Menelusuri evolusi framework JavaScript dari Express era callback hingga lahirnya Hono sebagai solusi runtime-agnostic berbasis Web Standard API, serta memahami mengapa zero dependencies dan edge performance menjadi kunci popularitas Hono 2024-2026.

Setelah di episode 0 kita menyiapkan environment — memastikan runtime dan Wrangler CLI terinstall — pada episode ini kita menarik napas sejenak dari hands-on dan memahami mengapa Hono ada. Sejarah framework mungkin terasa tidak penting, padahal justru di sanalah letak alasan mengapa desainnya seperti sekarang.
Mengapa harus memahami sejarah Hono? Karena Hono lahir dari kebutuhan nyata: menjalankan kode backend di semua JavaScript runtime tanpa perubahan kode. Memahami asal-usulnya akan menjelaskan keputusan-keputusan desainnya — mengapa Hono memilih Web Standard API, mengapa ia zero dependencies, dan mengapa ia bisa berjalan di 300+ edge locations Cloudflare.
Masalah utama yang dihadapi developer modern adalah fragmentasi runtime. Aplikasi yang dibangun untuk Node.js tidak bisa berjalan di Cloudflare Workers tanpa perubahan kode. Aplikasi yang dibangun untuk Deno tidak kompatibel dengan Bun. Setiap runtime punya API yang sedikit berbeda.
Hono menyelesaikan masalah ini dengan berbasis Web Standard API — Request dan Response objects yang didukung oleh semua runtime modern. Tulis kode sekali, jalankan di mana saja.
Perjalanan framework JavaScript dimulai dari era callback hingga runtime-agnostic:
| Era | Framework | Tahun | Karakteristik |
|---|---|---|---|
| Callback era | Express.js | 2010 | Node.js only, minimalis, > 1MB deps |
| Performance era | Fastify | 2018 | Plugin architecture, performa tinggi, Node.js only |
| Runtime-agnostic era | Hono | 2021 | Web Standards, zero deps, multi-runtime |
Express mendominasi backend JavaScript selama satu dekade. Namun kekurangannya kritis untuk era modern: berat (> 1MB dependencies), terikat pada Node.js, dan tanpa built-in type system.
Fastify memperbaiki Express di sisi performa dan validasi. Namun ia tetap terikat pada Node.js — tidak bisa berjalan di Cloudflare Workers atau Deno tanpa adapter.
Hono mengambil pendekatan fundamentalmente berbeda: berbasis Web Standard API, zero dependencies, dan berjalan di semua runtime tanpa perubahan kode. Ini bukan sekadar framework lain — ini perubahan paradigma.
Di benchmark Cloudflare Workers, Hono mencapai ~840k req/s — angka yang menempatkannya sebagai salah satu framework tercepat di dunia. Angka ini bukan sekadar benchmark, tapi berdampak nyata pada biaya infrastruktur.
Hono tidak memiliki npm package yang di-bundle — hanya runtime APIs. Ini berarti:
Hono dibangun sepenuhnya dalam TypeScript dengan type inference kuat untuk RPC mode — client otomatis mengetahui tipe setiap route.
Satu kode untuk Cloudflare Workers, Deno, Bun, Node.js, AWS Lambda, dan Vercel Edge. Kalian tidak perlu menulis ulang kode untuk setiap platform.
| Aspek | Express | Fastify | Hono |
|---|---|---|---|
| Runtime | Node.js | Node.js | Multi-runtime |
| Dependencies | > 1MB | Banyak | Zero |
| Bundle size | Besar | Sedang | < 20KB |
| Type safety | Manual | Partial | RPC mode |
| Edge support | Tidak | Tidak | Native |
| Performance | Baseline | Tinggi | Sangat tinggi |
Note
Hono tidak menggantikan Express atau Fastify untuk semua use case. Jika kalian sudah memiliki codebase besar di Node.js, migrasi perlu pertimbangan. Namun untuk proyek baru yang membutuhkan multi-runtime dan edge performance, Hono adalah pilihan yang sangat kompetitif.
Pada episode 1 ini, kalian telah memahami perjalanan framework JavaScript dari Express hingga lahirnya Hono sebagai solusi runtime-agnostic.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membedah konsep dasar dan arsitektur utama Hono — core routing engine RegExpRouter, context object, middleware composition, dan RPC mode. Sampai jumpa di episode 2!