Belajar Infrastructure Engineer - Hybrid & Multi-Cloud
Episode 13 of 28

Belajar Infrastructure Engineer - Hybrid & Multi-Cloud

Merancang dan mengoperasikan hybrid & multi-cloud: menghubungkan on-prem dengan cloud lewat VPN dan Direct Connect, mengelola identity terfederasi, serta pola migrasi workload antara dua dunia

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
4 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 12 kita menguasai cloud, kini kita menggabungkan dua dunia: hybrid & multi-cloud. Di 2026, ini adalah kenyataan mayoritas perusahaan: data sensitif tetap di data center sendiri, sementara beban elastis dan fitur cloud dipakai di cloud — kadang di dua provider sekaligus.

Mengapa topik ini penting? Karena "pindah semua ke cloud" adalah mimpi yang jarang menjadi kenyataan sempurna. Regulasi, biaya egress, latensi, dan investasi lama memaksa infrastruktur berjalan di dua dunia sekaligus. Kemampuan merancang jembatan antara keduanya — jaringan, identity, dan alur data — adalah keterampilan yang sangat dicari.

Hybrid vs Multi-Cloud

100%
PolaDefinisiKapan Dipakai
HybridOn-prem + minimal satu cloudRegulasi, legacy, data gravity
Multi-cloud≥ 2 cloud providerAnti-lock-in, fitur terbaik tiap provider, DR
Hybrid multi-cloudOn-prem + ≥ 2 cloudPerusahaan besar 2026

Catatan penting: multi-cloud menambah kompleksitas secara eksponensial (identity, network, cost, skill tim). Jangan masuk multi-cloud tanpa alasan yang jelas — satu cloud + on-prem (hybrid) sudah cukup untuk mayoritas perusahaan.

Menghubungkan On-Prem ke Cloud

Jembatan jaringan antara dua dunia adalah fondasi hybrid. Dua opsi utama:

AspekVPNDirect Connect / Interconnect
TransportInternet (tunnel terenkripsi)Koneksi privat khusus
BandwidthTerbatas internetTinggi, stabil
LatencyVariabelKonsisten, lebih rendah
BiayaMurahMahal
Use caseLab, DR ringan, remoteProduksi utama, data besar

Opsi 1: Site-to-Site VPN

Tunnel IPsec antara gateway on-prem dan gateway cloud (VGW di AWS, Cloud VPN di GCP). Cukup untuk beban ringan dan backup:

Pola VPN site-to-site
On-prem Gateway <==IPsec tunnel==> Cloud VPN gateway
    ├── CIDR on-prem: 10.0.0.0/8
    └── CIDR cloud  : 10.200.0.0/16

Opsi 2: Direct Connect / Interconnect

Koneksi privat lewat provider telekomunikasi — tanpa menyentuh internet publik. Untuk data besar, latensi kritis, dan SLA ketat:

Pola Direct Connect
On-prem router --- Colocation (DX) --- Cloud provider

Menggabungkan Keduanya

Praktik produksi: Direct Connect untuk lalu lintas utama, VPN sebagai fallback. Satu jalur untuk produksi, satu untuk cadangan — pola yang sama dengan redundant link di on-prem.

Routing Antara Dua Dunia

Setelah jembatan terbentuk, kalian harus menyebarkan rute agar kedua sisi tahu cara saling menjangkau:

Cek konektivitas lintas dunia
ping -c 3 10.200.1.10        # host cloud dari on-prem
traceroute 10.200.1.10
ip route show                # pastikan rute via gateway VPN

Perencanaan CIDR adalah kunci: jangan pernah memakai range IP yang bertabrakan antara on-prem dan cloud (misal keduanya 10.0.0.0/16) — collision IP adalah mimpi buruk hybrid yang sulit dideteksi. Rencanakan skema IP global sejak awal (contoh: on-prem 10.0.0.0/8, AWS 10.200.0.0/16, GCP 10.100.0.0/16).

Identity Terfederasi

Masalah kedua terbesar hybrid: user on-prem harus bisa mengakses cloud tanpa membuat akun ganda. Solusinya identity federation: satu sumber identity (misal LDAP/AD on-prem — episode 17) dipercaya oleh cloud.

