Membangun infrastruktur untuk AI: memahami perbedaan GPU training dan inference, merancang GPU cluster dan scheduler, menyiapkan storage dan data pipeline, serta menjalankan inference infrastructure yang efisien

Setelah di episode 22 kita mengoptimalkan performa, kini kita masuk ke topik yang mengubah peta infrastruktur 2026: AI infrastructure. AI tidak lagi sekadar "menjalankan model di laptop" — ia menjadi beban kerja produksi yang menuntut perangkat keras khusus (GPU), jaringan berkecepatan tinggi, storage berkapasitas raksasa, dan platform yang terkelola.
Mengapa topik ini penting? Karena AI-ready infrastructure adalah skill premium 2026. Perusahaan berlomba menyediakan GPU untuk training dan inference — dan infra engineer yang bisa merancang, menyediakan, dan mengoperasikan cluster GPU adalah yang paling dicari pasar.
AI punya dua profil beban kerja yang sangat berbeda — jangan mencampurnya:
| Aspek | Training | Inference |
|---|---|---|
| Sifat | Batch, berat, berjam-hari | Online, per request, milidetik-detik |
| GPU | Banyak, bersama-sama | Satu/fewer per request |
| Beban | Compute berat, terus-menerus | Burst, tergantung traffic |
| Failure | Restart dari checkpoint | Retry cepat |
| SLA | "Selesai sebelum tenggat" | Latency p95/p99 |
Konsekuensi arsitektur: training berjalan seperti job batch di cluster besar; inference berjalan seperti layanan online dengan auto-scaling (episode 21).
GPU berbeda dari CPU: ribuan core sederhana untuk komputasi paralel. Metrik penting:
GPU memory : kapasitas per kartu (menentukan ukuran model)
TFLOPS : kecepatan komputasi (FP16/BF16 untuk AI)
HBM : bandwidth memory (bottleneck paling umum)
NVLink/Infiniband : kecepatan interkoneksi antar GPUModel AI modern sering melebihi kapasitas satu GPU → butuh distributed training:
| Skala | Hardware | Contoh |
|---|---|---|
| Inferensi kecil | 1 GPU | Model 7B, layanan ringan |
| Training model sedang | 1 node, 4-8 GPU | Fine-tuning, model 13-70B |
| Training model besar | Cluster banyak node | Model 100B+, foundation model |
| Fine-tune | 1-4 GPU | LoRA/QLoRA, adaptasi model |
Distributed training bergantung pada kecepatan komunikasi antar GPU — jika terlalu lambat, GPU menghabiskan waktu menunggu. Standar industri: InfiniBand atau RoCE (RDMA over Ethernet). Jaringan biasa (1GbE/10GbE) tidak cukup untuk training skala besar.
Dataset AI sangat besar (terabyte-petabyte). Pola yang benar:
Object storage (dataset mentah, arsip)
→ high-throughput storage (dataset terproses)
→ scratch SSD lokal per node (epoch cache)Dataset harus tersedia lebih cepat dari GPU bisa mengkonsumsinya — kalau tidak, GPU menganggur menunggu data. Ini bottleneck yang paling sering dilupakan.
Job training dijadwalkan dengan tool khusus: Kueue (Kubernetes), Volcano, Slurm (klasik HPC), atau RunAI. Konsep inti:
GPU node pool (terlabel) → GPU requests (k8s.device.nvidia.com/gpu: 8)
Job meminta 8 GPU → scheduler menempatkan ke 1 node (atau multi-node)
Queue: job besar mengantre, job kecil lolos di sela-selaScheduling yang benar mencegah: GPU tidak terpakai (job menunggu tanpa perlu) dan GPU terfragmentasi (sisa-sisa yang tidak bisa dipakai siapa pun).
apiVersion: apps/v1
kind: Deployment
metadata:
name: inference
spec:
replicas: 2
selector:
matchLabels:
app: inference
template:
metadata:
labels:
app: inference
spec:
containers:
- name: model
image: registry.lab.local/llm-api:v1.4.2
resources:
limits:
nvidia.com/gpu: "1"Catatan penting: nvidia.com/gpu tidak berfungsi tanpa device plugin (misal NVIDIA device plugin) dan GPU operator yang mengelola driver di node.
Inference adalah layanan online — desainnya mengikuti pola HA & scaling (episode 21), ditambah spesifisitas AI:
GPU idle → satukan beberapa model di satu GPU (multi-tenant serving)
GPU penuh → tambah GPU/replika (auto-scaling dari metrik GPU)
Antrean panjang → skala naik (queue length adalah sinyal terbaik)Ukuran GPU untuk inference: pilih GPU berdasarkan ukuran model dan target latency — bukan selalu GPU terbesar. Model kecil di GPU kecil jauh lebih hemat biaya.
RAG (Retrieval-Augmented Generation) membutuhkan penyimpanan vektor — representasi numerik dokumen:
Dokumen → chunking → embedding (vector) → vector DB
Query → embedding → pencarian similarity → konteks → modelVector database populer: Qdrant, Weaviate, pgvector (di PostgreSQL), Milvus. Pilihan tergantung skala dan kebutuhan filter metadata.
Peran infra engineer: menyediakan pipeline yang reproducible dan terpantau — data berubah, pipeline pecah, kualitas model turun tanpa disadari.
Metrik standar (episode 9) belum cukup untuk AI:
GPU:
- GPU utilization (%) — target tinggi saat training
- GPU memory usage
- GPU temperature (throttling kalau panas)
- NVLink/IB utilization (bottleneck komunikasi)
Model/inference:
- Time-to-first-token (TTFT)
- Tokens per second (throughput)
- Queue length inference
- p95/p99 latency inference
- Error rate (timeout, overload)Alat pemantau GPU: DCGM exporter (NVIDIA) → Prometheus → Grafana. Tanpa ini, cluster GPU berjalan buta.
Warning
GPU sangat peka terhadap kondisi fisik. Thermal throttling — GPU yang terlalu panas menurunkan performa otomatis — adalah penyebab "training tiba-tiba melambat" yang paling sering diabaikan. Pantau suhu dan pendinginan; jangan penuhi rack tanpa aliran udara yang benar.
Pada episode 23 ini kalian telah membangun infrastruktur AI:
Di episode 24 selanjutnya kita menjaga biaya tetap waras: cost optimization infra — FinOps, rightsizing, dan tagging. Sampai jumpa di episode 24!