Sebelum menyentuh agent pertama, kalian perlu menguasai dasar AI agents dan conversational AI, memahami API, webhooks, dan workflow asinkron, sekaligus menyiapkan tooling seperti Node.js, VS Code, CLI Hermes, dan kredensial LLM provider di environment masing-masing.

Selamat datang di series Belajar Hermes AI Agent! Series ini akan membawa kalian menguasai Hermes AI Agent — runtime agentic modular yang menggabungkan controller, kernel, tools, memory, dan environment — dari fondasi konsep sampai pola production-grade. Total ada 23 episode yang tersusun dari enam fase, dimulai dari pre-requisites hingga production hardening.
Tapi sebelum menulis agent pertama, ada beberapa skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian miliki. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Hermes bukan sekadar pembungkus satu API LLM. Dia adalah agent: sebuah sistem yang menerima input, memutuskan langkah, memanggil tools, lalu mengevaluasi hasilnya — berulang-ulang. Kalau kalian belum paham bagaimana percakapan multi-turn bekerja, atau bagaimana HTTP dan webhook mengalir, agent yang kalian bangun akan terasa seperti kotak hitam yang kadang bekerja dan kadang tidak.
Bayangkan ingin menjadi pilot pesawat tanpa pernah belajar membaca instrument panel. Sehebat apapun mesinnya — dan Hermes adalah mesin yang sangat hebat — tetap sulit menerbangkan pesawat tanpa memahami dasar-dasarnya. Episode 0 ini adalah peta jalannya: kita akan menyiapkan skill dasar, memastikan tooling terinstall, lalu melengkapi kredensial LLM provider yang akan menemani sepanjang series.
AI agent adalah sistem yang mengubah model bahasa menjadi aktor. Model hanya menghasilkan teks; agent menghasilkan tindakan — memanggil fungsi, membaca file, menjalankan perintah, lalu melanjutkan percakapan berdasarkan hasilnya. Perbedaan inilah inti dari seluruh series.
Mulai dari sekarang, biasakan berpikir dalam siklus agent: perceive (membaca input dan konteks), decide (memilih langkah), act (menjalankan tool), dan observe (mengevaluasi hasil). Siklus ini akan kita formalisasikan sebagai lifecycle di episode 2. Untuk episode ini, cukup kenali bahwa percakapan AI bukan satu request satu jawaban, melainkan rangkaian pertukaran di mana agen boleh memanggil tools di tengah jalan.
Hermes memanggil LLM provider lewat HTTP API. Setiap tool call pada dasarnya adalah request API. Pahami bentuk percakapan dasarnya: request berisi method, path, header, dan body; response berisi status code, header, dan body.
| Method | Fungsi di Konteks Agent |
|---|---|
| GET | Membaca data, status, atau health check |
| POST | Mengirim prompt, membuat resource, memicu tool |
| PUT / PATCH | Memperbarui resource seperti config agent |
| DELETE | Menghapus resource |
Kenali juga kelas status code: 2xx sukses, 4xx kesalahan klien (termasuk 429 saat rate limit), dan 5xx kesalahan server. Di episode 14 kita akan menangani 429 dengan retry dan backoff.
Selain request/response sinkron, pahami webhook: mekanisme callback di mana server mengirim HTTP request balik ke klien saat sebuah event terjadi. Di ekosistem Hermes, webhook dipakai misalnya oleh messaging gateway untuk menerima pesan dari Telegram atau Slack, dan oleh scheduler cron untuk mengirim notifikasi hasil pekerjaan. Pahami juga asynchronous workflows: pekerjaan yang tidak langsung selesai — agent menjalankannya, lalu melaporkan status melalui polling atau callback.
Hermes AI Agent menyediakan SDK multi-bahasa. Di series ini kita fokus ke JavaScript/TypeScript, bahasa yang paling mudah dipakai untuk menulis custom action dan tool. Pastikan kalian nyaman dengan konsep dasar: fungsi, object, async/await, dan modul.
export async function getWeather(city: string): Promise<string> {
const url = `https://api.weather.example/v1/forecast?city=${encodeURIComponent(city)}`;
const res = await fetch(url);
const data = await res.json();
return JSON.stringify(data);
}Jangan khawatir jika belum sempurna — contoh di atas adalah fungsi biasa yang nantinya kita daftarkan sebagai tool di episode 2. Yang penting sekarang: kalian nyaman membaca kode TypeScript dan memahami alur async/await untuk operasi jaringan.
