka ulang: episode 6 saat lease bermasalah, episode 15 saat firewall menutup traffic, episode 19 saat Pod gagal terhubung. Dokumentasi yang dipakai ulang adalah dokumentasi yang hidup.
Episode 22 menutup series ini: perbandingan Flannel, Calico, dan Cilium, rekap perjalanan 21 episode, checklist produksi, dan refleksi tentang masa depan Flannel.
Inti yang harus dibawa pulang:
Perjalanan Belajar Flannel berakhir di sini, tetapi jaringannya terus berjalan. Terapkan semua yang kalian pelajari, dokumentasikan keputusan kalian, dan jangan ragu untuk kembali ke episode mana pun saat cluster kalian membutuhkan penyelamatan. Selamat membangun jaringan Pod yang andal, sederhana, dan bisa kalian pertanggungjawabkan!