Episode ini menelusuri evolusi dari chatbot statis menjadi AI agents yang beraksi, membandingkan arsitektur agent dengan model-only workflows, lalu mengupas keunggulan Hermes AI Agent: event-driven, plugin extensibility, dan orchestration yang menyatukan semuanya.

Di episode 0 kalian sudah menyiapkan skill dasar dan tooling: Node.js, VS Code, CLI Hermes, kredensial LLM provider, dan Docker untuk sandbox. Sekarang saatnya memahami kenapa kita repot-repot membangun agen — bukan sekadar memanggil model secara langsung.
Roadmap episode ini: kita akan menelusuri bagaimana AI agents mengambil peran dalam aplikasi modern, membandingkan arsitektur agent dengan model-only workflows, lalu membedah tiga keunggulan utama Hermes AI Agent — event-driven, plugin extensibility, dan orchestration — serta kapan sebaiknya memilih Hermes dan kapan tidak.
Sepuluh tahun lalu, "aplikasi AI" biasanya berarti chatbot yang menjawab FAQ dengan aturan if-else. Lima tahun lalu, menjadi wrapper API LLM: prompt masuk, teks keluar. Keduanya reaktif — menunggu input, memberi output, berhenti.
Aplikasi modern menuntut lebih. Aplikasi butuh sistem yang bisa:
Peran inilah yang ditempati AI agents. Mereka bukan lagi widget chat yang ditempel di pojok aplikasi, melainkan komponen pemrosesan yang setara dengan service backend — dengan satu kelebihan: mereka bisa memutuskan tool mana yang dipakai untuk menyelesaikan tugas. Di perusahaan, agen menangani tiket support, menjalankan laporan berkala, memoderasi konten, dan menganalisis percakapan. Semuanya tanpa kode branching yang ditulis tangan.
Pola paling sederhana adalah model-only: satu request ke LLM, satu jawaban teks. Semua logika di sekitarnya ditulis manual di kode aplikasi.
async function answerQuestion(question: string): Promise<string> {
const response = await llmClient.chat({
messages: [
{ role: "system", content: "Kamu adalah asisten yang ringkas." },
{ role: "user", content: question },
],
});
return response.text;
}Coba perhatikan batasannya. Kalau pertanyaannya "berapa stok produk X?", workflow ini harus tahu lebih dulu cara memanggil endpoint stok, lalu menyisipkan hasilnya ke prompt. Setiap variasi pertanyaan butuh cabang kode baru. Model tidak pernah "mengambil keputusan" — seluruh keputusan ada di tangan developer.
Pada arsitektur agent, model diberikan daftar tools dan kebebasan memilih kapan memanggilnya. Model mengembalikan sebuah tool call; runtime mengeksekusinya; hasilnya dikembalikan ke model; loop berlanjut sampai jawaban final.
const agent = new HermesAgent({ model: "gpt-4o" });
agent.registerTool(getStockLevel);
agent.registerTool(getProductInfo);
const answer = await agent.run(
"Berapa stok produk SKU-123?",
);Perbedaannya fundamental: kode di atas tidak menentukan urutan langkah. Agent yang memutuskan, dari konteks percakapan, bahwa mengecek stok butuh memanggil getStockLevel — lalu menyusun jawaban dari hasilnya. Kebenaran ditentukan oleh model, bukan oleh developer. Itulah mengapa evaluasi dan testing agen (episode 13 dan 19) menjadi bidang tersendiri yang serius.
Hermes dibangun sebagai runtime yang event-driven. Alur eksekusi bukan kode linear yang kaku, melainkan rangkaian event: pesan masuk, turn dimulai, tool dipanggil, tool selesai, pesan keluar. Setiap titik itu memunculkan event yang bisa di-hook oleh aplikasi kalian.
hermes run --profile support --eventsDengan event-driven, kalian bisa mengamati setiap langkah agent secara real-time, menyuntikkan logika di tengah eksekusi (misalnya menolak tool yang berbahaya), atau meneruskan event ke pipeline observability. Ini membedakan Hermes dari SDK agent lain yang memperlakukan eksekusi sebagai fungsi monolitik.
Hermes adalah modular: kernel menyediakan layanan inti, dan hampir semua hal lain — tool, memory provider, context engine, hingga platform messenger — adalah plugin. Tidak perlu fork repository atau menulis ulang runtime untuk menambah kemampuan.
Dengan plugin, tim bisa berbagi modul antar project tanpa saling menyalin kode — kita akan menulis plugin pertama di episode 16.
Keunggulan ketiga adalah orchestration: Hermes bisa mengelola pekerjaan yang jauh lebih kompleks dari satu percakapan. Scheduler cron menjalankan tugas terjadwal; subagent didelegasikan untuk pekerjaan paralel; multi-agent berkoordinasi menyelesaikan satu tujuan besar. Seluruhnya dikendalikan oleh kernel yang sama dengan agent tunggal — tidak ada runtime terpisah.
Ini penting secara praktis: agent yang kalian bangun hari ini untuk chat sederhana bisa tumbuh menjadi orchestrator multi-agent tanpa mengganti fondasi. Episode 10, 14, dan 17 akan memperdalam masing-masing pola.
Sejujurnya, tidak semua masalah butuh agen. Beberapa panduan praktis:
Info
Prinsipnya sederhana: model-only cocok untuk jawaban; agen untuk tindakan; dan Hermes unggul ketika tindakan itu butuh observability, ekstensibilitas, dan orchestration dalam satu runtime yang sama.
Episode ini menempatkan Hermes AI Agent dalam konteks: peran AI agents dalam aplikasi modern yang tidak lagi sekadar berbicara tapi beraksi; perbedaan mendasar arsitektur agent dengan model-only workflows; serta tiga keunggulan Hermes — event-driven, plugin extensibility, dan orchestration.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membongkar konsep dasar dan arsitektur utama Hermes AI Agent — komponen controller, kernel, tools, memory, dan environment; lifecycle agen dari perception, planning, action, hingga reflection; serta integrasi LLM, tool invocation, dan custom action. Siapkan mental kalian, karena ini episode paling teknis di fase awal!