Pola federation identity
User (on-prem LDAP/AD)
   └── SSO / SAML / OIDC
          └── Cloud IAM (AWS IAM / Entra ID / GCP)
                 └── Role dengan hak spesifik

Praktiknya: user login sekali, token SSO dibawa ke cloud, dan cloud menerjemahkannya menjadi permission (role) tertentu. Tidak ada lagi "akun cloud terpisah yang lupa dinonaktifkan".

Aturan yang wajib diikuti: permission di cloud mengikuti prinsip least privilege — federation hanya menyediakan identitas, bukan blank check. Review role berkala sama pentingnya dengan review user.

Pola Migrasi Hybrid

Tidak semua workload harus pindah sekaligus. Pola yang umum:

Lift-and-Shift

Pindahkan VM apa adanya ke cloud (migrate VM → EC2/GCE). Cepat tetapi tidak memanfaatkan fitur cloud — titik awal yang wajar, bukan tujuan akhir.

Re-platform

Pindahkan dengan penyesuaian ringan: VM → managed database, self-hosted LB → managed LB. Sedikit usaha, banyak keuntungan ops.

Re-architect

Redesain untuk cloud-native (container, serverless, managed service). Mahal tetapi hasil terbaik — biasanya bertahap.

100%

Aturan praktis migrasi hybrid:

  1. Data yang harus tinggal di on-prem (regulasi) tetap di sana — aplikasinya yang boleh naik ke cloud.
  2. Migrasi bertahap per aplikasi, bukan big-bang.
  3. Pertahankan koneksi antar dunia: aplikasi cloud tetap bisa mengakses database on-prem via jembatan jaringan (latensi!).
  4. Ukur sebelum & sesudah: biaya, latensi, dan keandalan harus dibandingkan.

Note

Konsep data gravity menentukan arah migrasi: aplikasi cenderung bergerak ke tempat datanya berada, karena memindahkan data mahal dan lambat. Strategi yang cerdas sering dimulai dari memindahkan data dulu, lalu aplikasinya menyusul — bukan sebaliknya.

Observability Lintas Dunia

Hybrid berarti log dan metrics tersebar di dua tempat. Satu dashboard yang menyatukannya adalah kebutuhan, bukan kemewahan:

  • Agent monitoring yang sama dipasang di on-prem dan cloud (Prometheus node_exporter + Grafana).
  • Log di-agregat ke satu tujuan (misal Loki/ELK terpusat).
  • Trace melintasi batas — request masuk dari cloud LB, masuk ke aplikasi on-prem, tetap satu trace.
  • Satu sistem ticketing/alert — tidak ada alert yang "tidak ada yang memantau".

Common Pitfalls Hybrid & Multi-Cloud

  • CIDR bertabrakan: dua dunia memakai IP yang sama — routing jadi kacau.
  • Jembatan tunggal: satu VPN untuk semuanya — putus = seluruh dunia tidak terhubung.
  • Akun duplikat: user on-prem punya akun cloud terpisah yang tidak pernah diaudit.
  • Migrasi big-bang: semua pindah sekaligus — satu kegagalan menjadi bencana total.
  • Multi-cloud tanpa alasan: dua cloud tanpa benefit nyata = dua kali kompleksitas.
  • Mengabaikan latensi lintas dunia: aplikasi cloud mengakses database on-prem untuk setiap request — latensinya bisa membuat aplikasi lebih lambat dari sebelumnya.

Penutup

Pada episode 13 ini kalian telah merancang jembatan antar dunia:

  • Hybrid (on-prem + cloud) dan multi-cloud (2+ provider) dengan trade-off kompleksitasnya.
  • Jembatan jaringan: VPN untuk lab/ringan, Direct Connect untuk produksi, dan keduanya untuk redundancy.
  • Skema CIDR global yang tidak bertabrakan adalah fondasi routing lintas dunia.
  • Identity federation (SSO/SAML/OIDC) membuat satu sumber identity, permission tetap least privilege.
  • Migrasi bertahap: lift-and-shift → re-platform → re-architect, dipandu data gravity.
  • Observability terpusat lintas dunia adalah syarat operasional.

Di episode 14 selanjutnya kita dalami lapisan platform paling penting 2026: Kubernetes infrastructure — cluster design, networking, storage, dan upgrade yang aman di produksi. Sampai jumpa di episode 14!

Belajar Infrastructure Engineer - Hybrid & Multi-Cloud | Belajar Infrastructure Engineer