Sebelum membangun infrastruktur, kalian perlu menguasai fondasi: Linux, networking dasar, scripting, dan konsep cloud, lalu menyiapkan lab VM, cloud sandbox, Terraform/OpenTofu, serta tools monitoring yang akan dipakai sepanjang series ini

Selamat datang di series Belajar Infrastructure Engineer! Series ini membawa kalian menempuh 28 episode dari calon sysadmin menjadi Infrastructure Engineer yang siap produksi — memahami cara merancang, membangun, dan mengelola fondasi infrastruktur: compute, storage, networking, virtualisasi, container, cloud, hingga reliability.
Episode 0 adalah peta jalan kalian. Infrastructure engineer bekerja di lapisan fondasi: ia mengelola mesin yang menjalankan aplikasi, jaringan yang menghubungkannya, penyimpanan yang menampung datanya, dan otomasi yang membuat semuanya berulang dan terukur. Tanpa fondasi skill yang benar, setiap perbaikan di episode berikutnya akan berubah menjadi tebak-tebakan.
Kita akan memastikan empat skill dasar terpenuhi (Linux, networking, scripting, cloud), lalu menyiapkan perangkat lab dan tools yang akan dipakai sepanjang series. Setelah episode ini selesai, kalian siap melangkah ke episode 1 yang membahas peran, tanggung jawab, dan jalur karir Infrastructure Engineer.
Hampir seluruh infrastruktur modern — server, container, Kubernetes, perangkat jaringan — berjalan di atas Linux. Kalian wajib nyaman dengan CLI: navigasi file, permission chmod/chown, paket manager, dan membaca log dengan journalctl/tail. Latihan singkat:
uname -a
df -h
systemctl status sshdJika tiga perintah di atas terasa asing, selesaikan dulu series Belajar Linux sebelum melanjutkan.
Infrastruktur adalah kumpulan mesin yang saling terhubung. Kalian harus paham IP addressing, subnet mask, routing, dan DNS minimal di level konsep. Periksa jaringan lokal:
ip addr show
ip route show
ping -c 3 1.1.1.1
dig +short google.comKemampuan membaca output ip addr dan ip route adalah keterampilan diagnostik yang akan kalian pakai hampir setiap hari.
Infrastructure engineer mengelola banyak mesin — mustahil dikerjakan manual satu per satu. Kalian butuh Bash untuk otomasi cepat dan setidaknya dasar Python untuk tooling yang lebih kompleks. Contoh dasar yang akan sering muncul:
for host in web-01 web-02 db-01; do
ssh "$host" "uptime"
doneLoop seperti ini adalah bibit dari automation yang nanti kita dalami dengan Ansible di episode 8.
Walau banyak infrastruktur masih on-prem, arah 2026 adalah hybrid & cloud-first. Pahami istilah VM, VPC, subnet, load balancer, object storage, dan IAM di level konsep — bukan hafalan fitur, melainkan peran masing-masing komponen. Kalian tidak perlu hafal semua layanan AWS; yang penting memahami pola: compute terpisah dari network, network terpisah dari storage, semua diatur lewat API.
| No | Tool | Kebutuhan | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1. | Laptop/PC | Wajib | Mesin kerja utama; RAM 8 GB ke atas lebih nyaman |
| 2. | Lab VM | Wajib | Proxmox/KVM atau VirtualBox untuk praktik server lokal |
| 3. | Cloud sandbox | Direkomendasikan | Akun free tier AWS/GCP/Azure untuk episode 12-13 |
| 4. | Terraform/OpenTofu | Wajib | IaC untuk provisioning (episode 8) |
| 5. | Ansible | Wajib | Config management & automation |
| 6. | Tools monitoring | Direkomendasikan | Prometheus + Grafana (episode 9) |
Praktik infrastruktur butuh lebih dari satu mesin. Cara paling murah: buat satu hypervisor dengan beberapa VM. Jika belum punya, Proxmox VE adalah pilihan open-source paling ramah untuk belajar — kita bahas tuntas di episode 6.
grep -c -E "vmx|svm" /proc/cpuinfo
lscpu | grep -i virtualizationJika output lscpu menampilkan VT-x atau AMD-V, hardware kalian siap menjalankan VM.
Siapkan minimal satu akun cloud free tier (AWS/GCP/Azure). Cloud sandbox dibutuhkan mulai episode 12, tetapi mendaftar lebih awal lebih baik karena beberapa layanan butuh verifikasi. Selalu pasang budget alert sebelum mencoba apa pun — infrastruktur cloud yang lupa dimatikan adalah cara termudah membuat tagihan mengejutkan.
Install IaC dan automation tools sejak sekarang:
sudo apt install ansible # Debian/Ubuntu
curl -fsSL https://get.opentofu.org/install-opentofu.sh | sudo sh -s -- --install-method debUntuk monitoring, siapkan Docker di mesin kerja — kita akan menjalankan Prometheus dan Grafana via container di episode 9:
curl -fsSL https://get.docker.com | sh
sudo usermod -aG docker "$USER"
newgrp docker
docker --versionNote
Jangan mencoba menginstall semua tools dalam satu hari. Prioritaskan: lab VM dan dasar Linux dulu, lalu tools IaC, lalu monitoring. Episode-episode awal hanya butuh dua hal itu; sisanya bisa menyusul.
Sebelum lanjut ke episode 1, jalankan verifikasi menyeluruh:
ssh -V
ansible --version
tofu --version
docker --versionSemua perintah harus mencetak versi tanpa error. Buat juga direktori lab untuk menyimpan semua praktik series ini:
mkdir -p ~/infra-lab/{vms,terraform,ansible,scripts}Direktori ini akan menjadi rumah seluruh file konfigurasi dan skrip yang kita buat bersama di episode-episode berikutnya.
Warning
Peringatan keamanan sejak hari pertama: jangan pernah menjalankan praktik pada mesin produksi nyata. Semua latihan series ini dilakukan di lab VM atau cloud sandbox yang bisa dihancurkan tanpa dampak. Infrastructure engineer profesional selalu menguji di lingkungan yang aman.
Rangkuman yang sudah kalian siapkan di episode 0:
~/infra-lab.Jika ada yang belum terpenuhi, berhenti dan lengkapi dulu. Dua puluh tujuh episode ke depan akan jauh lebih lancar dengan pijakan yang kuat.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas peran, tanggung jawab, dan jalur karir Infrastructure Engineer — apa sebenarnya yang dikerjakan profesi ini, bagaimana posisinya di perusahaan 2026, dan skill apa yang membuat kalian menonjol di pasar kerja. Pastikan environment kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Infrastructure Engineer baru saja dimulai!