Seluruh pekerjaan Hermes adalah kode: agent profile, tools, dan konfigurasi. Maka ia wajib di-version control dengan Git, di-review lewat pull request, dan bisa di-rollback saat bermasalah. Konfigurasi dalam YAML adalah baseline yang ideal untuk di-diff antar versi.
Kemudian environment management: nilai seperti API key dan nama model tidak boleh diketik langsung di kode. Simpan sebagai environment variable di file dot-env yang tidak pernah di-commit, lalu baca lewat environment masing-masing. Terakhir, kuasai basic deployment concepts: memahami perbedaan menjalankan agent di laptop, di server, atau di container — akan kita dalami di fase 4 series ini.
Hermes AI Agent SDK berjalan di atas Node.js. Pastikan Node.js versi LTS terbaru terpasang bersama package manager npm (atau bun jika ingin lebih cepat):
node --version
npm --versionJika belum ada, install dari situs resmi Node.js atau melalui nvm untuk manajemen versi yang fleksibel.
VS Code adalah editor yang paling direkomendasikan untuk series ini. Pasang extensions yang menunjang pekerjaan agen:
Langkah paling penting: siapkan akses ke Hermes AI Agent. Scaffold project resmi bisa dibuat lewat npm:
npm create hermes-agent@latest{:npm} my-agentPerintah itu menghasilkan project berisi CLI, konfigurasi default, dan contoh agent. CLI ini juga menyediakan perintah seperti hermes setup, hermes model, dan hermes doctor untuk setup dan diagnosa.
Selain CLI, kalian butuh akses token ke LLM provider — OpenAI, Anthropic, atau OpenRouter. Token ini dipakai agent untuk memanggil model. Simpan sebagai environment variable:
export OPENAI_API_KEY="sk-..."
export ANTHROPIC_API_KEY="sk-ant-..."Catatan penting: nilai di atas hanya contoh. Key asli bersifat rahasia — simpan di secret manager atau file dot-env, dan jangan pernah di-commit ke git.
Untuk menguji agent dalam lingkungan yang terisolasi dan reproducible, pasang Docker. Hermes mendukung terminal backend berbasis container — kita akan menggunakannya di episode 7 untuk menjalankan tools dengan sandbox. Verifikasi instalasi Docker:
docker --version
docker run --rm hello-worldPerintah kedua mengunduh image hello-world dan menjalankannya — jika muncul pesan konfirmasi, Docker siap dipakai.
Sebelum lanjut, pastikan semua tool inti terinstall dengan menjalankan verifikasi sekaligus:
node --version
npm --version
git --version
docker --version
hermes --versionSemua perintah harus mengembalikan nomor versi, bukan command not found. Jika hermes belum dikenali, jalankan kembali npm create hermes-agent@latest pada project kalian dan ikuti instruksi path yang ditampilkan.
Info
Urutan verifikasi di atas menetapkan baseline: Node.js sebagai runtime SDK, npm sebagai package manager, git untuk version control, Docker untuk sandbox testing, dan CLI Hermes untuk mengelola agent. Jika kelima tool sudah siap, environment kalian siap mengikuti seluruh series.
Di episode 0 ini kalian sudah menyiapkan pijakan untuk seluruh series: memahami dasar AI agents dan conversational AI, HTTP/API, webhook, dan workflow asinkron; memastikan Node.js, VS Code, CLI Hermes, kredensial LLM provider, dan Docker siap di environment kalian.
Inti yang harus dibawa pulang:
npm create hermes-agent@latest.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa memilih Hermes AI Agent — dari peran AI agents dalam aplikasi modern, perbandingan arsitektur agent dengan model-only workflows, hingga keunggulan Hermes: event-driven, plugin extensibility, dan orchestration. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Hermes AI Agent baru saja dimulai!